Sumantri dan Sukasrana Lambang Jiwa dan Raga

Pikiran Pembaca:

Tertarik dengan uraian bapak Sri Mulyono, Herdalang dan Bu D, termuat dalam Berita Buana akhir-akhir ini, maka perkenankanlah kami mengemukakan uraian mengenai hal tersebut diatas dari sudut lain.

Dilihat dengan kacamata “ilmu rasa” dalam dunia pewayangan tak sedikit mengandung ajaran-ajaran yang mendalam, ajaran-ajaran dalam pewayangan umumya tidak “terang-terangan”, melainkan diselubungi dengan peristiwa dan kata-kata yang sangat rumit. Jika akan memperdalam dan meneliti diperlukan perasaan yang tajan dan mendalam, antara lain demikian:

Sumantri dan Sukasrana adalah kakak beradik, tetapi perwujudannya jauh sekali perbedaannya, Sumantri berparas dan berbadan bagus bagaikan dewa, sedang adiknya ujudnya sangat jelek, parasnya serupa buta-bajang (raksasa kecil), tubuhnya kerdil dan jelek.

Hal ini pada sesungguhnya merupakan gambaran keadaan manusia yang terjadi dari rohani dan jasmani. Sukasrana yang nampak jelek adalah badan jasmani, sedang Sumantri yang rupawan merupakan rohani (jiwa) atau badan halus. Dus Sumantri Sukasrana menggambarkan ujudnya manusia.

Pada suatu ketika Sumantri akan mengabdi (ngenger) pada Prabu Harjuna Sasra, ini maknanya pada suatu saat jiwa manusia sering ingat kepada Pangeran (Tuhan) ingin berbakti kehadapan Tuhan YME, Sukasrana tidak bertindak demikian karena badan (jasmani) manusia tidak pernah mempunya cita-cita luhur, melainkan hanya dikuasai oleh kehendak rohani (jiwa)nya. Maka waktu Sukasrana mengajukan permintaan untuk ikut Sumantri, dijawab “nanti saja”. Ini menggambarkan jiwa (rohani) manusia yang akan berbakti dan mengadbi kepada Tuhan selalu ragu-ragu jika badan (jasmani) akan ikut, karena belum mendapat pengertian.

Setelah Sumantri mengemukakan kehendaknya akan mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu juga diterima, tetapi Harjuna Sasra minta syarat, dapat menerima pengabdian Sumantri, kalau Sumantri dapat memboyong putri yang diingingkan Prabu Harjuna Sasrabahu. Sumantri menyanggupi dan berhasil memboyong Dewi Citrawati, tetapi sebelumnya Sumantri menyerahkan puteri tersebut kepada Sang Prabu, ia ingin mencoba kesaktian Harjuna Sasra, karena ia suka mengabdi kepada seorang Raja, yang kesaktiannya dapat mengatasi Sumantri.

Permintaan Sumantri untuk menguji kesaktian Prabu Harjuna Sasrabahu diterima dengan hati gembira. Terjadi perang tanding yang seru dan cukup lama, akhirnya Sumantri bertekuk lutuh didepan Harjuna Sasrabahu, dan mengakui kesaktian Sang Prabu. Ini maknanya: “Jiwa manusia yang berniat membaktikan diri dan mengabdi TUHAN harus dengan laku (kenyataan), tidak semudah demikian saja, tetapi harus mengalami “percobaan berat”, segala cobaan ini sebagai sarana untuk berbakti dan mengabdi TUHAN.

Demikian lazim bagi mereka yang bercita-cita luhur. Tetapi pada saat jiwanya manusia dapat diterima pengabdiannya karena lulus dari cobaan dan godaan yang maha berat, pada umumnya lalu membusungkan dada untuk mengerti dan mencoba samapi dimana keluhuran TUHAN yang memberi cobaan kepada umutnya. Apabila umut telah yakin akan keluhuran TUHAN, umat baru suka mengakui dan baru merasa selaku umut TUHAN. Demikian maksud yang tersembunyi dalam cerita ini.

Setelah Dewi Citrawati dipersembahkan kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, Sumantri merasa puas hati karena sudah dapat diterima pengabdiannya dan telah lulus dari cobaan berat yang keluar dari GUSTInya. Tetapi tidak cukup demikian saja. Harjuna Sasrabahu masih memberi beban kewajiban kepada Sumantri untuk memindahkan “Taman Sriwedari” dengan segala isinya tanpa mengalami perubahan sedikitpun. Apabila Sumantri tidak dapat melaksanakan permintaan Harjuna Sasrabahu, pengabdiannya Sumantri tidak akan diterima.

Sumantri sangat gundah gulana, Ini makanya : “Semua kejadian (peristiwa) memberi pelajaran kepada umat manusia karena sudah berani mencoba keluhuran TUHAN, padahal sebelumnya umat sudah mengerti bahwa TUHAN adalah bersifat luhur dan bijaksana melebihi umatnya. Hukuman kepada jiwa manusia yang sesungguhnya hanya akan gegabah ingin mencoba kelebihan TUHAN adalah lebih berat dari pada semula. Dan hukuman ini nampak mustahil untuk dilaksanakan oleh jiwa manusia, karena “taman Sriwedari” adalah perwujudan yang tidak dapat ditangani oleh jiwa manusia, melainkan harus ditangani oleh “jasmani” manusia.

Dengan demikian jiwa (rohani) lalu gelisah. Dalam mengalami kesulitan ini Sumantri lalu “ingat” kepada saudara-mudanya. ialah Sukasrana yang dapat melaksanakan pemindahan taman, karenanya Sumantri segera memanggil Sukasrana, karena saudara-muda ini sudah ingin sekali ikut mengabdi, apa yang menjadi kebutuhan Sumantri akan dilaksanakan, asal Sukasrana diperkenankan ikut mengabdi. Ini maknanya:

Di dalamnya jiwa mengalami cobaan yang maha berat karena diluar kemampuannya pasti lalu ingat bahwa ada saudara-mudanya yang dapat dimintai pertolongan, ya’ni badan “jasmanis”. Karenanya “jiwa” lalu minta tolong kepada badan “jasmani” agar tugasnya dapat dipenuhi hingga dapat diterima pengabdiannya. Sudah barang tentu badan “jasmani” menyanggupi, karena badan “jasmani” hanyalah tinggal menurut kepada kehendak “jiwa” (rohani). Dengan demikian berbakti dan mengabdi kepada TUHAN tidaklah dapat meninggalkan badan “jasmani” untuk menjadi sarananya.

Tetapi anehnya, setelah Taman Sriwedari dapat dipindahkan dengan utuh, Sukasrana malahan dilepasi panah, hingga menemui ajalnya, karena Sumantri agak malu terhadapa putri “garwa” Sang Prabu. Pada saat nyawa melayang meninggalkan pesan, bahwa Sumantri masih ditunggu dipintu sorga. Ini maknanya: Adalah tidak adil, bahwa jiwa yang mencari “keluhuran ” malahan sewenang-wenang kepada sesama. Tetapi dalam peristiwa ini sudah tepat, karena pengabdian jiwa manusia yang akan berbakti dan menjunjung nama TUhan tidak dapat bersama-sama dengan badan “jasmaninya”. Ini bukan berarti bahwa badan “jasmani” tidak penting untuk mencapai keluhuran jiwa. Dalam berbakti untuk mengabdi kepada TUHAN tidak dapat bertindak tanpa badan “jasmani”, misalkan orang bersembahyang (semadi) itupun harus menyertakan badan “jasmani” untuk mencapai kesempurnaan hidup. Tetapi setelah “jiwa” manusia telah diterima pengabdiannya kepada TUHAN (bersatu Kawula-Gust maka badan “jasmani” tidak dapat ikut serta. Maka dalam lakon ini Sukasrana harus menyingkir, karena demikianlah jalannya lakon manusia mencari keluhuran jiwanya, artinya kebutuhan duniawi harus disisihkan lebih dulu.

Demikian makan lakon “Sumantri Ngenger/mengabdi” yang kami dapat dari penuturan embah-embah yang telah marhum kemudian terserah pada pembaca yang budiman dalam hal ini

Png. 28 Mei 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: