Wayang Kulit : Eksistensi Perajin Antargenerasi

Selain identik dengan budaya Jawa, wayang kulit kini juga sudah menjadi budaya nasional dan merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Tidak hanya tampil dalam pagelaran, wayang kulit kini juga banyak digunakan sebagai pajangan dan produk kerajinan tangan lainnya.

Memang wayang kulit selama ini identik dengan tokoh-tokoh pewayangan, seperti Gatot Kaca, Semar beserta anak-anaknya atau Arjuna. Wayang kulit selalu dikonotasikan barang-barang budaya yang selalu digunakan dalam pagelaran semalam suntuk dengan lakonnya masing-masing.

Kini, wayang kulit yang merupakan produk berbahan baku kulit binatang seperti sapi, kerbau, kambing, dan lainnya itu banyak diproduksi sebagai produk yang dikategorikan sebagai suvenir. Kini, tokoh-tokoh wayang hadir pada produk lukisan, topeng, kap lampu, pembatas buku, gantungan kunci, kipas, dan aneka suvenir lainnya.

Salah satu yang hingga kini masih menggeluti usaha membuat produk wayang kulit serta produk kerajinan dan suvenir lainnya itu adalah Sugeng Prayogo. Pria asal Bantul, Yogyakarta ini mengaku sudah memproduksi wayang kulit serta produk aneka kerajinan/souvenir sejak tahun 2000.

Sosok muda dan energik ini membuat wayang kulit dan produk kerajinan wayang lainnya di rumahnya di wilayah Timbul Harjo Sewon, Bantul, Yogyakarta. Sugeng memiliki 5 karyawan yang membantu dirinya memproduksi dan memasarkan wayang kulit serta produk kerajinan wayang lainnya itu. Saat ini, Sugeng memproduksi sekitar 20 jenis produk wayang kulit dan lainnya dengan volume produksi mencapai 10.000 unit produk per bulan.

“Saya ini sudah mengenal seni wayang kulit sejak umur 6 tahun. Kakek dan Bapak saya dalang, sehingga saya sudah akrab dengan tokoh-tokoh wayang dan sering mengikuti pagelaran sejak kecil. Saya ini sudah generasi ketiga,” kata Sugeng ketika ditemui Suara Karya saat mengikuti pameran di Plasa Industri Departemen Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Selain memliki tempat produksi di kediamannya, Sugeng kini juga sudah memiliki gerai seni (artshop) di Malioboro Yogyakarta dan di Batam sebagai media untuk mempromosikan wayang kulit dan produk kerajinan/souvenir lain dari kulit. Selain itu, Sugeng juga secara intensif memasok ke toko-toko atau galeri seni yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Harga produk-produk wayang kulit dan turunannya produksi Sugeng dan karyawnnya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 500.000 per unit. Pendapatan kotor usaha yang bernama Wahyu Art ini mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan.

“Saya memproduksi wayang kulit dan produk souvenir berbasis wayang dengan tingkat kerumitan cukup tinggi dan lebih halus. Untuk satu produk wayang kulit dengan tokoh pewayangan atau wayang gunungan bisa memakan waktu satu minggu. Kualitas dan tingkat seninya selalu saya jaga,” tutur Sugeng.

Mungkin karena kualitas dan kehalusan tersebut, hingga saat ini para pembeli maupun kolektor masih memburu wayang kulit dan produk kerajinan berbasis wayang kulit lain yang dibuat Sugeng. Hingga saat ini, Sugeng juga masih mengerjakan produk wayang kulit pesanan para dalang yang masih eksis saat ini, maupun dari sanggar-sanggar seni.

Meski demikian, Sugeng mengaku, usaha produksi wayang kulit dan produk kerjainan turunannya itu bukanlah tanpa masalah. Saat ini, dua hal yang masih menjadi penghambat pengembangan usahanya, yakni masalah pemasaran dan mahalnya bahan baku.

Saat ini harga kulit kerbau atau sapi sudah mencapai Rp 50.000 per kilogram atau untuk kulit satu ekor bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 600.000. “Untuk produk saya sebenarnya yang paling ideal kulit kerbau. tapi kita tahu sendiri jumlah kerbau sendiri sudah semakin berkurang. Sementara kulit sapi banyak peminatnya,” ujar Sugeng.

Sementara, masalah minimnya promosi dan keikutsertaan dalam pameran membuat produk Sugeng tidak banyak diketahui masyarakat. Masyarakat hanya tahu kalau mengunjungi Yogyakarta, Batam, atau Jakarta. Untuk itu, Sugeng sangat berharap bantuan pemerintah daerah dan pusat agar tetap bisa ikut pameran.

“Saya ingin terus ikut pameran, tapi memang tidak mudah. Ini karena banyak produsen dan pengusaha yang sampai mengantre untuk ikut pameran. Jadinya promosi yang saya lakukan sangat terbatas,” kata Sugeng. (Andrian Novery)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=173616

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: