Sugriwa – Subali, Anak Tanggung Yang Kena Narkotik

Syahdan ; seorang pendeta waskita bernama Resi Gotama beristerikan seorang bidadari bernama Batari Indradi. Walaupun di gunung tak ada beauty salon, namun kecantikan dan kegenitannya membuat orang yang melihatnya terpaksa menelan ludah. Kalau ia di sini pasti dipilih menjadi nomor “wahid”, sebagai wanita berbusana indah, apa lagi kalau ikut kontes ratu-ratuan ayu. Tetapi sayang, suami selalu sibuk kerja lembur dalam kepanditaannya, terus menekung, sampai ia lupa bahwa isterinya yang cantik berada di rumah seorang diri.

Dalam kekosongan inilah, dewa Matahari tergiur oleh kecantikannya, sehingga melakukan intervensi dengan memberi kenang-kenangan berupa Cupu Manik Astagina, yaitu bola dunia yang gemerlapan sebagai wadah hidup dan segala kehidupan. Namun betapapun rapat rahasia tersebut disimpan, akhirnya toh “konangan”. Saking marahnya, Indradi dikutuknya menjadi batu. Bahkan pensil bibir, pulas alis, bulu mata, kutek ramuan obat tradisi disebar keluar rumah. Pendek kata “brokenhome”. Sedang ketiga anaknya yang bernama Guwarsi alias Subali, Guwarsa alias Sugriwa dan Anjani akhirnya diusir juga dari rumah sambil bersabda:

“Siapa yang menemukan bola ajaib yang saya lempar ini, akan menjadi pemiliknya.”

Kemudian ketiga anaknya itu lari tunggang-langgang mengejar untuk mendapatkannya. Bola rahasia jatuh di tanah pangkuan ibu pertiwi berubah menjadi sebuah telaga putih yang kemudian disebut Telaga Seta – Nirmala.

Guwarsa dan Guwarsi segera melompat ke dalam telaga, sedang Anjani menunggu di tepi telaga sambil mencuci kaki dan mukanya. Karena hausnya oleh panas terik matahari, mereka bertiga agaknya merasa nyaman nikmat menyenyam sejuk dan segarnya air Telaga Seta, seolah-oleh terbang rasanya, seperti manusia terkena suntikan narkotik. Namun akibatnya fatal, mereka berubah menjadi kera, sampai tidak mengenal kepada dirinya sendiri, apalagi kepada saudaranya.

Dunia Psikiatri menamakan kasus ini sebagai “Bapak selalu kerja lembur, ibu menyibuk diri melulu, anak kehilangan kepribadian dan keidentitasannya”. Dengan tersayat dan rasa pilu mereka menangis tersedu-sedu menyesali apa yang telah terjadi.

Kian lama kian menyayat hati tangisnya. Untung dewa merasa iba kepada mereka, maka untuk kesembuhannya, oleh dewa mereka dikarantina dalam hutan. Sugriwa harus bertapa hidup meniru kijang, berjalan merangkak dan makan rerumputan. Subali meniru kelelawar, siang hari bergantung dipohon, kaki di atas dan kepada di bawah. Sedang Anjani menjalani hidup seperti katak, dengan telanjang merendam diri ke dalam air.

Hanya dengan pengorbanan yang luar biasa itulah, mereka akan dapat hidup kembali sebagai manusia biasa. Bahkan narpati Sugriwa kelak dapat menjadi Panglima perang yang mampu melakukan pendaratan amphibi di pantai Pancawati, yang tak kalah besarnya dengan pendaratan di pulau Ivojima dan di pantai Normandia pada tahun 1944.

Dari kisah Sugriwa-Subali ini dapat ditarik suatu pelajaran bahwa:

1. Bagi manusia yang akan olah tapa hendaknya janganlah setengah-setengah. Tetapi harus benar-benar dihayati dengan “cegah dahar lawan guling” dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mencegah makan dan nafsu syahwat. Cara memusnahkan nafsu-nafsu tersebut dalam cerita ini digambarkan Resi Gotama mengutuk Batari Indradi menjadi batu, sehingga Resi Gotama benar-benar seorang diri dan bebas dari segala nafsu keduniawian.

2. Seorang isteri yang melakukan perbuatan/menerima “cupu manik” dari orang lain akan berakibat fatal. Bahkan anak-anaknya yang tidak bersalahpun ikut menanggung akibatnya. Dalam cerita ini digambarkan Sugriwa Subali diusir dan tidak diakui sebagai anaknya Gotama. Pendek kata, keretakan rumah tangga dapat berakibat fatal bagi anak-anaknya.

3. Anak/orang yang telah tenggelam dalam kebudayaan asing yang dianggapnya dapat menikmati hidupnya, kalau tidak waspada juga akan berakibat fatal. ia akan lupa terhadap sesama bangsanya bahkan lupa terhadap dirinya sendiri. Pendek kata akan kehilangan identitas dan kepribadiannya.

IR SRI MULYONO

BUANA MINGGU, 29 FEBRUARI 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: