Ada Semut di Benteng Vantensburg


HALILINTAR seakan marah. Hujan menderu. Di malam gulita, angin putting beliung menyapu habis sarang para binatang. Peralihan cuaca itu memang terasa tak wajar. Ramalan BMG meleset. Kemarau ganjil itu membuat rayap kelaparan menjarah desa di wilayah kerajaan semut. Raja rayap sampai minta maaf atas serangan itu.

Adalah ratu semut Nyi Gadag dari Dinasti Semut Gadag yang sedang putar otak menyelamatkan warga. Ia undang seluruh rakyat semut untuk berkumpul di halaman istana semut. ”Wah, uasik. Pasti distribusi gula Jawa gratis,” celetuk Semut Ireng. ”Rak mungkin. Gula Jawa sulit dicari,” sahut Semut Punkrock.

Dari balkon kerajaan semut, Nyi Gadag merambat pelan didampingi Semut Rangrang. ”Rakyatku, aku salut. Dalam keadaan seperti ini, kita masih bertahan,” ujar Nyi Gadag membuka pidato. Rakyat kerajaan semut saling berteriak menyemangati sesama. Selanjutnya, Nyi Gadag minta kesadaran warga. Demi keamanan, kerajaan harus direlokasi ke pedalaman Jawa Tengah. Mereka menuju Solo alias Surakarta yang kondang dengan sebutan Kota Budaya, dengan motto Spirit of Java.

”Ilmuwan semut sudah melakukan riset. Kita cukup hidup di sana. Itu jalan terbaik untuk menghindari kemusnahan. Di sana kita lebih makmur karena ada benteng Vantensburg yang akan dibangun menjadi hotel Beauty yang megah,” kata Nyi Gadag menutup orasinya.

Pagi harinya, warga yang setuju relokasi berkumpul. Senyum ceria plus optimisme menyertai arak-arakan ribuan barisan semut. Mereka menyemut begitu panjang menuju Surakarta. Satu bulan, perjalanan rombongan itu sampai. Mereka bahu-membahu membangun infrastruktur New Aunt Castle. Lahan benteng Vantensburg yang seluas 5 ribu meter mereka kapling-kapling. Tepat bulan purnama berikutnya, mereka syukuran ala kadarnya. Semut betina memasak di dapur, semut jantan mempersiapkan tempat, sedangkan anak-anak semut latihan berbaris di pagar benteng. Siaapp, grak! Juuuuu, jalan!!

Mendadak, dari luar benteng terdengar suara musik keras dari seorang pengamen yang melantunkan lagu Maju Tak Gentar. Pengamen lain membacakan sikap, lantang. ”Siapa pun yang ingin kuasai benteng Vantensburg adalah perampas!”

Semut-semut membisu. Para betina memanggil dan memeluk anak-anaknya. Suara pekikan menghujat kepemilikan benteng Vantensburg kian lantang. Tarik menarik antara investor dan masyarakat yang menolak pendirian hotel Beauty di atas benteng kian santer. Akibatnya, di benteng itu mulai tak ada makanan. Stok gula menipis. Banyak semut kelaparan dan mulai sakit kekurangan gula. Hampir setengah spesies semut musnah. Lalu, muncul mosi tidak percaya terhadap ratu semut Nyi Gadag.

Mata para semut membara. Di benak mereka hanya ada satu tujuan: tangkap dan kudeta ratu semut Nyi Gadag. Akhirnya, ratu semut melarikan diri dikawal Semut Rangrang.

Siang malam merambat, sampailah mereka di Ngamarta. Mereka bertemu Bima yang sedang ngambek di warung tegal. Bima purik karena Kuku Pancanaka-nya digadaikan Arimbi, istrinya, untuk bayar utang. Memang, Bima sedang bokek ekonominya.

Kedua semut pelarian itu memberi tawaran Bima. Jika dia bisa membantu bangun hotel Beauty plus jaga keamanannya, maka bonus besar sudah menunggu. Ternyata, Bima tambah nggondok. ”Tak pithes, koen. Gue miskin tapi tak sudi jual cagar budaya bangsa,” katanya. Kedua semut dilempar jauh di pinggir hutan. Untung Bima tak memburu dan menyemprot mereka dengan obat serangga.

Kedua semut lantas memutuskan bertapa. Setiap satu jam, setetes gula sisa persediaan dibakar di atas dupa untuk para dewa. Gegerlah kahyangan. Narada segera meluncur menemui Ratu Semut. Atas keputusan rapat pleno, para Dewa memutuskan mengabulkan satu permintaan makhluk kecil itu. Ratu semut meloncat gembira. Ia hanya minta rezeki gula dan makanan yang banyak untuk para bangsa semut.

”Oke. Tapi, di mana kamu mau dapat gula?” tanya Narada. Begitu tahu bahwa para semut itu tinggal di benteng Vantensburg, Narada langsung marah. Sebab, para dewa juga menolak pembangunan hotel di atas tanah benteng. Kedua semut ditangkap Narada. Mereka dibuang jauh ke dasar jurang. Sepeninggal Narada, kedua semut mencari jalan keluar dari jurang. Gremet-gremet pas sprint, kaki ratu semut terantuk sesuatu. ”Yuhui, pasti ini makanan,” seru ratu semut sambil mengambil benda tersebut.

Setelah diteliti…, ”Bukan, Baginda. Ini buku putih sejarah benteng,” terang Semut Rangrang. Dalam buku itu dituliskan, orang Jawa dijajah Belanda dan Jepang. Tanahnya dirampas dan dijadikan benteng Vantensburg. Kini benteng di zaman modern itu kembali dirampas investor dari rakyat dan hendak dijadikan hotel.

Ratu semut meneteskan air mata membaca sejarah penderitaan rakyat tersebut. Cepat, ratu semut melalui radar di kepalanya meminta seluruh semut ikut pertahankan benteng Vantensburg. “Memang ada gula ada semut. Itu motto kami. Tapi, sadumuk bathuk sanyari bumi, ikut pertahankan benteng Vantensburg lebih penting untuk anak cucu kita,” tegas ratu semut tanpa kompromi. (*)

Dalang : Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: