Wayang Berbahasa Asing, Why Not ?

KI Manteb Soedharsono, dalang kondang dari Doplang, Karangpandan, Karanganyar, lagi-lagi ikut andil mengusung prestasi tertinggi di dunia pedalangan. Berkat penampilannya, wayang kulit purwa memperoleh penghargaan Master Piece of The Oral and Intangible of Humanity. Karena itu, wayang kini dimasukkan sebagai salah satu master piece warisan budaya dunia. Apa yang kemudian dilakukan oleh dalang yang dulu memperoleh predikat sebagai “dalang setan” itu? Rupa-rupanya dia mendapat “hadiah” keliling Eropa untuk memperkenalkan wayang kulit selama dua pekan. Lalu, apa komentar dia tentang pengahargaan tersebut? Berikut wawancara wartawan Suara Merdeka, Joko Dwi Hastanto, di sela-sela pertunjukan untuk ribuan anggota Unesco, di Paris belum lama ini.

Selamat! Anda telah mengantarkan wayang sehingga memperoleh penghargaan kelas dunia…

Terima kasih, matur nuwun. Sebenarnya penghargaan ini bukan bertolak dari jasa saya saja. Ini berkat kerja sama semua pihak yang melibatkan pengrawit, Senawangi, Pepadi, dubes Unesco, dan tentu saja semua rakyat Indonesia. Karena itu, penghargaan ini bukan untuk saya, melainkan untuk rakyat Indonesia.

Ya, tetapi paling tidak Andalah pemeran utamanya…

Aduh, jangan mengangkat saya terlalu tinggi. Saya hanya bagian kecil dari persiapan selama dua tahun untuk memperoleh penghargaan dunia dari Unesco ini. Memang, sayalah yang mementaskan pakeliran yang kemudian dinilai oleh tim Unesco. Namun, itu kan yang menyangkut ekshibisi saja. Penilaiannya kan melibatkan unsur lain juga.

Prosesnya bagaimana sih?

Mula-mula, pada 2001 Unesco hendak memberikan penghargaan master piece untuk berbagai produk kebudayaan dari beberapa negara. Saat itu Indonesia belum berniat maju. Setelah penghargaan pertama diberikan kepada kelompok teater dari Jepang, mata kita baru terbuka. Kebetulan Unesco mendesak, sehingga kita kemudian berpikir kira-kira produk budaya apa yang bisa diajukan untuk 2003.

Kenapa memilih wayang?

Sebenarnya ada banyak pilihan. Namun, melihat kriteria penilaian yang diajukan oleh Unesco, wayang akhirnya menjadi pilihan utama.

Apa saja yang dinilai?

Banyak. Antara lain dari sisi estetika atau keindahan. Ada juga unsur orisinalitas. Itu berarti produk budaya yang dimaksud harus benar-benar ada di Indonesia saja, tidak duplikasi dengan budaya lain. Selain itu dinilai juga kandungan-kandungan lain. Dan, wayang dianggap memiliki semua sisi penilaian.

Ada berapa pesaing waktu itu?

Banyak sekali. Ada 128 negara dan yang berhasil masuk penilaian tahap kedua hanya 68 negara. Lalu dipilih lagi dan hanya 24 negara yang berhak mendapatkan penghargaan. Ternyata di antara 24 negara itu Indonesia lewat wayang purwa yang memenangi penghargaan Master Piece of The Oral and Intangible of Humanity tersebut. Salah satu unsur membuat wayang menang adalah kekentalan unsur filosofinya. Produk budaya dari negara lain, tidak banyak yang mengandung unsur filsafat.

Misalnya saat itu tim menanyakan kenapa ada adegan Dasamuka yang sudah terkena panah, sudah dibruki gunung, kok tidak mati? Saya jawab, itu perlambang nafsu manusia. Dasamuka itu nafsu. Dan nafsu tidak akan hilang jika manusia masih menghamba…. Nafsu akan mati kalau manusia mati atau dunia kiamat.

Setelah menerima penghargaan itu, apa yang akan Anda lakukan?

Penghargaan ini adalah puncak prestasi saya. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, saya tentu ingin mengukir jasa dan prestasi besar bagi negara. Ya, saya sudah mampu menorehkan prestasi itu dan mengantarkan wayang memperoleh penghargaan tingkat dunia. Itu berarti ia menjadi warisan dunia yang harus dilestarikan oleh seluruh umat manusia di dunia.

Nama saya sudah terukir, sebab penghargaan ini hanya sekali, tidak bisa diulang. Karena itu, mati pun, saya rela. Saya sudah memiliki kenangan yang baik. Setiap ingat wayang sebagai warisan budaya dunia, tentu tidak bisa lepas dari keberadaan saya. Sekarang saya tak punya lagi keinginan apa-apa. Prestasi saya sudah cukup. Ini mungkin sebuah titik kulminasi.

Anda tak akan melakukan apa pun?

Sekarang terserah pada para dalang muda. Merekalah yang akan meneruskan melestarikan wayang. Terserah bagaimana mereka berkreasi. Yang penting, wayang harus lestari. Jika wayang di Indonesia malah punah, yang malu kan kita juga.

Kan sudah menjadi tanggung jawab dunia?

Ya. Namun, beban berat tetap ada di pundak negeri ini, terutama di pundak para dalang dan para pecinta wayang. Ya, masa pelestarian wayang kita serahkan kepada orang asing? Kalau mereka bisa menghargai wayang sebagai produk adiluhur, kenapa bangsa sendiri malah melecehkan dan tidak tergerak melestarikan?

Bagaimana peran Pepadi dan Senawangi?

Saya ingin mengucapkan terima kasih pada mereka. Berkat merekalah saya bisa seperti ini. Kini tugas kedua lembaga itu kian berat. Wayang Banjar sudah punah. Wayang Palembang, wayang Betawi juga punah. Apakah wayang lain juga akan kita biarkan punah? Jangan lupa, di negeri ini masih ada wayang Bali, wayang Sasak, wayang Cirebon, wayang Madura, wayang jawatimuran, dan wayang Kedu. Jadi, perhatian kita jangan hanya terfokus pada wayang kulit purwa dan golek. Usahakan wayang lain juga dilestarikan. Ini tugas mereka dan pemerintah.

Saya tahu ada rencana kegiatan yang disodorkan ke Unesco sebagai bagian dari upaya pelestarian wayang Indonesia. Kegiatan itu akan ditanggung oleh Unesco. Jika mengalami kendala Unesco akan membantu. Tentu ini isyarat baik agar dunia turun tangan melestarikan.

Saya kira ini juga termasuk tanggung jawab media massa. Saya besar karena media, wayang besar karena sampeaan. Wayang pun bisa punah, jika pers tidak membantu.

Setelah ini Anda akan “pensiun”?

Ya nggaklah. Saya akan terus mendalang sampai mati. Kan tidak ada sebutan mantan dalang atau pensiunan dalang. Sepanjang masih mampu dan kuat, saya akan terus mendalang. Tentu juga kalau masih ada yang nanggap. Kalau tidak ada, ya berhenti, ngopeni cucu. Toh anak-anak juga sudah selesai semua, dan dunia pedalangan telah ada penerusnya. Tidak masalah bagi saya berhenti jadi dalang. Tapi, ya itu, tidak ada dalang yang pensiun. Kalau pejabat baru ada. Ha ha ha.

Ketika manggung di Niort dan Angers, ada komunitas wayang kulit anak-anak. Bagaimana ini? Kok di Indonesia justru tidak ada?

Itulah yang menjadi keprihatinan saya. Setiap ke luar negeri, saya selalu bertemu dengan pecinta wayang anak-anak. Saya terharu, karena mereka begitu antusias mempersiapkan generasi penerus untuk mencintai wayang kulit. Adapun di Indonesia komunitas wayang anak-anak itu hampir tidak ada. Sebaliknya di Jepang malah ada. Di Inggris, Sarah Bilby malah bisa memasukkan wayang sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah tingkat dasar dan menengah.

Bagaimana perhatian pemerintah terhadap perkembangan wayang?

Bangsa ini terdiri atas aneka suku, budaya, bahasa, dan sebagainya. Pemerintah mungkin juga harus memberikan toleransi kepada suku dan budaya lain untuk mengembangkan kebudayaannya. Bukan hanya wayang kulit atau wayang di Jawa saja yang diperhatikan.

Apa tidak ada upaya memasukkan wayang menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah?

Sekjen Pepadi Pusat, Soedarko Prawiroyudho, setiap kali bertemu dengan Menteri Pendidikan Nasional, selalu menyampaikan gagasan itu. Hal itu sudah didesakkan sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Nugroho Notosusanto berkiprah. Beliau kan orang Jawa dan sangat mengerti budaya Jawa. Namun, sampai menteri gonta-ganti terus, jawabannya selalu sama, “Nanti akan dikaji dulu!”

Kira-kira apa penyebabnya?

Mungkin saja karena Mendiknas juga harus memberikan toleransi terhadap kurikulum nonwayang. Kata pengurus Senawangi, kan banyak ragam pilihan di luar wayang yang dijadikan untuk materi muatan lokal. Misalnya, bahasa daerah. Mungkin saja pilihan akhir lebih pada pengembangan bahasa daerah yang bisa masuk di kurikulum. Bukan wayangnya.

Akhirnya wayang kulit hanya bagian kecil saja dari mata pelajaran bahasa daerah kan?

Ya, itulah kendalanya. Anak jadi sangat tidak mengenal wayang. Sebab untuk mencari guru bahasa daerah yang mengerti wayang saja juga sulit. Ya sudah, sementara waktu tetap saja kondisinya seperti ini.

Oh, ya hanya satu dunia pendidikan yang memiliki mata kuliah wayang. Yakni mata kuliah Filsafat Wayang di Fakultas Filsafat UGM. Itu perkembangan terakhir yang bisa dilakukan Senawangi dan Pepadi untuk memasukkan wayang di dunia pendidikan.

Ada upaya lain?

Pepadi dan Senawangi akan terus menggelar wayangan sebanyak-banyaknya. Dengan cara itu diharapkan wayang akan terus dikenal. Mereka juga mengadopsi setiap perkembangan wayang. Pentas wayang dengan gaya apa pun, pengembangan wayang seperti apa pun, akan terus diadopsi. Ini salah satu cara memasyarakatkan wayang. Bairkan gaya Enthus, Joko Edan, wayang kontemporer STSI berkembang. Pokoknya jenis wayang apa pun yang kita anggap baik harus dikembangkan.

Biar saja orang memilih gaya pakeliran yang disukai. Jangan lupa salah satu unsur wayang adalah hiburan. Jangan sampai unsur itu ditiadakan. Kalau ada yang berangkat dari unsur hiburan tak perlu disalahkan. Semua mesti didukung. Yang penting masyarakat senang wayang.

Kita juga mencoba membuat wayang padat, yang tidak semalam suntuk, karena sebenarnya banyak juga yang sangsi apakah wayang akan terus bertahan dengan gaya semalam suntuk. Dengan menyaksikan wayang padat, orang tidak perlu meninggalkan pekerjaan lama-lama. Mereka tidak harus begadang. Mudah-mudahan dengan cara semacam itu wayang akan lestari.

Apakah perlu pementasan dengan bahasa asing?

Sangat perlu. Itu tantangan bagi dalang muda. Kalau saya dan seangkatan belum bisa mewujudkan, biarlah yang muda-muda mendalang dengan bahasa Inggris. Itu perlu dilakukan agar orang asing bisa menikmati dan mengerti, serta menyelami makna yang terkandung di dalam catur (ucapan) dalang. Ya, wayang berbahasa asing, why not?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: