Wayang ASEAN Unjuk Gigi

Merasa prihatin terhadap rendahnya perhatian berbagai kalangan terhadap kesenian tradisional, Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) menggagas Festival Wayang ASEAN I di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta Timur.

Pergelaran itu akan berlangsung pada 29 November hingga 3 Desember setelah festival wayang internasional yang menampilkan wayang dalam wajah yang lebih modern dan teatrikal usai digelar. Hajatan ini akan diikuti sembilan negara anggota ASEAN, Malaysia, Laos, Singapura, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Filipina, Thailand, dan Indonesia. Brunei Darussalam, yang belum memiliki wayang, akan datang sebagai peninjau.

“Festival ini juga merupakan kelanjutan kegiatan penerimaan penghargaan Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO,” tutur Sekretaris Jenderal Sena Wangi, Tupuk Sutrisno, kepada Warta Kota beberapa waktu lalu di Museum Wayang, Jakarta Barat.

Menurut Tupuk, yang juga koordinator festival ini, dari segi durasi pergelaran wayang tradisional ini tak akan lagi berlangsung dari malam hingga pagi, seperti yang dibayangkan masyarakat. “Sudah ada perkembangan. Pergelaran wayang bisa diperpendek waktunya. Semua pertunjukan wayang di festival ini juga hanya mengambil waktu satu jam,” katanya.

Selain menggelar wayang dari seantero Asia Tenggara, festival ini juga akan diisi acara lain seperti simposium dan pendeklarasian Asosiasi Wayang ASEAN. Bahkan acara-acara tersebut akan menjadi pembuka perhelatan dan memakan waktu sejak 29 November hingga 1 Desember. Acara simposium, pelatihan, serta deklarasi asosiasi akan mengisi acara pembuka tersebut.

“Pendeklarasian ini salah satunya untuk membicarakan kelanjutan festival ini, apakah akan dibikin tiap tahun atau dua tahun. Selain itu juga untuk bekerjasama dalam melestarikan dan mengembangkan wayang,” kata Suparmin.

Versi
Beberapa versi wayang yang bakal tampil, mungkin bisa jadi gambaran bagi siapa pun yang tertarik untuk menengok festival ini. Bebe rapa yang cukup menarik antara lain Wayang Air Vietnam, Wayang Kulit Seri Asun Malaysia, dan Hun Lakorn Lek Thailand.

Wayang Air Vietnam, pergelaran wayang ini selalu mengambil tempat di kolam dengan air setinggi dada. Air inilah yang menjadi panggung utama wayang. Sementara sang dalang berada di belakang backdrop.

Wayang yang disebut-sebut lahir dari kalangan petani ini pertama kali digelar ribuan tahun lalu di atas permukaan kolam dan sawah di delta Sungai Merah, Vietnam. Efek gelombang dan percikan air menjadi daya tarik wayang ini.

Selain berlatar kehidupan desa, cerita juga menampilkan legenda dan sejarah negeri ini. Di TMII, wayang ini akan menggunakan kolam renang Ambartirta dan terakhir di kolam Renang Bulungan sebagai pertunjukan tambahan.

Wayang Kulit Seri Asun Malaysia, warisan wayang kulit Thailand (Nang Thalung). Versi wayang kulit yang satu ini ini kemudian terserap ke dalam wayang kulit Melayu (Wayang Gedek).

Umumnya berisi tentang epik lama, mirip wayang Indonesia. Pada perjalanannya wayang ini menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dalangnya pun menggunakan bahasa campuran Inggris, Melayu dialek Kedah dan bahasa Thailand.

Hun Lakorn Lek Thailand, adalah wayang yang merupakan imitasi figur Hun Yai (Wayang Besar) dan sebuah kesenian kreasi baru. (pra)

Sumber: Warta Kota

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: