UNESCO Akui Wayang sebagai “Master Piece” Budaya Dunia

Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika mengungkapkan, sejak 7 November 2003 lalu Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) telah mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Pengakuan ini sangat berarti bagi bangsa Indonesia bahwa wayang sebagai budaya bangsa yang kita warisi dari leluhur, diakui oleh dunia. “Mereka (UNESCO- Red) mengatakan itu tidak hanya menjadi milik bangsa Indonesia. Ini adalah sangat tinggi nilainya, milik masyarakat dunia,” kata Ardika, Jumat (9/1) malam, seusai membuka Pekan Wayang Menak dan Gelar Kain Nusantara di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Acara ini akan berlangsung sampai tanggal 16 Januari 2004.

Selain itu, tutur Ardika, wayang niscaya akan mengangkat citra bangsa, mengangkat nama bangsa, harkat dan martabat bangsa dalam forum dunia. “Tugas kita memperkenalkan nilai-nilai budaya bangsa dalam pergaulan dunia,” kata Ardika.

Menurut Ardika, pengakuan ini sama sekali tidak menjadi kekangan bagi para pegiat wayang untuk terus berkreativitas. “Ini justru mendorong. Ini tantangan untuk berkreasi,” kata dia.

Sementara itu, menurut Deputi Bidang Seni dan Film pada Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Dr Sri Hastanto, sampai saat ini hanya terdapat 28 warisan budaya di dunia yang diakui sebagai master piece intangible. Oleh karena itu, pengakuan ini sangat bermakna bagi kehidupan kebudayaan di Indonesia.

Sebenarnya, tambah Hastanto, inisiatif pengusulan wayang sebagai warisan dunia ke UNESCO juga mengandung soal-soal taktis. “Supaya para dalang di dalam mengembangkan wayang tetap menjaga humanity-nya. Jangan sampai wayang hanya jadi hiburan yang dangkal, hanya hura-hura saja. Setelah diakui sebagai master piece, mosok master piece kok kayak gitu…” kata Hastanto.

Dalam tataran praksis, kata Hastanto, UNESCO akan menangani banyak hal. Segala kegiatan dalam pengembangan wayang, UNESCO akan bersikap sebagaimana jika kita memugar Borobudur. “Kalau Borobudur itu tangible, wayang intangible,” kata dia.

UNESCO berhak memberikan pemikiran-pemikiran, termasuk menjaga agar wayang sebagai master piece tetap terjaga. “Yang berat itu nanti sosialisasinya,” ujar Hastanto.

Terhadap kenyataan bahwa sebagian wayang saat ini telah menyerap unsur-unsur seni lain, semisal musik dangdut, menurut Hastanto, hal itu sangat dimungkinkan. “Asalkan tidak mengingkari nilai-nilai humanismenya. Prinsipnya, kreativitas tetap didorong,” ujar Hastanto. (CAN)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: