Wayang Orang Jawa Barat

Wayang orang adalah suatu bentuk teater daerah yang tempat pementasannya dan perlengkapannya sudah mengikuti teater modern Barat. Misalnya pentasnya yang berbentuk proscenium (satu arah) serta menggunakan layar depan, layar belakang dan seben (penyekat samping). Kemudian, pentas itu pun menggunakan setting yang merupakan layar belakang atau layar samping yang bergambar dan disesuaikan dengan yang sedang berlaku serta menggunakan tata cahaya dan tata suara seperti pentas modern Barat.

Cerita yang dipentaskan dalam wayang orang adalah cerita wayang, tetapi dimainkan oleh para pemeran yang harus menguasai gerak atau tari wayang. Suara para pemeran pun harus disesuaikan dengan peran wayang yang diperankannya. Setiap tokoh wayang memiliki patokan tersendiri mengenai gaya bicaranya. Dan ini harus sesuai dengan nada-nada tertentu sehingga tidaklah mudah menjadi pemain wayang orang. Pemain wayang orang harus pandai menari serta mempunyai perbendaharaan gerakan wayang bagi kelengkapan berperan (acting)-nya.

Di samping gerakan dan tarian serta suara yang harus sesuai, pemain wayang orang pun harus memiliki perawakan (wanda) yang sesuai dengan wanda wayang yang diperankannya yang telah ditentukan oleh patokannya sesuai dengan penggolongan dalam pewayangan. Misalnya seperti golongan Ponggawa; tokoh-tokoh wayang golongan ini badannya besar, kekar serta raut mukanya dari tampan sampai menyeramkan tergantung dari kedudukan.

Di samping Ponggawa, ada pula golongan Ksatria yang memiliki wajah tampan dan terkesan halus serta memiliki perawakan yang ramping, termasuk pula dalam golongan ini adalah peran wanita. Tutur katanya halus dan bertuturnya lamban, berlawanan dengan Ponggawa yang suaranya berat, tegas serta ada nada keras bagi yang mempunyai watak murka. Dalam gerak-geriknya pun ada patokan yang baku, termasuk tekanan serta tenaga dalam melakukan gerak-geriknya sesuai dengan tekanan suaranya yang dilakukan sambil bicara.

Para pemain yang memerankan tokoh-tokoh yang dipertunjukkan dalam wayang orang dituntut mempunyai kemahiran dalam mempertunjukkan tarian yang khusus bagi tokoh tersebut dalam suasana tertentu. Umpamanya, seorang atau serombongan prajurit yang bersiap akan maju ke medan perang atau bersiaga, tariannya tidak panjang hanya ada penekanan pada kegagahan dan kesiagaan tokoh-tokoh tersebut serta harus lengkap dengan pembendaharaan gerak tarinya yang sesuai dengan perwatakannya. Demikian pula dengan lagu iringannya terutama pola tabuh kendangnya dalam wayang wong gaya Sunda.

Terdapat beberapa tokoh wayang yang biasa memperlihatkan tarian yang panjang secara utuh seperti tokoh Gatotkaca yang wataknya monggawa lungguh. Gatotkaca biasa menari agak panjang dalam adegan siaga menghadapi tugas menjaga keamanan atau menjelang pertarungan dengan lawan yang disebut tari “Gatotkaca Maju Jurit“.

Selain itu ada juga tarian yang utuh ketika Gatotkaca sedang Gandrung. Tarian ini bisa disebut bahwa Gatotkaca yang tugasnya menjaga keamanan negara pernah jatuh cinta kepada seorang putri bernama Pergiwa. Akan tetapi, Gatotkaca yang tegap tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan perasaannya kepada idamannya, maka lahirlah suatu tarian yang disebut “Tari Gatotkaca Gandrung “ yang diiringi lagu Gunungsari.

Wayang lain yang sifatnya monggawa yang biasa ditampilkan dalam tarian yang utuh adalah Raja Danawa yang sedang gandrung. Di antaranya adalah Niwatakawaca, Raja Negara Manimantaka, yang menggandrungi bidadari Supraba yang ada di Swargaloka. Dalam tariannya ia digambarkan sedang berpakaian, membenahi diri, karena membayangkan akan bertemu dengan Dewi Supraba. Lalu ia membayangkan melihatnya dan memburunya untuk dipeluk olehnya, akan tetapi kenyataannya hanya dalam bayangan saja.

Ada pula tokoh Ksatria yang ditampilkan dalam tarian yang utuh, yaitu Adipati Karna yang dikenal sebagai ksatria yang gagah berani dalam membela negara Astina. Nampak dalam tarian itu ia membenahi dirinya untuk bersiap siaga tidak ada yang ditakutinya, tanpa latar belakang suatu kisah pribadinya tapi tariannya memberi kesan ksatria yang “Pinilih Tanding “ (tanpa tandingan).

Waditra untuk mengiringi pertunjukan wayang orang terdiri dari satu gamelan lengkap yang dipimpin oleh seorang dalang yang juga menyanyikan Kakawen, Murwa atau Suluk. Sedang wayangnya bicara sendiri yang disebut antawacana. Akan tetapi, lebih lengkap lagi kalau ada pesinden yang menyertai, terutama untuk mendukung suasana tertentu dengan nyanyiannya, umpamanya adegan sedih.

Sementara itu, para nayaga diharapkan dapat mendukung dengan tabuhannya maupun senggaknya, sehingga hal itu dapat membuat suasana menjadi riuh pada adegan pertarungan umpamanya, yang biasanya diisi dengan Tarian Tarung dalam bentuk yang utuh. Di sini lagu yang dibawakan adalah lagu Sireum Beureum untuk adegan tarung para ksatria, sedangkan untuk adegan pertarungan tokoh monggawa digunakan lagu Bendrong.

Walaupun pentas dan perlengkapannya meniru gaya teater modern Barat, tetapi gaya mainnya adalah asli daerah, terlihat dalam hal permainan yang tidak dipimpin oleh sutradara, meskipun ada pimpinan yang lebih umum sifat pimpinannya. Selain itu, dialog yang digunakan tidak menurutkan naskah yang tertulis untuk dihapalkan, tetapi lebih banyak dibawakan sendiri sesaat ketika berada di atas pentas atau improvisasi, walaupun ada dialog tertentu yang sudah menjadi baku dan telah menjadi pakem. Dahulu dialog-dialog itu diucapkan oleh dalang, sedangkan para pemain hanya menggerakkan tangannya seolah-olah ia berbicara. Akan tetapi, kini dalam pentas wayang orang Sunda yang juga biasa disebut “sandiwara wayang”, dialog diucapkannya sendiri.

Sekarang, gaya bicara yang seharusnya dilakukan dengan lagak lagu wayang, ternyata bercampur dengan gaya sandiwara yang agak lain gayanya, malah seolah-olah seperti gaya bicara biasa. Mungkin hanya tokoh Panakawan saja yang sebagai pelawak dari dulu menggunakan gaya keseharian dalam bicara. Tokoh panakawan wayang orang sama dengan pada wayang golek, yaitu Semar, Cepot, Gareng dan Dawala. walau gaya bicaranya gaya bicara keseharian, namun masing-masing memiliki ciri bicara sendiri. Umpamanya Semar sebagai ayah, biasanya ia menggunakan gaya berlagu tertentu, Cepot gaya bicaranya khas Sunda pedesaan dan tentu saja agak jenaka karena suka membelok kesana kemari, Dawala gaya bicaranya seperti orang yang gugup agak lamban dan cadel sedang Gareng gaya bicaranya tegas tetapi agak kejawa-jawaan dan ceplas ceplos.

Dahulu rombongan wayang orang dimiliki oleh seorang dalang yang sekaligus membiayai segalanya. Pemainnya tak hanya pemain profesional, tetapi juga ditambah dengan yang masih amatir sebagai pemain sambilan. Selanjutnya, bantuan diberikan juga oleh satu atau dua sponsor yang membantu pembiayaan, jadi tidak ada lembaga seperti Keraton atau Kabupaten (kabupatian) yang mensponsorinya. Akan tetapi, pernah wayang orang secara sporadis dibiayai oleh Kabupaten dalam menghadapi suatu pementasan untuk meramaikan peristiwa tertentu, di antaranya semasa Bupati Panyelang Bandung, R.A.A Martanagara, yang mementaskan wayang orang Ramayana. Kemudian Bupati Bandung R.A.A.M. Muharam Wiranatakusumah yang mensponsori pementasan wayang orang Laraskonda. Pada saat itu para tokoh tari Sunda dikumpulkan.

Pada tahun 60-an, Persatuan Padalangan Jawa Barat (PPJB) di Bandung pernah mengadakan pementasan wayang orang yang sebagaian besar dimainkan oleh para dalang. Pementasan tersebut sungguh sangat mengesankan, antawacananya dibawakan dengan sangat mahir dan tariannya dibawakan oleh Mang Olas (Eon Muda) sebagai pmeran tokoh Baladewa dengan sangat mempesona.

Disamping pementasan wayang orang di atas, ada pula pementasan wayang orang yang dimainkan oleh anak-anak anggota perkumpulan “Sekar Binangkit“ di bawah pimpinan Abah Kayat, seorang seniman terkenal dari Babakan Tarogong. Ternyata mereka dapat menyajikan pentas wayang orang yang menjanjikan, di antaranya dalam tata rias muka mereka merujuk kepada wayang golek termasuk Panakawannya.

Pada tahun 1957, Daya Mahasiswa Sunda (Damas) melakukan pemugaran wayang orang gaya Sunda yang mereka sebut sandiwara wayang yang dipimpin oleh R. Sambas Wirakusumah pimpinan “Perkumpulan Wirahma Sari “ dari Rancaekek sebagai tokoh yang pernah menekuni wayang orang pada zaman sebelum kemerdekaan. Bahkan beliaulah yang menjadi pemeran Laraskonda sewaktu pementasan wayang orang di Pendopo Kabupaten Bandung pada zaman Bupati Wiranatakusumah. Pemugaran wayang orang itu mengambil cerita “Jabang Tutuka“ yaitu tentang lahir dan tumbuhnya pahlawan Gatotkaca, ksatria Pringgandani. Para pemainnya selain para mahasiswa juga ada yang dari Rancaekek yaitu dari Perkumpulan Wirahma Sari.

Rombongan sandiwara yang ada di Bandung juga pernah tersaksikan mementaskan sandiwara wayang yang permainannya cukup lumayan serta mereka mampu bermain secara beruntun walaupun pemainnya hanya sambilan orang. Perlu dicatat, para pemain sandiwara di Jawa Baratmemang sebagian besar pemain sambilan. Di antara mereka ada yang mempunyai pekerjaan tetap di samping sebagai pemain sandiwara yang cukup meyakinkan. Disayangkan memang, rupanya orang Sunda tidak begitu menyenangi pementasan sandiwara wayang dibandingkan dengan kegemaran mereka menonton wayang golek. Tetapi, kalau sandiwara cerita lain, seperti cerita dari wawacan De Sheik (cerita Seribu Satu Malam) dan lakon biasa keseharian yang disebut drama, maka akan lebih banyak penontonnya.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-orang/

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: