Wayang Gantung Singkawang di Ambang Senja

Gonggongan anjing yang gencar menghalangi langkah mendekati kuil tua. Tanpa penghuni kuil yang kebetulan saat itu sedang bepergian, bukan mustahil kami dikoyak anjing penjaga boneka-boneka wayang gantung Singkawang itu.

Demikianlah, pupus harapan melihat lagi boneka wayang gantung Singkawang, sekitar 180 kilometer dari Pontianak. Di kuil tua itu, dalam kotak kayunya, boneka-boneka wayang gantung pernah disembunyikan selama 30 tahun karena rezim Orde Baru mengebiri kebudayaan Tionghoa.

Beruntung, kami telah melihat pertunjukan wayang gantung itu di Gedung Olahraga Pangsuma, Pontianak, Kalimantan Barat. Kami terkesima walaupun tidak mengerti jalan cerita yang dituturkan dalang dalam bahasa Kek (salah satu bahasa daerah China).

“Wayang gantung dibawa ke Singkawang dari China daratan pada tahun 1929. Pertama kali dibawa kakek saya, A Jong. Dia cari uang dari pergelaran keliling wayang gantung,” kata generasi ketiga dalang wayang gantung, Chin Nen Sin, yang usianya di pengujung 60 tahun.

Di Desa Lirang, Singkawang selatan, di kediamannya yang sederhana, kami berbincang dengan Chin Nen Sin. Percakapan dibantu A Hui, kerabat dekat Chin Nen. A Hui-lah yang menerjemahkan ucapan Chin Nen, yang menggunakan bahasa Kek.

Kediaman Chin Nen Sin hanya 200 meter dari kuil tua itu. “Mirip di Jawa,” kata teman perjalanan, penulis lepas, Muhlis Suhaeri, mengomentari suasana sekitar itu. Kediaman Chin Nen dikelilingi sawah dan kebun palawija, dinaungi bebukitan Singkawang. Ketika itu udara sejuk karena hujan baru saja reda.

Kami makan ubi, hasil berkebun Chin Nen, suguhan yang jarang ditemui bila bertamu ke kediaman warga Tionghoa di Jakarta. Namun, di Singkawang bertani adalah hal biasa bagi warga Tionghoa. Mereka bahkan bukan petani kaya, tetapi petani gurem.

Jika tidak memainkan wayang gantung atau musik kecapi, Chin Nen memang beralih jadi petani. Kebutuhan air sawah terjamin, sebab di bukit yang terletak di belakang kediaman Chin Nen ada mata air. Terkadang Chin Nen mengisi waktunya dengan membuat lampion dan kemudian menjualnya.

“Cerita wayang gantung dibawa dari China. Ada cerita ksatria, ada pula percintaan. Kebanyakan cerita klasik, berdasarkan penuturan para tetua atau didongengkan dari ibu ke anak,” ujar Chin Nen.

Bila main di toapekong, pada perayaan ulang tahun dewa atau panglima perang, biasanya tuan rumah minta cerita klasik. Sebaliknya, di ulang tahun perkumpulan tertentu disajikan cerita yang “ringan” sesuai dengan keseharian.

Kini, sesuai dengan permintaan, cerita dimodifikasi. Kisah kehidupan rumah tangga maupun percintaan berlatar lokasi di Singkawang dinilai mengena. Ini mirip kesenian wayang kulit; agar menarik penonton, mengadopsi campur sari. Wayang gantung pun terkadang menampilkan biduanita yang membawakan lagu-lagu mandarin.

Modifikasi cerita wayang gantung sesungguhnya mereduksi makna positif berbagai kisah. Sebab, kisah China klasik mengandung nilai-nilai Taoisme, falsafah Konfusisme-yang dikenal sebagai nilai kebijaksanaan. Modifikasi apalagi kematian wayang gantung dapat menyebabkan “terlepasnya” generasi muda Tionghoa dari ajaran yang arif.

Berkurang

Menurut Chin Nen, harus diakui, penggemar wayang gantung sangat berkurang kini. Paling tersisa generasi tua. Saat Imlek atau Cap Go Meh (hari ke-15 Imlek), ketika orang China Singkawang dari seluruh dunia pulang kampung, barulah permintaan pertunjukan melonjak.

“Kebanyakan yang minta pertunjukan orang-orang tua yang sudah bungkuk-bungkuk dan pakai tongkat. Mereka itu tinggal di Jakarta dan kota-kota lain. Ketika pulang, lalu rindu masa kecil mereka,” kata Chin Nen menceritakan.

Alasan utama generasi muda tidak lagi suka wayang gantung adalah budaya pop China daratan maupun Hongkong dianggap lebih keren. Tekanan rezim Orde Baru selama 30-an tahun pun diperkirakan telah mengalienasi budaya itu dari kaumnya. Kaum muda Singkawang yang lahir pada tahun 1980-an tidak lagi akrab dengan wayang gantung.

Saat ini memang terjadi reformasi budaya China di seluruh Kalimantan Barat, tetapi motor penggeraknya orang-orang tua yang mapan. Ada berbagai motivasi. Ada yang tulus, ada pula sekadar menunjukkan eksistensi di kalangan Tionghoa.

“Kami punya 30 boneka wayang, semuanya dari China. Entah dari kayu apa, tetapi tidak lapuk maupun dimakan rayap. Paling dicat ulang. Lalu ketika bajunya koyak, kami jahit atau dibuatkan baju baru,” ujar Chin Nen menjelaskan.

Sekali tampil-beda dengan wayang kulit yang membawa semua wayangnya-biasanya hanya dibawa 10 boneka, sesuai dengan jalan cerita. Ada boneka bentuk dewa, panglima perang, bangsawan, kaum China terpelajar, maupun rakyat biasa. Ada boneka lelaki, ada pula boneka perempuan.

Wayang gantung dimainkan dengan bantuan benang. Ini berbeda dengan wayang kulit yang dimainkan dengan memegang kayu, wayang Po Te Hi yang dimainkan dengan sarung tangan, atau wayang golek yang dimainkan dengan memegang boneka wayang.

Jika pernah melihat sampul album film The Godfather yang dibintangi Marlon Brando dan Al Pacino, seperti itulah wayang gantung. Boneka dijuntai benang yang dikaitkan di kayu lalu digerakkan dua tangan.

Muhlis sangat tertarik dengan korelasi wayang gantung dan sampul album boneka gantung The Godfather itu. Namun, di Singkawang, kami tak mendapat jawaban mengenai hal itu. Hanya saja, dalam buku Gavin Menzies, 1421: Saat China Menemukan Dunia, disebutkan bahwa kebesaran armada laut Cheng Ho mengenalkan budaya itu ke Eropa.

Tiada beda dengan dalang wayang kulit yang menggelar sesajen sebelum tampil, dalang wayang gantung pun merapal mantra China kuno terlebih dahulu, dibarengi dengan mengorbankan ayam jago. Jika lalai, dikhawatirkan-dan pernah terjadi-benang bisa kusut dan boneka sulit dikendalikan. Tak jarang pula dalang kerasukan roh “leluhur”.

Butuh waktu 5-6 bulan untuk mahir memainkan wayang gantung. Dalang juga perlu keahlian untuk adegan berkelahi dan barongsai. Sebab, perpindahan benang bukan saja dari tangan kanan ke tangan kiri, tetapi juga persilangan tangan antardua atau lebih dalang.

Umumnya wayang gantung dimainkan oleh dua hingga empat dalang. Meski demikian, satu pertunjukan membutuhkan 12-14 orang, termasuk pemusik dan pengatur permainan.

Dalam konteks ini, kebanyakan pemain adalah kerabat Chin Nen. Sekali tampil mereka dibayar Rp 2,6 juta sampai Rp 3 juta. Honor itu selanjutnya dibagi kepada semua personel. Dalam setahun kelompok tersebut hanya mendapat 4-6 kali panggilan. Artinya, kegiatan itu tidak bisa dijadikan andalan keluarga. Karena itu, mereka umumnya juga harus bertani.

Tiga perkumpulan

Sebelum dilarang oleh penguasa Orde Baru, ada tiga perkumpulan wayang gantung di Singkawang. Kini tinggal satu. Selain surutnya penggemar, mandeknya regenerasi jadi momok.

Dari sembilan anak Chin Nen (lima laki-laki dan empat perempuan), hanya satu yang aktif membantu penampilan wayang gantung itu. Amoi itu pun hanya memainkan alat musik, bukan memainkan wayang.

Yang lebih memprihatinkan, hingga kini belum ada penelitian Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tentang wayang gantung Singkawang. Buku Peta Wayang di Indonesia (1993) dan Direktori Seni Pertunjukan Tradisional (1998/1999) keluaran Departemen Pariwisata juga tidak mencantumkan budaya wayang gantung itu.

Tampaknya wayang gantung Singkawang ini sudah di ambang senja….

Sumber: Kompas
Penulis: Haryo Damardono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: