Anak Ajaib di Jombang

PAGI keluarkan kabut dari rahimnya. Matahari pun membelai-belai mesra embun pagi, membangunkannya dari lelap mimpi. Sebuah mobil besar, mereknya Fortuner, ngebut di jalan by pass Madukara menuju arah sebuah lembah. Kereta bermesin itu dikemudikan Parto Jenggleng ditemani Semar dan Bagong yang masih terlelap di kursi belakang.

Semar yang duduk di sebelah driver memicingkan mata sipitnya. Dia peringatkan si sopir untuk tetap tenang. Sebab, mobil ngebut buanteeeree ora umum. Mereka menuju Istana Api, daerah lembah Si Goyang yang sejuk dan segar. Lembah itu penuh cemara bertebaran yang saling bercengkerama.

Bukan, mereka bukan sedang ngelencer. Semar cs punya tuntutan tugas akhir. Untuk kesempurnaan ilmunya, berdasar saran dosen pembimbingnya, Prof Dr Brahma, hanya lembah Si Goyang yang akan jadi tempat riset untuk meluluskan Mas Wisanggeni secara cum laude dukun sakti.

Mas Wisanggeni masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Universitas Spiritual Manjur Banget (Unsmab) Fakultas Ilmu Batu Ajaib. Waktu penerimaan mahasiswa, dia dimasukkan sebagai mahasiswa berpotensi jadi dukun mujarab.

Sesampai di tempat yang dituju, para Punakawan mendirikan tenda dan menata perkakas serta perbekalan yang mereka bawa. ”Gong, Bagong, tolong bawakan ke sini notebook (baca: notbuk)-ku,” perintah Mas Wisanggeni. ”Ok, boy,” jawab Bagong.

Memori komputer yang merekam semua catatan penting kejadian alam itu dibuka. Misalnya, kambing bermata tiga, hingga singa punya tanduk kembar lima. Setelah dibaca beberapa kali dan memahami, Wisanggeni tafakur sejenak. Dia lantas mengumpulkan Semar dan bagong. Wisanggeni lantas berpesan bahwa dia akan menyepi beberapa hari di dalam Istana Api. Dia lalu minta semua alat komunikasi di-off.

Wisanggeni melangkahkan kaki menuju ambang pintu Istana Api. Terasa dalamnya kian terang dan menyilaukan. Wisanggeni mengenolkan pikiran. Tapi, entah dari mana datangnya, muncullah seorang perempuan seksi. Tampak, Dewi Api meliuk-liukkan tubuhnya bak penari striptease. Ditanggalkannya helai demi helai kain penutup tubuhnya sampai hanya tinggal tubuhnya yang membara.

”Gila, ternyata bukan hanya di dunia internet ada striptease. Di alam seperti ini juga ada penari telanjang,” gumam Wisanggeni dalam hati. Ketika Wisanggeni mencoba memeluk, Sang Dewi Api berubah menjadi batu merah. Wisanggeni gembira hingga histeris. Dia merasa dapat batu ajaib pertama.

Belum sempat Wisanggeni menyimpan batu merah, sosok hitam berjalan mendekatinya. Kumisnya ketel, celana dan bajunya dari besi, kakinya panjang, rambut riwog-riwog, serta (ini yang nggilani) sepuluh kepala di lehernya. Itulah Rahwana, orang paling jahat di dunia. Wisanggeni sembunyi. Namun, Rahwana yang melihatnya malah tertawa terbahak. ”Wisanggeni, untuk apa kamu jadi orang sakti? Katanya kamu punya tuhan, haha,” ejek Rahwana.

Wisanggeni tak mau menanggapi ejekan itu. Dia ringkus Rahwana yang hanya bisa tertawa tak melawan. Rahwana pun raib dan berubah jadi batu hitam. Wisanggeni bersorak kegarangan. Itu batu kedua yang dia temukan. Ia pun bernafsu ngeduk sisi spiritual Istana Api dengan mengambil semua batu yang dianggap ajaib.

Tiba-tiba, kesunyian Istana Api dikejutkan teriakan Bagong yang lari pontang-panting. Dia serahkan hasil print-print-an email dari Prof Brahma. Kata mahaguru itu, untuk jadi orang sakti, Wisanggeni tidak perlu semedi di Istana Api. Seharusnya malah di Istana Air. Wisanggeni tak peduli. Dia sudah muak dengan gurunya itu. Wisanggeni sudah merasa mumpuni, bisa sembuhkan siapa pun dengan batu dari Istana Api.

Sepulangnya di Madukara, Wisanggeni langsung buka praktik pengobatan penyembuhan segala penyakit. Tapi, aneh, baik email, fax maupun telepon dari orang yang dia tawari pengobatan selalu berisi penolakan. Kata orang-orang itu, maaf ye, gue udah punya anak kecil yang bisa obati dengan sip. Yuk kite ke Jombang, berobat ke Ponari.

Wisanggeni penasaran dengan berita itu. Dia ajak Semar ke Jombang. Sesampai di tempat praktik itu, dia lihat ribuan orang berjubel, bersikeras mendapat air yang dicelupi batu oleh Ponari. Wisanggeni tertunduk lesu melihat kenyataan itu. Dia merenung. Bisa jadi, sabda Prof Brahma betul. Ponari bertapa di Istana Air hingga dapat batu ajaib yang mujarab.

Semar geleng kepala saksikan peristiwa aneh di Jombang. Dalam batin, Semar merasa kadang Tuhan ingin memberikan anugerah-Nya lewat apa pun. Bahkan, mungkin termasuk lewat Ponari. Tapi, jika orang-orang mulai menganggap bahwa Ponari adalah yang Maha-memberi obat, maka itu jadi syirik dan dosa besar yang seharusnya dihindari. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: