Anakmu Bukan Anakmu


Are’ Suroboyo asli Wonokromo ini saben hari gonta-ganti kostum wayang orang. Dia tidak ngimpi jadi ketua umum Golkar. Perawakan-e saja sing mirip Surya Paloh. Brewok-e persis juga. Kadang brewok sa’ kumisnya disemir putih. Terus nyandang kostum wayang Hanoman lengkap. Ambe’ kostum serbaputih itu jalan-jalanlah dia sledrang-sledreng di Tunjungan. Jadi tontonan.

Pancen aneh-aneh. Kadang jambang, kumis ambe’ jenggot-e diklimis-no. Pakai kostum Pandita Durna. Nongkrong di Blauran. Jadi tontonan. Cangkruk nduk depan Balai Pemuda pakai kostum Raden Burisrawa. Itu lho raksasa sing kedanan bojone Arjuna. Waduh, lalu-lintas Jalan Pemuda macet total persis ne’ ada presiden mau lewat.

Tapi ada yang ngomong dia bukan asli Wonokromo. Kabar-kabur bilang lelaki separo umur ini wong Porong sing terusir lumpur Lapindo ngungsi di Lombok. Nduk Lombok dia frustrasi karena budaya gotong-royong ternyata sudah mati juga seperti di pelosok-pelosok lain. Masa’ kalau greget gotong-royong itu masih hidup, ndorong ke laut ikan paus 12 meter sing terdampar saja nda’ isa sampai akhirnya diiris-iris. Dimakan.

Aku dewe lebih yakin versi yang ini: Ndak pathe’en wong lanang itu asli Wonokromo, Porong, atau Gunung Argopuro. Pokoknya dia pengusaha tulen. Ndak kalah karo Pak Surya Paloh dan Mbak Tutut. Dia dulunya buka penyewaan kostum wayang orang dan ketoprak. Tapi orang-orang Nusantara wis ndak ada sing mau main wayang lagi. Wayang orang mati, bareng mati-ne ketoprak, kejet-kejete ludruk, dan lain-lain.

Ketimbang kostum itu nganggur, ya dia sewa sendiri saja. Moso’ harus dijual juga kayak pulau-pulau di Mentawai, Sumatera Barat. Saweran orang-orang yang nonton dia di jalan-jalan, lima puluh persen dulu buat makan dan operasional. Sekarang 99,99 persen karena harga bahan-bahan pokok seperti gula wis naik-naik. Sisanya dicemplung-no ke bekas kaleng biskuit. Pura-puranya ongkos sewa nang awake dewe.

Yang hilang dari tempat penyewaan pakaian wayangnya cuma kostum Ponokawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Makanya ketika di bawah pohon randu dekat Pasuruan lelaki ini kepergok empat oknum pakai seragam Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, kontan dia tuduh mereka sebagai maling kostum-kostumnya. Tertuduh ndak ada yang ngaku. Hampir saja mereka ribut baco’-baco’an dengan lelaki yang berpakaian bagian atas Prabu Yudhistira bagian bawah Menakjinggo ini.

Yang berpenampakan Semar kasih jalan keluar. Ketimbang kita eker-ekeran, petuahnya, toh kita sama-sama orang laper, sama-sama pengangguran, mending kita ngamen saja mlipir ke timur sampai Banyuwangi. ”Ini masih pakem juga,” tambahnya, ”sebab di wayang purwa ada lakon Semar Mbarang Jantur alias Semar Ngamen…Eling kan? Itu lho, lakon menjelang mantenan Arjuna dan Subadra…”

Gareng, Petruk, Bagong, dan Prabu ”Yudhis-Jinggo” akur.

Ke timur, di Pasar Probolinggo, atas usulan Prabu ”Yudhis-Jinggo” mereka membawakan fragmen ”Anakmu bukanlah anakmu”. Ini sebenarnya dicuri dari penyair dunia Kahlil Gibran. Intinya, Gibran wanti-wanti, anak kita itu lho, ndak full tenan jadi milik kita. Mereka punya cita-cita sendiri yang nda’ isa kita setir. Mereka adalah anak-anak panah yang melesat dari busur-busurnya sendiri.

Sayangnya, bukan intisari itu yang sampai ke penonton. Orang-orang yang mengelilingi mereka seperti merubung tukang obat kuat. Mereka hanya mencuplik satu baris pertama, ”anakmu bukanlah anakmu”. Bagong sambil melotot-melotot terus saja cuma bilang itu. Petruk sambil cengengesan juga terus-menerus cuma bilang begitu. Semar, Gareng, dan Prabu ”Yudhis-Jinggo” sami mawon.

Penonton, karena semuanya pengangguran dan belum sarapan, gampang panik. Mereka segera menghambur pulang nyecer istri, ”Dik, Dik, si’ ta lah, anakku itu lho, sebetulnya anak siapa ya?” Di jalan-jalan di pematang-pematang seabreg arek cilik cekikikan dikejar-kejar bapak resminya sambil ditanya, “Hoi, hoi, hoi, Le, koen sejati-ne anak-e sopo hoi ?”

Wah, wah, wah, sayangnya ini bukan zaman sepur kluthuk. Ini zaman kebangkitan perempuan. Perempuan diistimewakan. Wong di mal-mal saja ada parkir khusus buat perempuan kok.

Mendengar suaminya yang pengangguran itu datang-datang langsung punya kerjaan jadi jaksa penyidik, para istri ndak terima. Mereka berani mengganyang, lebih berani dibanding Indonesia ke Malaysia atau Singapura. Mereka ngamuk. Kota geger. Rombongan Semar Mbarang Jantur diusir. Petruk dan Bagong pengin bablas ke Jember, kota suaminya Krisdayanti, Anang. Ah, jangan ke selatan. Gareng ndak setuju. Katanya, nanti ae kalau Ca’ Anang wis rukun lagi karo penyanyi Kota Batu itu. Maka, mereka terus terbirit-birit ke timur, ngamen di Pasar Mimbaan Situbondo. Kapok main fragmen soal anak, dibalik, mereka main fragmen soal ibu. Siapakah ibu itu sebenarnya?

Gareng berpikir keras. Anak sulung Semar ini mengingat-ingat syair lagu Ibu Pertiwi dan Ibu Kita Kartini. Sayang, dari keduanya Gareng kecewa. Ia tidak mendapat jawaban siapa ibu itu sebenarnya. Gareng hanya merasa dikasih tahu bahwa ibu itu orang yang air matanya berlinang dan mas intannya terkenang…bahwa ibu adalah pendekar kaumnya yang harum namanya.

Tapi siapakah ibu?

Semar bangkit. Katanya, “Reng, yang bisa menjawab awakmu itu lakon ketika Dewi Kunthi nanya ke anak yang dulu pernah dia buang terus dibesarkan oleh orang lain, yaitu pihak Kurawa. Anak itu Adipati Karno. Kunthi takon bukankah aku ibumu karena aku yang melahirkan kamu. Tegas jawab Adipati Karno, seorang ibu bukanlah orang yang melahirkan. Seorang ibu adalah orang yang merawat dan membesarkan…..”

Oooo…Kunthi pingsan…Oooo Jagad dewo bathoro yo jagad pangestungkoro…

Langit merah. Petir menyambar. Tatkala itu televisi di toko elektronik dekat pasar kasih berita, Tari Pendet diaku milik Malaysia.

”Nah, itu contohnya,” lanjut Semar sambil menuding ke televisi di dekatnya ngamen. ”Janganlah kita merasa menjadi ibu yang memiliki Tari Pendet hanya karena kita melahirkan Tari Pendet. Mari kita tanya pada jambulku yang bergoyang, apa iya kita sendiri sudah merawat dan membesarkan Tari Pendet?”

Semar kemudian terbata-bata mencoba-coba Tari Pendet. Yang lain jatuh bangun segera mengikutinya. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: