Wayang dan Negara

Sebuah Tinjauan Simbolik Ideologi-Politik[1]

A. Pendahuluan
Para ahli dari berbagai disiplin ilmu tiada rasa jera untuk senantiasa membicarakan wayang dari masa ke masa, baik dalam kesempatan diskusi, seminar, kongres, terbitan buku, majalah, koran dan sebagainya. Ini dilakukan karena pengetahuan wayang yang demikian luas menarik untuk dibicarakan dan memberikan kontribusi terhadap kehidupan masyarakat, baik di Indonesia maupun mancanegara. Nilai-nilai kehidupan yang tergambar dalam wayang terbukti dapat dipergunakan sebagai renungan dan referensi hidup berbangsa dan bernegara.

Wayang dalam pengertian “bayang-bayang” memberikan gambaran bahwa di dalamnya terkandung lukisan tentang berbagai aspek kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, alam, dan Tuhan; meski dalam pengertian harfiah wayang merupakan bayangan yang dihasilkan oleh “boneka-boneka wayang” dalam seni pertunjukan (Darmoko, 1999:1).

Wayang dalam pengertian “hyang”, “dewa”, “roh”, atau “sukma” memberikan gambaran bahwa wayang merupakan perkembangan dari upacara pemujaan roh nenek moyang bangsa Indonesia pada masa lampau (Hazeu, 1979:51). Benang merah dari tradisi ini tampak pada upacara ruwatan[2], yakni wayang sebagai sarana pembebasan malapetaka bagi seseorang/ kelompok orang yang terkena sukerta/ noda gaib.

Di samping itu wayang pun memiliki kekuatan sebagai media pendidikan (Hazim Amir, 1991: 19) dan komunikasi. Nilai-nilai kehidupan manusia dalam berbagai aspek yang terkandung di dalamnya, disampaikan oleh seniman, dalam hal ini sastrawan ataupun dalang kepada masyarakat luas (pembaca atau penonton), melalui penggambaran tokoh beserta peristiwa di dalam karya sastra ataupun pertunjukan. Nilai etika (moral) dan estetika (seni) sangat menonjol di dalam wayang. Aspek etika dan estetika memberikan bingkai terhadap sikap dan perilaku manusia bagaimana seyogyanya “berhubungan” dengan manusia lain, alam, dan Tuhan. Wayang bukan hanya bacaan atau “tontonan[3]”, tetapi juga “tatanan[4]” dan “tuntunan[5]”. Wayang merupakan salah satu hasil budaya manusia, dan manusia itu memanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan mereka. Sehingga wayang dapat bertahan hidup hingga sekarang.

Banyak jenis wayang di dunia tumbuh berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran masyarakat dan dimanfaatkan oleh masyarakat itu sebagai renungan, pedoman, dan bahkan ideologi hidup mereka. Wayang yang tumbuh dan berkembang di Indonesia banyak jenisnya. Penamaan dan penyebutan wayang sederhana sifatnya, hal ini sesuai dengan latar belakang keberadaan serta referensi wayang tersebut, seperti penamaan wayang berdasar pada sumber cerita, bahan boneka, daerah asal dan penyebaran, fungsinya, dan unsur yang dominan dalam pertunjukan wayang. Kadangkala penamaan dan penyebutan tersebut menggunakan dua kriteria atau lebih, misalnya wayang kulit purwa (bahan boneka terbuat dari kulit dan mengambil kisah dari zaman purwa), wayang golek Sunda (bahan boneka terbuat dari kayu dan berasal dari daerah berkebudayaan Sunda), dan sebagainya. Jenis wayang lainnya, seperti: wayang kancil[6], wayang suluh[7], wayang krucil atau wayang klithik[8], wayang madya[9], wayang golek menak[10], wayang sadat[11], wayang wahyu[12], wayang parwa[13], wayang Banjar[14], dan wayang Sasak[15].

Di antara sekian banyak jenis wayang itu yang paling populer dan digemari serta mendapat sambutan masyarakat pendukungnya yakni “wayang kulit purwa”, yang intinya menampilkan kisah tentang: a) dewa-dewa, manusia, raksasa pada awal zaman; b) Lokapala; c) Arjunasasrabahu; d) Ramayana, dan; e) Mahabharata. Kisah pada awal zaman itu misalnya lahirnya Tejamantri, Ismaya, dan Manikmaya; mereka merupakan anak hasil pujan/ ciptan[16] Sang Hyang Tunggal dari sebuah telur; cakang telur menjadi Tejamantri, putih telur menjadi Ismaya, dan kuning telur menjadi Manikmaya. Sedangkan Lokapala merupakan kisah sebelum lahirnya Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Wibisana (Lakon Sastrajendrahayuningrat)[17]. Adapun Arjunasasrabahu merupakan kisah tentang negara Maespati (raja; Arjunasasrabahu) lakon yang ada yakni Sumantri Ngenger (pengabdian Sumantri di negara Maespati atau Alap-alapan Citrawati) sampai kematian patih Sumantri, setelah berperang melawan Rahwana, raja Alengkadiraja. Sedangkan Ramayana merupakan kisah pada zaman pasca Kerajaan Maespati, namun raja Alengkadiraja, Rahwana, masih hidup dan terus berlanjut menentang dan melawan Ramawijaya, raja Ayodya beserta bala tentara kera. Rahwana gugur oleh panah Ramawijaya, yakni Gowawijaya, dan jasadnya ditimbun gunung oleh Anoman, senapati kera putih; dan diantara kisah pada awal zaman (purwa) tersebut, Mahabharata lah merupakan kisah yang paling populer dan digermari oleh masyarakat pendukungnya. Kisah ini mengalami penggubahan seiring dengan perjalanan waktu. Setelah Mahabharata Sansekerta (puisi) masuk ke Indonesia kemudian oleh para pujangga Jawa Kuna digubah ke dalam bentuk prosa (Asthadasaparwa) dan dalam Jawa Baru menjadi lakon, baik “lakon jangkep” (lakon lengkap) maupun “lakon balungan” (lakon yang hanya memuat pokok-pokok peristiwa) dan puisi tembang (macapat). Mahabharata merupakan kisah yang menceritakan tentang asal-usul nenek moyang Pandawa dan Kurawa hingga akhirnya kedua wangsa/ keluarga ini berperang (Bharatayuda). Kurawa musnah dan kerajaan Astina ditempati oleh para Pandawa dan mengangkat cucu Arjuna, Parikesit sebagai raja Astina/ Yawastina.

B. Wayang dan Negara:
Wayang dalam Ideologi-Politik

Bagaimana hubungan antara ideologi-politik dan wayang?. Wayang oleh kekuasaan dipandang sebagai salah satu hasil budaya, sekaligus sebagai media yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan hal-hal yang terkait dengan kepentingan ideologi-politik. Wayang dipandang sebagai mitos, yakni cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Mitos memberikan arah kepada kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian sekitarnya dan dapat menanggapi daya-daya kekuatan alam (Peursen, 1989: 37).

Dalam konsep Jawa tentang organisasi negara, raja atau ratu lah yang menjadi eksponen mikrokosmos dari Negara (Moertono, 1985: 32). Religi masyarakat Jawa memandang bahwa alam semesta merupakan satu kesatuan yang serasi dan harmonis, tidak lepas satu dengan yang lain dan selalu berhubungan. Alam semesta terdiri dari dua eksponen, yakni mikrokosmos dan makrokosmos, yang dalam kehidupannya terjadi kelabilan. Kelabilan yang terjadi di dalam makrokosmos sebagai akibat yang ditimbulkan oleh makrokosmos, atau sebaliknya. Keteraturan di dalam makrokosmos dan mikrokosmos adalah terkoordinasi dan apabila masing-masing berusaha keras ke arah kesatuan dan keseimbangan, maka hidup akan tentram dan harmonis. Mulder mengatakan bahwa usaha keteraturan dapat dilakukan dengan baik bila semua orang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Orang-orang harus mengetahui tempat dan tugas masing-masing, harus menghormati kedudukan yang lebih tinggi, harus berikap baik dan bertanggungjawab kepada mereka yang berkedudukan lebih rendah (1984: 44).

Wayang dari masa ke masa dipergunakan oleh penguasa maupun partai politik sebagai media untuk mengarahkan masyarakat agar mengikuti nilai-nilai yang diamanatkan dalam suatu pergelaran wayang. Di dalam wayang juga sarat akan “sign” (tanda) dalam hal ini simbol. Simbol-simbol ini dimanfaatkan oleh penguasa dan partai politik untuk mempengaruhi dan mengarahkan masyarakat agar mengikuti “pedoman” yang telah dirancang/ dikonsep di dalam sebuah pertunjukan wayang. Sebagai contoh, yakni:

Ketika presiden Soeharto berkuasa, nilai-nilai Pancasila disebarluaskan dalam berbagai media pendidikan, baik formal, informal, dan non formal. Wayang dan macapat[18] juga merupakan media seni tradisi yang memiliki fungsi untuk menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila itu. Bagaimana presiden Soeharto memasyarakatkan nilai-nilai Pancasila melalui wayang? Lahirnya lakon wayang yang berjudul Semar mBabar Jatidiri (Jawa)/ Sang Hyang Wiragajati (Sunda) merupakan wujud dari sebuah kepentingan ideologi-politik yang tertuang di dalam wayang.

Pada tanggal 21 Januari 1995, para dalang, seperti: dalang wayang kulit purwa/ Jawa, wayang golek/ Sunda, wayang parwa/ Bali, dan wayang Betawi menghadap presiden Soeharto di Istana Negara. Dalam pertemuan itu presiden Soeharto memberikan sambutan dan petunjuk kepada para dalang. Wayang dan seni pedalangan dipandang dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memasyarakatkan nilai-nilai Pancasila, agar nilai-nilai ini benar-benar dapat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan nyata oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Ketika itu pula presiden Soeharto memberi pekerjaan rumah kepada para dalang, beserta pengurus PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) dan SENAWANGI (Sekretariat Nasional Perwayangan Indonesia) untuk menggubah sebuah lakon wayang yang dapat menguraikan tentang jatidiri bangsa yang berintikan pada nilai pengendalian diri. Presiden Soeharto ketika itu juga memberikan petunjuk agar para dalang dapat mengetengahkan lakon wayang yang peran utamanya adalah Semar. Semar merupakan simbol rakyat/ kawula yang memiliki kekuatan dan kearifan; ia seorang panakawan/ abdi Negara Amarta yang selalu berorientasi pada keutamaan, kebenaran, dan keadilan.

Setelah para dalang beserta pengurus PEPADI dan SENAWANGI mendapat pekerjaan rumah presiden Soeharto, kemudian mereka kembali ke penginapannya di TMII. Ketua PEPADI Pusat juga sebagai General Manajer TMII dan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan memberikan fasilitas pertemuan para dalang se-Indonesia tahun 1995 itu. PEPADI dan SENAWANGI kemudian rapat untuk membicarakan pekerjaan rumah presiden Soeharto. Ketika itu diputuskan untuk membentuk tim-8 (Solichin, Ekocipto, Rusman Hadikusumo, H. Anom Soeroto, H. Panut Darmoko, Sugito Purbotjarito, Timbul Hadi Prayitno, dan B. Subono). Tim-8 ini bertugas menggubah lakon wayang yang menampilkan tokoh Semar. Tim tersebut mengujicobakan beberapa judul lakon, antara lain Semar mBangun Jiwa (Semar membangun jiwa) dan Semar mBabar Jatidiri (Semar menguraikan jatidiri) dan roses pemanggungan lakon ini dilkukan secara bertahap. Pertama kali ditampilkan oleh KI H. Anom Soeroto dalam rangka Dies Natalis UI ke-45 menyusul kemudian Ki Timbul Hadi Prayitno mementaskan lakon ini di Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII yang disaksikan sendiri oleh presiden Soeharto. PEPADI Pusat memandang bahwa lakon “Semar mBabar Jatidiri” merupakan rintisan yang akan terus dikembangkan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu untuk lebih meluaskan jangkauan khalayak, lakon dalam gaya Surakarta tersebut akan dikembangkan terus dalam bentuk gaya lainya, yakni gaya Yogyakarta, Banyumas, Jawa-Timuran, Bali, dan lain-lain. Lakon tersebut secara resmi disyahkan pada tanggal 17 Agustus 1995 oleh Ketua Umum PEPADI Pusat. Lakon tersebut telah dibukukan dengan judul “Semar mBabar Jatidiri”. Dalam penerbitan ini tidak hanya lakon wayang tersebut (gaya Surakarta), tetapi juga lakon wayang Golek Sunda yang diberi judul “Sang Hyang Wiragajati”. Buku lakon ke-2 ini digubah oleh H. Ruswandi Zarkasih, H. Tjetjep Supriadi, Barnas Somantri, Atik Sopandi, Erwin K. Padmawinata, dan Tutun Hatta Saputra.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa peran yang paling besar dalam menggubah lakon “Semar mBabar Jatidiri” yakni PEPADI, yang sebenarnya erat hubungannya dengan kekuasaan, meskipun organisasi ini secara struktur resmi kenegaraan tidak ada, dalam hal ini PEPADI dilingkupi oleh kekuasaan. PEPADI memiliki kekuasaan untuk menata dan membina para dalang. Ideologi-politik telah terimplementasikan ke dalam bentuk lakon wayang, Semar mBabar Jatidiri. Ideologi Pancasila beserta P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dalam wayang dapat terlihat dengan jelas namun ada pula yang tersamar (dalam bentuk sign system).

Di dalam lakon Semar mBabar Jatidiri disebutkan bahwa kerajaan Yawastina memiliki dasar Negara/ kerajaan, yakni: pancaprasedya (lima kehendak) lima dasar yang merupakan inti sari budaya yang sungguh-sungguh menjadi segala sumber hukum negara utama (pancaprasedya lire gegebengan limang prakara sari pathining budaya kang nyata dadya angger ugering praja utama). Ini menunjukkan bahwa Ideologi Pancasila telah masuk ke dalam wayang melalui narasi (janturan) kerajaan Yawastina/ Astina yang mendambakan negara yang bersifat panjang (terkenal), punjung (berwibawa), pasir (mempunyai samodra yang luas), wukir (berbukit dan bergunung-gunung), loh (subur tanahnya), jinawi (barang-barang murah), gemah (ramai), ripah (perdagangan lancar), karta (tentram), raharja (tidak punya musuh). Gambaran negara/ kerajaan Yawastina dalam lakon wayang merupakan ideologi yang diharapkan berpengaruh pada pemikiran manusia dalam kehidupan nyata, sehingga nantinya akan tercipta suatu keadaan negara/ kerajaan sesuai dengan yang digambarkan di dalam lakon tersebut.

Sebenarnya dalam lakon Semar mBabar Jatidiri inti permasalahan terdapat pada tokoh Semar. Ia meinggalkan kerajaan Yawastina/ Astina, karena seisi negara/ kerajaan dalam keadaan kacau dan para penyelenggara negara telah melupakannya; oleh karena itu para petinggi negara Yawastina mencari Semar. Para petinggi Negara Yawastina berhasil menemui Semar, yang kemudian diberi wejangan tentang Pancasila dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Dalam konteks ini, rupanya pemerintah ingin mempertegas tentang pentingnya Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa, meskipun di dalam wayang sesungguhnya secara implisit dan eksplisit mengungkapkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Pasca 1995 terjadi krisis politik, ekonomi, hukum, dan budaya yang mempengaruhi masyarakat harus melakukan reformasi. Presiden Soeharto rupanya ingin menguji sejauh mana kesetiaan masyarakat Indonesia melalui wayang. Pola pemikiran masyarakat Indonesia dibentuk dan diarahkan kepada suatu rumusan bahwa krisis/ kekacauan hampir di segala bidang ini sebagai kesalahan bersama, seperti terlukis dalam ungkapan: tiji tibeh/ mati siji mati kabeh (mati satu mati semua); jika ada salah satu yang mati dalam suatu tragedi maka harus mati semuanya.

Pada masa berikutnya dipentaskan sebuah lakon wayang yang berjudul Rama Tambak[19], dimaksudkan agar pemerintah dapat membuat tanggul untuk menyeberang lautan dan selamat dari ancaman bahaya/ kekacauan.

Ada beberapa interpretasi mengenai lakon yang berorientasi pada tokoh Semar tersebut, yakni: tokoh Semar ada kaitannya dengan pak Harto sebagai pemegang Supersemar (dari presiden Soekarno) pada tahun 1966. “Supersemar” itu sendiri dpat dimaknai Semar yang bersifat super atau “Surat Perintah Sebelas Maret”. Ini dapat dirumuskan bahwa “Semar yang super” tersebut tiada lain adalah “pemegang Supersemar” itu sendiri. Di dalam wayang, Semar bertugas mengantar ksatria utama dengan aman dari segala bahaya sampai ke tujuannya. Jika ksatria berada dalam kesulitan, Semar memberi nasehat; jika ia terlalu agresif dan emosi , ia direm oleh Semar dan ditarik kembali dari langkah-langkah yang kurang dipikirkan[20]. Jika ksatria itu sedih Semar menjadikannya senang dengan lelucon-lelucon. Jika ksatria dalam kesendirian dan kesepian maka Semar menemainya.

Pada masa sebelumnya, ketika Presiden Soekarno berkuasa, ia sering menanggap Ki Gito Sewaka, seorang dalang kenamaan di era 60-an, untuk mempergelarkan wayang di istana negara. Tokoh Gathutkaca lah yang menjadi idola sang Presiden. Watak ksatria, keberanian, kegagahan, kelincahan, kesaktian, dan kepandaian Gathutkaca menjadi acuan spirit Presiden Soekarno pada saat itu. Pada masa yang sama berkembang “wayang suluh” yang digubah oleh departemen penerangan; wayang ini berfungsi sebagai media penyuluhan atau penerangan pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa wacana kekuasaan “orde baru” dalam pertunjukan wayang, pada masa berikutnya bergeser menjadi wacana “reformasi” dalam segala unsur dan bentuknya. Pada masa ini kreativitas di bidang pedalangan dan perwayangan dilakukan di semua unsur-unsur yang terdapat di dalamnya dengan berorientasi pada wacana reformasi itu.

Pada era reformasi wayang menjadi media untuk berkampanye, melegitimasi, serta menyampaikan pesan-pesan partai politik tertentu, misalnya: dalam rangka ulang tahun “Partai Amanat Nasional” (PAN), Ki Joko Hadiwijoyo (Joko Edan) dari Semarang menampilkan lakon wayang yang berorientasi pada keagungan matahari. “Partai Amanat Nasional” bersimbolkan matahari. Melalui penampilan tema lakon wahyu[21] (anugerah Illahi) tersebut diharapan dapat memberikan pengaruh kepada partai dan khalayak luas, sehingga Indonesia dengan kepemimpinan PAN dapat menuju masyarakat yang tentram, damai, sejahtera berkat matahari yang memberikan penerangan seluruh masyarakat Indonesia.

C. Wayang dan Negara:
Ideologi-Politik dalam Wayang
Di dalam wayang digambarkan tentang situasi dan kondisi suatu negara atau hubungan antar negara. Hal tersebut dapat diamati dari tema-tema cerita/ lakon yang ada, seperti: kelahiran, alap-alapan/ sayembara, perkawinan, wahyu, perebutan daerah kekuasaan, perebutan tokoh, dan lakon kematian. Tema-tema cerita/ lakon tersebut selalu ada hubungannya dengan gambaran tentang suatu negara atau antar negara. Narayana lahir (lakon kelahiran), alap-alapan Rukmini (lakon alap-alapan), Parta Krama (lakon perkawinan), Wahyu Makutharama (lakon wahyu), Kikis Tunggarana (lakon perebutan daerah perbatasan), Kresna Gugah (lakon perebutan tokoh), Bharatayuda (berisi serentetan lakon kematian tokoh), merupakan contoh lakon wayang yang berorientasi pada ideologi-politik (kekuasaan).

“Kelahiran Narayana” merupakan awal peristiwa dari sebuah tanda akan adanya bahaya kekacauan dunia yang disebabkan oleh perilaku makhluk-makhluk jahat, seperti: Kangsa, Bomanarakasura, Duryudana, Dasasukma, dan sebagainya. Narayana merupakan manifestasi dari Wisnu. Ideologi Wisnu yakni reksakaning jagad atau penjaga dan pemelihara alam semesta[22]. Jika ada makhluk jahat yang ingin menghancurkan alam semesta dan mengubah tatanan dunia, maka Narayana/ Kresna tampil ke depan untuk menghancurkannya.

“Alap-Alapan Rukmini” merupakan kisah yang menceritakan tentang penculikan Rukmini, anak raja Kumbina, Arya Prabu Rukma, oleh Narayana, anak raja Mandura, prabu Basudewa. Rukmini diperebutkan oleh Narayana dan Durna, pendeta Astina. Duryudana menyadari bahwa jika Durna, yang berpihak kepada Duryudana, dapat mempersunting Rukmini maka Kumbina, raja beserta prajuritnya dapat dipersatukan dengan negara Astina, yang nantinya dapat membantu dan menambah kekuatan dalam menghadapi perang (Bharatayuda). Namun Kresna tidak kalah cerdas/ cerdik, ia kemudian berusaha untuk mengambil terlebih dahulu. Rukmini pun sebenarnya mencintai Narayana dan tidak menyukai Durna. Dalam kisah ini terlihat gambaran tentang peperangan antara keutamaan (Narayana) sebagai penjelmaan dewa Wisnu untuk memenangkan pertarungan melawan kejahatan (Duryudana). Kata alap berarti ambil/ mengambil tanpa sepengetahuan yang memilikinya. Ini berarti bahwa Narayana mengambil Rukmini tanpa diketehui oleh orang tuanya/ raja Arya Prabu Rukma beserta prajurit kerajaan Kumbina.

“Lakon Partakrama” merupakan kisah yang menggambarkan tentang perkawinan antara Arjuna dengan Subadra. Sementara Burisrawa, yang berpihak kepada Kurawa, berusaha mempersunting Subadra. Di sini terlihat bahwa Arjuna, sebagai penjelmaan Wisnu berebut Subadra, sebagai penjelmaan Widawati, dengan Burisrawa, yang berpihak kepada kejahatan dan keangkaramurkaan. Jika Subadra jatuh ke tangan Burisrawa, harapan yang hendak digapai oleh Duryudana adalah kekuatan Kresna, sebagai penjelmaan Wisnu membantu Kurawa memerangi Pandawa. Namun Arjuna merupakan belahan Wisnu bersama Kresna (bagaikan sirih bagian atas dan bawahnya, dilihat beda rupanya, jika digigit sama rasanya (kadya suruh lumah lan kurebe), ia berhasil mempersunting Subadra karena berhasil menyelenggarakan syarat yang diminta oleh Subadra. Gambaran ini menunjukkan bahwa keutamaan dapat menguasai dunia.

“Lakon Wahyu Makutharama” merupakan kisah yang menceritakan tentang perebutan wahyu yang bernama makutharama antara Pandawa (Arjuna) dan Kurawa (Duryudana). Makutharama berarti mahkota yang dimiliki Ramawijaya, raja Ayodya, yang merupakan penjelmaan dewa Wisnu pada zaman Ramayana. Pada zaman Mahabharata, Wisnu menjelma kepada Kresna dan Arjuna. Sehubungan dengan itu, sifat-sifat kepemimpinan Ramawijaya yang mengacu kepada sifat alam, yakni: surya (matahari), candra (bulan), akasa (angkasa), kisma (bumi), samirana (angin), dahana (api), dan tirta (air), kan diwariskan kepada manusia yang juga merupakan penjelmaan Wisnu/ Sang Hyang Suman. Pengetahuan tentang wahyu makutharama yang berisi tentang asthabrata telah dimiliki oleh Kresna, yang dalam lakon ini ia menjadi pertapa di bukit Suwelagiri (padepokan Kutharunggu) dengan nama begawan Kesawasidhi. Perebutan terjadi antara Karna, senapati Astina yang mewakili Duryudana/ raja Astina/ Kurawa dengan Arjuna dari kerajaan Amarta yang mewakili para Pandawa. Asthabrata berhasil diberikan oleh Kesawasidhi yang sebenarnya Wisnu/ Sang Hyang Suman kepada Arjuna. Kisah ini memberikan gambaran bahwa keutamaan (Pandawa) dapat menguasai keangkaramurkaan (Kurawa).

“Kikis Tunggarana” merupakan kisah yang menceritakan tentang perebutan daerah perbatasan. Bomanarakasura, raja Trajutrisna mengklaim bahwa Tunggarana (nama adipati: Kahana), sebagai daerah kekuasaannya. Sedangkan Gathutkaca, raja Pringgadani, juga mengklaim bahwa Tunggarana merupakan daerah kekuasaannya, dengan alasan karena adipati Kahana beserta masyarakatnya ingin bergabung dengan Pringgadani setelah Tremboko mati. Ketika Pringgadani diperintah oleh prabu Tremboko, ayah Arimbi, kakek Gathutkaca, Tunggarana pernah diperintah oleh Trajutrisna. Ketika itu Tunggarana diperintah oleh adipati yang jahat dan angkaramurka. Namun setelah Tunggarana berganti pemerintahan dan situasi dan kondisi negara Pringgadani berbeda (raja Pringgadani), maka masyarakat Tunggarana ingin menyatukan diri dengan Pringgadani. Gathutkaca memenangkan pertarungan yang disaksikan oleh para sesepuh (Kresna dan Bima) melawan Bomanarakasura. Gathutkaca telah dapat menguasai Tunggarana.

Lakon Kresna Gugah merupakan kisah yang menceritakan tentang bagaimana Pandawa dan Kurawa saling memperebutkan Kresna. Kresna melakukan tapa nendra (bertapa “tidur”) di Jalatunda dalam kondisi pecat sukma tinggal raga/ ngraga sukma (sukma meninggalkan badan). Ia menghadap Batara Guru, raja para dewa untuk memperjelas kedudukannya sebagai pamong para Pandawa dan duta keadilan (titisan Wisnu). Duryudana beserta prajuritnya menghadap Kresna dalam keadaan “tidur”. Mereka berusaha membangunkan, namun malahan terkena prawa/ pengaruh gaib yang membuat mereka celaka pada perang Bharatayuda nantinya. Sementara Arjuna dengan cara ngraga sukma berhasil mendapati Kresna di kahyangan. Kresna dapat dijemput oleh Arjuna dan turun ke dunia, masing-masing masuk ke dalam raga mereka. Setelah Kresna terbangun, Duryudana dan Arjuna berada di hadapan Kresna. Duryudana diminta Kresna untuk memilih, “Dalam perang Bharatayuda nanti anda pilih dibantu oleh raja-raja seribu negara atau pilih saya yang hanya sendirian?”. Duryudana memberikan jawaban, bahwa dalam perang Bharatayuda ia memilih dibantu oleh raja-raja seribu negara. Hasil pilihan Duryudana dinilai oleh Durna salah, karena Kresna meskipun hanya sendirian jika telah bertriwikrama dapat menjadi brahala. Arjuna berhasil memboyong Kresna, ini berarti bahwa Arjuna mewakili Pandawa dapat mengalahkan Duryudana (Kurawa).

Ramayana mengisahkan peperangan antara kerajaan Ayodya dan Alengkadiraja; akar permasalahan kisah ini bukan daerah kekuasaan atau tahta, namun lebih cenderung ke masalah wanita, yakni Sita.

Bharatayuda lebih menekankan masalah perebutan tahta dan daerah kekuasaan, yakni Astina. Pandawa kalah dalam permainan dhadhu (judi) dengan Kurawa. Kekalahan Pandawa karena akal licik Sangkuni membuat para Pandawa harus menjalani hidup di tengah hutan Kamiaka selama 12 tahun dan bersembunyi di Wirata selama 1 tahun. Pandawa dalam persembunyian tidak diketahui oleh para Kurawa. Maka menurut kesepakatan, Astina harus diserahkan oleh Kurawa kepada Pandawa. Duryudana berkeras hati tidak menyerahkan tahta dan negara Astina, akhirnya terjadi peperangan (Bharatayuda), setelah Kresna gagal sebagai duta Pandawa meminta negara Astina[23].

Uraian tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa, akar permasalahan konflik yang mengakibatkan peperangan antara dua kerajaan/ Negara yakni: tahta, wanita, dan daerah kekuasaan. Dua kekuatan besar di dunia, yakni keutamaan dan keangkaramurkaan selalu muncul dan berhadapan, sehingga terjadilah perang dan dalam peperangan itu keutamaan selalu memenangkan pertarungan.

Wayang, oleh para seniman diolah/ digarap sesuai dengan perkembangan zaman. Seniman dalam mengolah karya seninya bukan hanya menitikberatkan pada satu unsur saja, namun secara keseluruhan secara utuh, seperti narasi, dialog, dan suluk yang masing-masing dapat diekspresikan dengan menggunakan bahasa Indonesia, Inggris atau bahasa lainnya yang mudah dimengerti oleh khalayak banyak. Pertunjukan wayang berbahasa Indonesia, misalnya, dapat diolah berdasarkan pada kaidah pertunjukan teater modern. Uraian tersebut memberikan gambaran bahwa budaya, dalam hal ini wayang erat hubungannya dengan ideologi-politik (kekuasaan).

D. Kesimpulan

Pembahasan “Wayang dan Negara: Sebuah Tinjauan Simbolik Ideologi dan Politik” tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

Di dalam wayang terkandung simbol-simbol kehidupan yang dapat dipergunakan sebagai media komunikasi ideologi-politik.

Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara secara politis tersebar luas melalui wayang, baik digambarkan secara implisit maupun eksplisit (Semar mBabar Jatidiri/ Sang Hyang Wiragajati).

Permasalahan ideologi-politik dalam wayang berorientasi pada tahta, wanita, dan daerah kekuasaan. Terdapat dua kekuatan di dunia, yakni keutamaan dan keangkaramurkaan, masing-masing ingin menguasai tiga hal tersebut. Kekuatan keutamaan berhasil menguasai dunia, dan berkewajiban melangsungkannya hingga dicapai keadaan aman, tentram, dan damai.

Wayang dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu sebagai media untuk menyampaikan ideologi-politiknya kepada masyarakat luas, bukan hanya oleh penguasa negara namun juga partai-partai politik tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Amir, Hazim. 1991. Nilai-Nilai Etis dalam Wayang. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Darmoko, 1998. Wahyu dalam Lakon Wayang Kulit Purwa. Depok: FSUI.
———–. 1999. Wayang Bentuk Isi dan Nilainya. Depok: FSUI.
———–. 2002. “Ruwatan Upacara Pembebasan Malapetaka: Tinjauan Sosiokultural Masyarakat Jawa” dalam Makara Seri Sosial Humaniora, Vol. 6, No.1, Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
———–.2004. “Seni Gerak dalam Pertunjukan Wayang” dalam Makara Seri Sosial Humaniora. Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
———–. 2006. Kresna dan Bharatayuda pun Terjadi. Depok: Akademia.
Guritno, Pandam. 1988. Wayang Kepribadian Indonesia dan Pancasila. Jakarta: UI Press.
Hazeu, GAJ. 1979. Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami Ing Jaman Kina. Dialihaksarakan oleh Sumarsana dan dialihbahasakan oleh Hardjana HP. Jakarta: Departemen P dan K.
Moertono, Soemarsaid. 1985. Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-Hari Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Jakarta: PT Gramedia.
Peursen, C.A. van. 1989. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Saleh. 1968. Mahabarata. Jakarta: Balai Pustaka.
Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.
Siswoharsojo, Ki. 1957. Makuta Rama. Yogyakarta: Pesat.
Soeroto, Anom. 1997. “Kreativitas Pagelaran Wayang” dalam Hasil Sarasehan Dalang Indonesia dan Temu wartawan. Jakrta: Panitia Penyelenggara Sarasehan Dalang Indonesia dan Temu Wartawan.
Suparjo. 1941. Ruwatan: Ingkang Karuwat Tiyang Adang Karubuhan Dandang. Jakarta: Ruang Naskah FSUI.
Suseno, Franz Magnis. 1985. Etika Jawa. Jakarta: PT Gramedia.
Wibisono, Singgih. 1983. “Wayang Sebagai Sarana Komunikasi” dalam Seni dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

[1] Kertas kerja dipresentasikan dalam “Persidangan 50 Tahun Merdeka Hubungan Malaysia dan Indonesia” pada tanggal 17-21 Juli 2007 di Universiti Malaya, Malaysia.
[2] Ruwatan yakni upacara yang diselenggarakan dengan maksud agar seseorang atau kelompok orang yang terkena noda gaib/ sukerta dapat dibebaskan dari mara bahaya/ dimangsa batara Kala. Di dalam upacara tersebut sering dipergelarkan pertunjukan wayang dengan mengambil lakon tertentu, seperti Murwakala atau Sudamala; lihat Darmoko, Ruwatan Upacara Pembebasan Malapetaka: Tinjauan Sosiokultural Masyarakat Jawa dalam Makara, hal 30-36.
[3] Wayang dipandang sebagai seni pertunjukan yang menarik, memukau, dan menghibur.
[4] Di dalam wayang terkandung konvensi-konvensi yang diakrabi, baik oleh seniman maupun penonton; misalnya bagaimana komunikasi antara raja dengan senapati atau sebaliknya; raja dengan pendeta atau sebaliknya, dan sebagainya. (etika- udanegara); lihat Darmoko, “Seni Gerak dalam Pertunjukan Wayang”, dalam Makara Seri Sosial Humaniora, volume 8 no.2, Agustus 2004, Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
[5] Di dalam wayang terkandung ajaran-ajaran yang dapat dipergunakan sebagai pedoman hidup bagi masyarakat, misalnya: ajaran kepemimpinan: hendaknya seorang pemimpin meneladani watak matahari, bulan, bintang, angkasa, bumi, air, api, dan angina (asthabrata).
[6] Wayang Kancil yakni salah satu jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa, disajikan dengan menggunakan bahasa Jawa, mengambil kisah dari dongeng kancil/ pelanduk, boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerbau, dan diiringi instrumen gamelan.
[7] Wayang Suluh yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, diciptakan dengan maksud sebagai media penerangan rakyat.
[8] Wayang Krucil yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur; untuk di Jawa Tengah bernama wayang klithik. Wayang ini menyajikan kisah Damarwulan-Menakjingga dan boneka wayang terbuat dari kayu yang pipih.
[9] Wayang Madya yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah; mengambil kisah pada masa Kadiri. “Madya” artinya pertengahan, jadi kisah ini setelah “kisah purwa” / permulaan dan sebelum kisah “wasana”/ akhir. Dalam tradisi pewayangan dan pedalangan Jawa setelah raja Astina, Parikesit meninggal, berakhirlah masa “purwa” dan berganti masa “madya”.
[10] Wayang Golek menak yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah terutama di Kebumen dan sekitarnya. Kisah yang dipergelarkan dalam pertunjukan wayang ini bersifat ke-Islaman yakni tentang perjalanan tokoh utama Amir Hamzah.
[11] Wayang Sadat yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah, disajikan dengan maksud untuk menyebarkan agama Islam. “Sadat” berarti sahadat, suatu kesaksian seseorang untuk masuk agama Islam. Wayang ini mempergelarkan kisah perjuangan para wali dalam berdakwah di Jawa (Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Maulana Malik Ibrahim) dan boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerbau.
[12] Wayang Wahyu yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa; dipergelarkan dengan maksud untuk menyebarkan ajaran agama Katholik dan mengambil kisah dari kitab Injil.
[13] Wayang Parwa yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di Bali; mempergunakan bahasa Bali dan kisah yang dipergelarkan Mahabharata dan Ramayana; boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerba; menggunakan 4 instrumen gamelan (“gender”).
[14] Wayang Banjar yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di daerah Banjar (Kalimantan Selatan). Kisah yang dipergelarkan yakni “purwa”/ awal zaman terutama Mahabharata; boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerbau.
[15] Wayang Sasak yakni jenis wayang yang tumbuh dan berkembang di daerah Sasak (Lombok, Nusa Tenggara Barat). Kisah yang dipergelarkan yakni tentang perjalanan tokoh utama Amir Hamzah; dan boneka-boneka wayang terbuat dari kulit kerbau.
[16] Sang Hyang Tunggal melakukan samadi hening mohon petunjuk dan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa (Sang Hyang Wisesa) untuk mencipta sebuah telur menjadi makhluk hidup berupa dewa dan manusia; cakang telur menjadi Tejamantri/ Togog, manusia biasa yang mengabdi kepada tokoh-tokoh jahat di dunia; putih telur menjadi Ismaya/ Semar, dewa yang menyamar sebagai manusia di dunia dan mengabdi kepada tokoh-tokoh yang berada di jalan keutamaan; dan Batara Guru/ Manikmaya sebagai raja para dewa di Kahyangan.
[17] “Sastrajendrahayuningrat” mengisahkan tentang Dewi Sukesi, putri raja Alengkadiraja bersumpah siapapun yang dapat menguraikan makna pengetahuan tersebut dia lah yang akan menjadi suaminya. Begawan Wisrawa berhasil menguraikan pengetahuan tersebut, sehingga dia lah yang kemudian menjadi suami Dewi Sukesi, padahal sang Begawan tersebut seharusnya melamarkan untuk anaknya, Prabu Danapati, raja Lokapala.
[18] Macapat yakni puisi tembang Jawa dengan pola-pola metrum tertentu; terikat oleh banyaknya baris dalam satu bait, banyaknya suku kata dalam setiap baris, dan jatuhnya bunyi pada akhir baris. Metrum tembang-tembang ini berjumlah sebelas, yakni: dhandhanggula, sinom, pangkur, durma, asmarandana, kinanthi, megatruh, gambuh, mijil, pocung, dan maskumambang.
[19] Lakon ini merupakan bagian dari kisah Ramayana; pasca penculikan Sita oleh Rahwana, Rama telah mengetahui kedudukan Sita, yakni di Alengkadiraja, maka Rama, Laksmana, Sugriwa, Anoman beserta bala tentara kera membuat tanggul di lautan dari Pancawati menuju Alengkadiraja. Namun dalam usahanya membuat tanggul tersebut mengalami beberapa peristiwa kegagalan, karena tanggul dijebol oleh bala tentara Rahwana yang berujud raksasa. Berkat usaha yang gigih dari bala tentara kera tanggul tersebut dapat terbangun dan bala tentara kera dapat memasuki wilayah kerajaan Alengkadiraja.
[20] Lihat Franz Magnis-Suseno. 1993. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Hal.187-188. Jakarta: Gramedia.
[21] Mengenai makna wahyu dalam wayang dapat dilihat di dalam Darmoko. 1998. Wahyu dalam Lakon Wayang Kulit Purwa: Tinjauan Intrinsik. Depok: FSUI dan Sunoto. 1987. Menuju Filsafat Indonesia. Hal.29-37. Yogyakarta: PT Hanindita.
[22] Lihat Darmoko. 2006. Kresna dan Bharatayuda pun Terjadi. Hal.86. Depok: Akademia.
[23] Lihat Saleh. 1968. Mahabarata. Hal.98-105. Jakarta: Balai Pustaka, 5.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: