Wibisana, Menjadi Manusia Arif Setelah Melampaui Dilemma

Wibisana bagi mistikus adalah Gunawan, yaitu manusia yang sudah mencapai tataran arif atau menerima makrifat. Sedang bagi pewayangan perjalanan Wibisana jgua melambangkan kerinduan orang suci yang telah mencapai tingkat gunawan arif (makrifat) yang ingin (bergabung) menjadi satu dengan Kebenaran sejati (Rama). Kisahnya cukup menarik. Coba perhatikan cara Wibisana berusaha menjauhkan diri dari angkara murka (mingkar mingkur ing angkoro).

“Duh kakanda Maha Raja Rahwana”. Demikian Wibisana menyatakan pendapatnya. “Pertimbangkanlah, benar-benar keputusan kakanda untuk berperang melawan Sri Rama. Karena perang kali ini menurut pendapat hamba hanyalah semata-mata memperebutkan putri curian. Perang ini jelas akan membawa malapetaka dan pemusnahan darah dan putra-putra Alengka. Kalau demikian halnya apakah faedah perang ini? Sri Rama adalah seorang maha sakti gagah perkasa berbudi luhur dan jujur.

Ingatlah, guru kakanda Resi Subali tewas karenanya. Begitu pula Argasoka dulu adalah pertapaan dan tempat pesemadian nenek moyang kita, yang karena keramatnya mega piyak mendung menyibak, bahkan burun jatuh ketanah muntah darah, bila berani terbang melintasinya. Tetapi apa sekarang jadinya. Sekarang hanya satu kera duta Sri Rama sanggup merusak membakar dan memusnahkannya dengan mudah. Dilihat sepintas lalu memang Sri Rama hanyalah seorang diri tetapi beliau mempunyai senjata ampuh Gunawijaya, pemunah angkara murka.

Lebih lanjut Wibisana berkata:

“Beliau adalah penjelmaan Wisnu, sedangkan Wisnu adalah sumber hidup dan kehidupan. Hidup adalah suci. Hidup adalah adil. Adil adalah Kebenaran. Hanya satria yang demikian itulah yang akan menang. Kalau kakanda kalah, semua orang akan mengutuk perbuatan paduka. Rakyat akan meninggalkan paduka. Bahakan binatangpun akan memusuhi pula.
O Kakanda dengan segala hormat dan kerendahan hati serta demi keselamatan Negara, bangsa dan paduka sendiri. Kembalikanlah Sinta kepada Sri Rama.”

Rahwana tak sabarkan diri sambil meloncat mengumpati Wibisana. “Biadab diam. Prajurit penakut perang. Minggat dari sini.”

Wibisana tahu bahaya yang akan minimpanya maka dengan ceketan menghindarkan serangan dan pergi meninggalkan Alengka bersatu dengan Sri Rama.

Di sini Wibisana memilih kebenaran mutlak daripada memilih “membela raja”. Pilihan Wibisana menyebabkan pertentangan antara dua motif pokok yaitu: Memilih antara kebenaran mutlah dan membela kerajaan, dua konflik yang sama berat dan seimbang.

Membela kerajaan berarti mengkhianati kebenaran atau mengikuti angkara, sedangkan membela kebenaran berarti mengkhianati kerajaan/negara. Oleh karena itu dalam pewayangan pada waktu kaki kiri Wibisana sudah menginjak bumi Maliawan dan kaki kanan masih di bumi Alengka, ia berhenti sejenak yang oleh Ki Dalang diceritakan sebagai berikut:

“Mandeg greg kadyo tugu sinungkarta Raden Wibisana oneng jroning penggalih, jagad mendung pada sanalika, manuk-manuk kang pada mabur pada nyalorot ing lemah pating ketotor wulune, mino-mino kang ana jroning telaga pada ngambang minggir ing gisiking telaga bebasan godongan tan ora obah, labet samirana datan lumampah.”

Artinya:

“Berhenti tegak berdiri laksana tugu yang berbusana. Wibisana bimbang hatinya. Dunia gelap seketika, burung-burung yang sedang terbang segera menukik ke tanah, sayap dan bulunya tak teratur, ikan-ikan dalam telaga menepi, seolah-olah daun-daunpun tak bergerak karena tak ada angin yang menghembus.”

Pocapan dalang tersebut dapat diartikan sebagai gambaran terjadinya moral dilemma atau konflik batin yang rasanya seperti

“Makan buah simalakama, dimakan ibuknya meninggal tidak dimakan ayahnya meninggal, sehingga maju tatu (luka) mundur ajur.”

Karena hebatnya konflik dalam batin Wibisana sehingga jagad samapta bhawana berhenti sejenak yang oleh Bapak Prof. Dr. Santoso diartikan “No Comment”. Sedang dalam istilah filsafat dan mistik disebut “Mysterium tremendum at fascinosum”, dalam Wedatama kejadian ini disebut “momor pamoring sawujud, yen wis ilang mamang sumelanging kalbu.”

Artinya:

Persatauan dengan cahaya wujud kalau sudah hilang rasa ragu-ragu dan was-was hatinya.

Demikianlah hidup. Tak ada satu kehidupan tanpa mengalami dilemma dan ragu-ragu. Hanya dengan keteguhan jiwa dan kesentosaan batin, maka manusia pasti akan menemukan kebenaran sejati.

IR SRI MULYONO

BUANA MINGGU. 16 MEI 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: