Wisrawa, Seorang Pendeta Yang Tergiur Melihat Gadis Idaman Anaknya

Wisrawa adalah seorang raja di negeri Lokapala. Karena sesuatu hal, Wisrawa meletakkan jabatannya dan memilih hidup sebagai pendeta. Pemerintahan dan mahkotanya ia serahkan kepada putranya bernama Danapati. Ketika raja Danapati sedang gandrung, mabuk asmara dengan Sukesi putri raja Sumali dari negeri Alengkadiraja, ia diminta tolong anaknya untuk melamar Dewi Sukesi. Dengan senang hati Wisrawa memenuhinya.

Tetapi setelah Wisrawa melihat kecantikan Dewi Sukesi dan berhasil menjabarkan teka-teki dari Sukesi yang berupa ilmu rahasia “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”. tiba-tiba detak jantungnya menjadi makin deras, napasnya terengah-engah, peluh dingin membasahi tubuhnya dan runtuhlah imannya.

Wisrawa jatuh cinta kepada “pacar” anaknya. Aneh bukan? Tetapi nyata. Inilah yang dinamakan lupa tergelincir oleh goda dan terperosok dalam lembah hina. Ringkasnya Wisrawa mengawini Sukesi, dengan dalih “kodrat, dawuh dan wisik”.

Tetapi apapun dalihnya, perbuatan ini tetap terkutuk dan munafik. Anehnya raja Sumali menerimanya pula, bahkan bergembira mempunyai menantu Wisrawa. “Itu adalah logis”, kata Sumali, “sebab undang-undang sayembara menyebutkan bahwa siapa yang dapat menguraikan teka-teki dari Sukesi itulah yang akan menjadi suami anakku,Sukesi.”

Ketika berita skandal perkawinan itu sampai di telinga Danapati, bukan main marahnya. Tanpa berpikir panjang Danapati mengerahkan seluruh kekuatan militernya ke Alengka untuk menghukum ayahnya. Apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur, tidak ada jalan lain kecuali Wisrawa harus menyambut anaknya dengan “pendirian”, rela mati di tangan anaknya sendiri, sebagai penebus dosa. Berperanglah anak dan sang ayah tersebut berebut wanita. Ini fakta.

Memang, hubungan anak dan ayah itu adalah biologis. Tetapi kalau sudah menyangkut uang, wanita, kursi (Harta, Wanita, dan Tachta) akan lupa dan lain lagi posisinya. Kalau perlu mengorbankan nyawa. Ah, pendapat itu tidak benar, iadalah soal moral dan etis.

Danapati ingin segera mengakhiri skandal ayahnya dan ia mengangkat busur dan meraba panah saktinya, tetapi sebelum panah lepas dari tangannya, maka datanglah Dewa keadilan dan bersabda:

“Hai Danapati, kau tidak berwenang menjadi hakim sendiri, engkau berdosa besar, berani melawan ayahmu. Bukankah eksistensimu itu karena ayahmu? Kelak kau dan negerimu akan musnah karena adikmu yang lahir dari Sukesi. Ingat-ingatlah, namanya Rahwana, dialah penyebab ajalmu. Inilah hukumanmu. Begitu juga kau Wisrawa, kau telah mengkhianati anakmu, kau membuat malu rakyatmu, kolegamu, para brahmana dan pendeta malu karena perbuatanmu. Oleh karena itu dewa menghukummu, saksikanlah sendiri !”

Betul juga, kelak Wisrawa dan Sukesi akan melahirkan manusia Rahwana berwujud gumpalan darah, bermula sepeluh. Anak kedua berwujud raksasa besar, telinganya sebesar telinga gajah, Kumbakarna namanya. Sedang anak ketiga adalah rakseksi Sarpakanaka, berkuku panjang mengkilat yang mengandung racun. Kelak, Danapati akhirnya mati digigit oleh Rahwana. Inilah karma “ngunduh wohing panggawe”.

IR SRI MULYONO

BUANA MINGGU , 28 MARET 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: