Wayang Catur dan Ki Ija, Tradisi yang Sekarat

Tubuh renta itu tertatih menuju panggung dipapah dua pria kekar. Ija Sukmaja, dalang wayang catur generasi pertama dan (mungkin) terakhir ini, kemudian lunglai duduk di depan sebuah kecapi.

Setelah bersusah payah dibisiki para waditra, ia pun memulai memainkan kecapi. Dari mulutnya yang kelu, tiba-tiba terdengar lirih kadang melengking tembang sunda tanda ia memulai memainkan wayang catur.

Wayang catur merupakan genre wayang golek yang (mungkin) sudah musnah dari bumi Parahyangan, dan masih sebagai wayang berlatar cerita Mahabrata dan Ramayana. Bedanya dengan wayang golek, wayang catur tidak menggunakan wayang atau golek, melainkan hanya bercerita layaknya sebuah monolog dalam teater, para penonton diajak untuk mengkhayalkan setiap tokoh yang diceritakan lewat dalang.

Wayang catur berkembang tahun 1920-an, dalang pertama yang memainkan wayang catur adalah Parta Suwanda dari Cibangkong Bandung. Sepeninggal dalang kahot itu, wayang catur diteruskan oleh anak muda bernama Ija Sukmaja yang kemudian menjadi dalang terkenal pada zamannya. Hampir seluruh daerah di Jawa Barat ia jelajahi, hingga pada 1980-an dalang Ija menyatakan pensiun dari dunia pedalangan. Selain lantaran sudah tidak ada lagi yang mengundang, ia mengaku sudah lelah.

Kini setelah 30 tahun “istirahat”, tiba-tiba publik seni Bandung dikagetkan dengan penampilan dalang Ija yang kini berusia 90 tahun. Penampilannya itu mendapat perhatian pengunjung Galeri Teh Taman Budaya Jawa Barat Dago Tea House Bandung, akhir pekan lalu.

Cerita “Jabang Tutuka” yang ia bawakan tak sampai tamat. Ija tua sudah lupa ceritanya, file-nya sudah tidak indah lagi untuk menggambarkan bahwa ia adalah dalang hebat pada masanya. Lagipula, sesekali ia nampak kelelahan menghapal alur cerita. Wayang yang biasanya dimainkan empat jam atau semalam suntuk itu, kini hanya berlangsung setengah jam. Namun semangatnya itu mendapat decak kagum dan aplaus yang luar biasa dari penonton yang memadati Galeri Teh.

Tradisi yang Hilang

Alkisah, para dalang wayang golek di tahun 1900 hingga tahun 1920 merasa ingin melakukan terobosan baru dalam dunia wayang golek. Jika pada era 1990-an almarhum dalang Ade Kosasih Sunarya mencuat dengan wayang buta yang bisa muntah dan makan, maka sebelumnya para dalang zaman Ki Elan Surawidastra, Parta Suwanda, Bah Elim, dll, melakukan kolaborasi antara pantun dan wayang golek.
Jika biasanya dalam permainan wayang golek diiringi sejumlah waditra dan alat musik degung, waktu itu hanya dengan kecapi. Lama kelamaan para dalang, terutama yang dipelopori oleh dalang Parta Suwanda, tokoh wayang golek yang biasa dimainkan tidak dipentaskan. Dalang hanya bercerita (dalam bahasa Sunda, cerita kemudian dikenal dengan kata “catur”), tokoh pewayangan hanya dikhayalkana hadir dalam pertunjukan, iringan kecapi ditimpali pantun menjadi bagian dari pertunjukan itu, kemudian disebutlah pertunjukan itu sebagai wayang catur.

Ki Ija terkejut ketika pihak Taman Budaya menawarinya main wayang catur. “Aki masih ingat semua cerita wayang, namun sekarang terkadang mah sudah lupa mau bicara apa di panggung,” katanya lirih. Ini bisa dipahami lantaran sudah hampir 30 tahun Ki Ija tidak mendalang.

Apa harapan ki Ija terhadap perkembangan wayang catur? Saat di tanya seperti itu, tak ada jawaban yang jelas dari bibirnya. Maklum, telinganya sudah tidak peka. Karuan saja jawabannnya jadi tak jelas juga, “Ah aki mah biasa we… atoh bisa ngadalang deui. (saya sih biasa aja… malah senang bisa mendalang lagi),” katanya.

Wayang catur memang tak sehebat wayang golek, perkembangannya nyaris tak terdengar dalam genre wayang di Indonesia. Ki Ija yang renta itu–barangkali bisa menjadi ciri bahwa wayang catur akan benar-benar musnah. Setelah Ki Ija, siapa lagi yang akan menjadi ahli waris dari tradisi ini? N

Matdon
Penulis adalah pengamat seni dan budaya, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: