Seputar Wayang

Pertunjukan wayang kulit pada awalnya adalah pertunjukan bayangan. Penonton hanya melihat boneka wayang yang dimainkan dalang. Istilah bayangan itu lama kelamaan menjadi wayang. Hal demikian dikemukaan oleh Hazeu, bahwa kata wayang dalam bahasa jawa berarti bayangan. Bayangan itu dinentuk oleh lampu blencong yang selalu bergerak, maka banyangan tidak tetap, lalu lalang, samar-samar dan remang-remang. Oleh karena itu wayang kulit yang menghasilkan bayangan (wayangan) dinamakan wayang (1979:50-51).

Wayang dalam pergelaranya mengambil ceritera Mahabarata dan Ramayana, meski kemudian berkembang ke Ceritera Carangan, Babad dan karangan. Wayang kulit purwa sesuai namanya terbuat dari bahan kulit. Di beberapa jenis wayang ada yang terbuart dari kayu, kulit kayu, kertas, rumput, kaca, kanvas dan sebagainnya.

Pembuatan boneka wayang kulit menurut Hazeu yang baik adalah dari bahan kulit Kerbau dan lebih bagus kerbau muda. Sebab kerbau muda kulitnya tidak “getas” tipis dan bening, sedangkan kerbau tua terlalu tebal, banyak lemak (berminyak) yang akan memerlukan waktu sedikitnya 3 Tahun untuk bisa benar-benar kering sehingga cat dan prada bisa menempel tahan lama.

Menurut kitab pedalangan yang secara umum dipakai masyarakat jawa, bahwa yang menerangkan wayang kulit purwa terbuat dari kulit semenjak jaman Raden Patah bertahta di Demak, akan tetapi boneka wayang pada waktu itu belum dipahat, hanya ditaburi “bubukan” (serbuk) tulang, kemudian diolesi potlot warna hitam (belum ada pewarnaan). Wayang Raksasa bermata dua, sedang wayang yang lain bermata satu. Wayang-wayang tersebut tangannya masih menyatu dengan badanya, namun sudah diberi “gapit” (Tangkai untuk memegang wayang) .

Ketika R. Trenggono bertahta di Demak, ia membuat wayang dengan cara di “bedah” bagian wajahnya. Sinuwun Ratu Tunggul sebagai Wakil Sultan Demak, membuat wayang ukurannya lebih kecil dari yang dibuat Raja demak. Wayang wanita rambutnya diurai, memakai kalung, jamang, dan wayang dewa, raksasa dan kera masih memakai cawat. Wayang tersebut dinamakan wayang kidang kecana.

Pada jaman Raden Jaka Tingkir bertahta di Demak bergelar Sultan Hadiwijaya, membuat wayang dengan buasana dimiripkan pakaian raja, kesatriya dan para pejabat negara. Wayang-wayang tersebut memakai celana atau tanpa celana, sesuai dengan derajat kepangkatan dan kepantasan masing-masing. Raksasa dan kera memakai cawat dan bermata satu. Para Dewa masih seperti arca, tanpa memakai busana. Sedangkan pada wayang wanita rambutnya “gendhong”. Semua wayang tangannya masih menyatu dengan badan.

Pada jaman Panembahan Senopati bertahta di Mataram, membuat wayang purwa tetapi masih berdasarkan pada jaman Pajang dan bentuk wanda mulai dibuat, misalnya Arjuna Wanda Jimat, Bima wanda Mimis, Baladewa Wanda geger. Semua wayang tangannya masih menyatu dengan badan.

Susuhunan Prabu HAnyakrakusuma Seda Krayak bertahta di Mataram, membuat wayang berukuran kidang kencanan, sedangkan peralatan senjata ditambah yaitu; keris, panah dan sebagaiinya. Mulai Hanyakrawati Seda Krapyak inilah tangan wayang mulai dipisahkan dan disambung (dibuatkan engsel/sendi) sehinga dapat digerakan. (Hazeu 1979:37-40).

Dalam keterangan selanjutnya Haezu mengatakan, bahwa wayang kulti purwa dibuat dari bahan kulit sejak abad XI, seperti yang termuat dalam kitab Arjuna Wiwaha jama Airlangga. Dalam kitab tersebut diceritakan orang menonton pergelaran menangis, heran dan kagumn serta prihatin hatinya, meskipun sudah tahu bahwa yang dilihat itu hanyalah kulit yang dipahat menyerupai bentuk manusia, (1779:41).

Dengan demikian terdapat dua keterangan tentang awal mula bahan wayang kulit purwa terbuat dari kulit. Pertama pada jaman Airlangga dan yang kedua pada jaman Demak. Pada jaman Airlangga hanya memuat keterangan bahwa pergelaran wayang kulit boneka wayangnya terbuat dari kulit yang diukir, belum menjelaskan proses pembuatannya. Sedangkan pembuatan wayang kulit purwa pada jaman Demak dijelaskan secara rinci. Berawal dari boneka wayang yang berasal dari tangan wayang yang masih menjadi satu dengan badan sampai pada pemisahan sehingga dapat digerakan. Pembuatan wayang pada jaman Demak dalam perjalanannya berlanjut ke Jaman Mataram, Kartasura hingga berkembang sampai jaman penjajahan Belanda, jaman Kemerdekaan, Ordelama, Orde Baru, Reformasi dan hingga saat ini dengan berbagai macam wayang inovasi yang muncul. Wayang itu antara lain, wayang Perjuangan, wayang suluh, wayang wahyu, wayang Sadat, wayang kancil, wayang robot, wayang planet, hingga wayang Rai Wong. (muka manusia).

Ditinjau dari bentuk bangunnya wayang kulit dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain:

1. Wayang Kidang kencana; boneka wayang berukuran sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, sesuai dengan kebutuhan untuk mendalang (wayang pedalangan).
2. Wayang Ageng; yaitu boneka wayang yang berukuran besar, terutama anggota badannya di bagian lambung dan kaki melebihi wayang biasa, wayang ini disebut wayang jujudan.
3. Wayang kaper;yaitu wayang yang berukuran lebih kecil dari pada wayang biasa.
4. Wayang Kateb;yaitu wayang yang ukuran kakinya terlalku panjang tidak seimbang dengan badannya (Seno Sastromidjojo 1964:26).

Pada perkembangannya bentuk bangun wayang kulit ini mengalami perkembangan bahkan pergeseran dari yang tradisi menjadi kreasi baru. Pada jaman Keraton Surakarta masih berjaya dibuat wayang dalam ukuran yang sangat besar yang kemudian diberi nama Kyai Kadung, hal ini yang mungkin mengilhami para dalang khususnya Surakarta untuk membuat wayang dengan ukuran lebih besar lagi. Misalnya Alm Ki Mulyanto mangkudarsono dari Sragen Jawa tengah membuat Raksasa dengan ukuran 2 meter, dengan bahan 1 lembar kulit kerbau besar dan masih harus disambung lagi. Karya ini yang kemudian ditiru oleh Dalang Muda lainnya termasuk Ki Entus dari Tegal, Ki Purbo Asmoro Surakarta, Ki Sudirman Sragen dalan masih banyak lagi.

Ki Entus Susumono dari Tegal bahkan telah banyak membuat kreasi wayang kulit ini, mulai dari wayang planet, wayang tokoh kartun seperti superman, batman, satriya baja hitam, robot, dinosaurus, dan wayang Rai- Wong (bermuka orang), tokoh Jeos Walker Bush, Sadham Husain, sampai pada tokoh-tokoh pejabat pemerintah. Ki Entus juga menggabungkan wayang gagrak Cirebonan dengan Wayang Gagrak Surakarta (bentuk bagian atas wayang cirebon dan bawah Surakarta).

Penambahan tokoh wayang dalam pergelaran wayang kulit juga semakin marak, misalnya dengan ditambahkanya berbagai boneka wayang dari tokoh polisi, Helikopter, motor ambulan, barisan Tentara, Pemain Drum band, sampai tokoh Mbah Marijan.

Pergelaran Wayang kulit sendiri merupakan simbolik dunia makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos adalah dunia tempat peristiwa kehidupan manusia digelar, mulai dari kelahiran, pernikahan, pemberontakan, pembangunan dan sebagainnya.

Di dalam pergelaran wayang kulit peristiwa kehidupan seperti itu dimanifestasikan dalam lakon, misalya;

1. Kelahiran : Lakon Gatutkaca lahir
2. Pernikahan: Rabine Premadi
3. Pemberontakan : lakon Kangsa Adu Jago.
4. Pembangunan : Lakon Mbangun Candi saptaharga dsb.
Sedangkan mikrokosmos adalah dunia yang berada di dalam diri manusia yang berupa nafsu-nafsu baik dan jahat. Di dalam pergelaran wayang kulit dilambangkan peperangan antara satriya dan raksasa dalam adegan perang kembang, lakon Dewa Ruci dan Ciptoning yang melukiskan pencarian kesempurnaan hidup.

Sebuah pertunjukan wayang kulit terdiri dari bebrapa komponen yang satu sama lainnya saling mendukung. Komponen- komponen itu berupa perangkat keras dan lunak. perangkat keras meliputi semua peralatan pendukung pergelaran seperti; gamelan, wayang. layar, sounsistem, kotak, keprak, cempolo, sounsistem dsb. Sedangkan perangkat lunak lebih kepada SDMnya seperti Dalang, nayaga dan pesinden.

Boneka wayang yanng diatur berjajar pada kanan -kiri dalang dinamakan simpingngan yang juga salah satu unsur pergelaran wayang kulit.Yang ditata sedemikian rupa. Keberadaan simpingan dalam wayang mempunyai beberapa fungsi antara lain:

1. Simpingan sebagai hiasan (pajangan) agar bisa dinikmati oleh penonton.
2. Untuk mempermudah dalang dalam mencari dan mengambil wayang
3. Sebagai tanda akan adanya pergelaran wayang kulit.
4. Simpingan untuk menunjukan kualitas dan kuantitas wayang.
5. Simpingan mempunyai makna simbolik bagi masyarakat pendukungnya.

Pada jaman dulu simpingan hanya terdiri dari puluhan wayang. Karena memang jumlah wayang satu kotak berkisar antara 180-250 wayang. tetapi sekarang terutama dikota-kota besar, jumlah simpingan sangat banyak antara 250 -500 wayang. Hal ini karena tuntutan pasar dan biasanya pergelaran di kota besar ditempatkan pada lapangan terbuka. Sehingga diperlukan penataan simpingan yang panjang.

Pergelaran wayang kulit purwa dengan Dalang-dalang Kondang di wilayah Jakarta semakin sulit di temukan. Untuk itu segenap penggemar/penonton wayang kulit di Jakarta dapat segera terobati dengan kehadiran Ki Purbo Asmoro.

Dalang Kondang dari Solo yang telah melanglang buana ini, akan menggebrak Jakarta dengan sanggit-sangitnya yang menggigit, tepatnya Tanggal : 31 Maret 2007 di halaman Radio Swara Jakarta, Jalan Bangka Raya no 2, Gedung AKA, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rugi jika anda melewatkannya begitu saja.

Dalam pergelaran tersebut Ki Purbo Asmoro akan menggelar Lakon “Sumilake Pedhut Ngastino” yang mengisahkan seputar Duryudana Gugur hingga Aswatama Nglandak. Cerita ini secara singkat akan mengungkapkan jatuhnya kekuasaan Hastina dengan Seorang Rajanya yang congkak bernama Duryudana, serta usaha sisa-sisa laskar korawa untuk balas dendam seusai kematian Duryudana. Aswatama putera Maharsi Durna begitu mendengar kekalahan Korawa tersirat dalam benaknya untuk memenuhi keinginannya yang terpendam, termasuk memiliki kemolekan tubuh Banuwati. Ia juga berusaha menggagalkan keberlanjutan pemerintahan kerajaan Hastina yang sudah jatuh ke tangan Pandawa dengan mencoba membunuh bayi calon Raja Hastina bernama Parikesit.

Pergelaran ini bersifat GRATIS, terselenggara atas kerjasama sanggar “Dwidjo Laras” Pimpinan Ki Wakidi Dwidjomartono dan prakarsa Kitsie Emerson bekerja sama dengan Sanggar “Purbo Laras” Pimpinan Bapak Widodo Purbo Kusumo. Pergelaran ini juga disiarkan secara langsung oleh Radio Swara Jakarta yang beroperasi pada gelombang AM 1494 MHZ. (tri)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: