Balada Caleg Wurung

WARNA-warni bendera partai sudah diturunkan. Iingar-bingar kampanye sudah berlalu. Di sekitar Grand Tumaritis Mall, dengan kekhawatiran super, Semar dan Gatotkaca keluar masuk counter. Aneh. Mulai sempoa sampai kalkulator paling canggih menghilang di pasaran. Aksi borong besar-besaran dilakukan para caleg. Akhirnya, di lapak second hand, dia menemukan apa yang dia cari.

Baru saja Semar menawar, dari jauh terdengar wuing-wuing-wuing,…mobil sakit jiwa. Entah sudah berapa kali mobil-mobil itu melaju kencang. ”Bos, bos! Jadi beli ndak? Mumpung obral,” ujar penjual kalkulator menyadarkan Semar.

Trio GePeBe alias Gareng, Petruk, dan Bagong, caleg Dapil V Karang Kadempel, perolehan suaranya kurang signifikan alias jeblok. Semar mengulurkan lembaran dua puluh ribuan dan mak plass disamber Gatotkaca. Terbang.

Di angkasa, jari-jari Semar menekan tuts kalkulator. Dia hitung modal yang sudah dikeluarkan Gareng. ”Oalaah, jare mung dua ratus juta. Tibake, Den Gatot, coba lihat,” kata Semar dengan kalkulator diarahkan ke Gatotkaca.

”Reng..reeeeengg, any body home? ” teriak Gatotkaca di depan rumah Gareng yang tutupan rapat. Tiba-tiba jerit tangis memecah kesunyian. Gatotkaca sekuat tenaga mendobrak pintu depan. Braaaakk! ”Om Gatot, lapar! Lapar Eyang! Papah Mamah

keluar gak balik-balik,” dengan sesenggukan Bagyo bin Gareng menatap keduanya.

Mata Semar bertambah beyes ndlewer mili melihat kenyataan di depan mata. Selang beberapa saat, Gatotkaca kembali dengan bungkusan nasi Padang. Semar menyisipkan sepuluh ribuan ke saku Bagyo. Keduanya, lalu pergi.

Kuncung Semar bergetar mendeteksi keberadaan Gareng, tak jauh dari sekitar pasar tradisional Tumaritis. Semar mengelus dada. Tepat di depannya, tubuh Gareng berbau busuk dengan pakaian super kotor sembunyi di antara tumpukan sampah. Wajah Genduk Cemplonwati, sang istri, setia menunggui aksi Gareng. Gatokaca berkelebat cepat merengkuh pundak Gareng. ”Ayo..Le, go home aja. Itu loh sawah kulon ndeso, please, garapen aja yah,” kata Semar tenang. Dalam dekapan Semar, Gareng pasrah alik ke Tumaritis.

Hari berikutnya, keduanya mengarah ke kediaman Petruk. Dari jauh masih terlihat sisa-sisa tenda-tenda masa berkumpul. Tapi situasi rumah sepertinya tidak berpenghuni. Semar takjub melihat ruang tamu melompong. Furnitur antik lenyap tergadaikan. Lebih dalam masuk, kamar pribadi Petruk hanya tertinggal selembar tikar lusuh menggantikan singgasana berukir indah dari Jepara.

Jari Semar menari-nari di atas kalkulator sampai layarnya gak muat. Gatokaca langsung naikkan Semar ke atas punggungnya. Wuzzz, Gatotkaca menukik tajam mendekati open cup diesel, tepat di sebelah kaca pengemudi.

Petruk, ijek pedal gas lebih dalam. Seratus meter di depan, Gatotkaca nekat berdiri di tengah jalan. “Awaaasss, ndasmu,” ujar Petruk gelap mata. Dia bersikeras ingin menggadaikan peralatan campursarinya.

Gatotkaca mengerahkan kesaktian penuh. Pick up Petruk menabrak kekuatan penuh, duueeer, kendang jaipong masuk sawah. Gong kempul bergaung tercantel di pepohonan. ”Udah sekarang bawa balik ke studio lagi. Pasti ada job,” ujar Semar.

Dan benar selang beberapa hari, ponsel Petruk berdering. Anoman order campur sari komplet untuk perayaan ulang tahunnya. Tahukah kawan, itu adalah permainan Semar

saja, nabok nyilih tangan. Semar salaman dengan Gatutkaca and yees together.

Hari ketiga, giliran Bagong menjadi TO (Target Operasi)-nya. Sebelum memasuki Dwarawati Village, dengan ngelmu bayangannya, Bagong mengubah dirinya menjadi Semar. Setelah merasa lebih pede, dia bicara di depan penduduk yang sedang rapat RT. ”Coz force majeur, tidak sesuai suara yang diharapkan, atas nama Bagong, mohon maaf kami menarik semua tivi bantuan,” ujar Semar palsu di tengah-tengah rapat RT.

Para warga sontak nggrundel bareng sambil mengembalikan bantuan. Dari balik awan, Semar gedeg-gedeg gak percaya. Dan Gatotkaca tidak bisa menahan emosi, tiba-tiba menyerang. Sekali sebat, tubuh Bagong sudah ditangkapnya. Bukan Bagong namanya kalau tidak bisa menghilang.

”Heh…Gatot! Itu urusan keluarga Semar, jangan ikut campur, cepat pulang,” ujar Werkudara, mengagetkan. Mak gragap, Gatotkaca langsung sendiko dawuh. Baru dua langkah, kutang Onto Suryo berkedip dan weeekzz, wajah Bagong menjulurkan lidah. Gatotkaca bergetar marah.

Sekarang, giliran Semar tergagap. Suara di belakangnya, tak salah, suara Kanastren, istrinya, yang memintanya pulang. Semar pun angkat kaki siap pulang. Kembali radar kuncungnya menangkap sinyal-sinyal bayangan Bagong. Semar hanya diam mematung. Jauh di sana, Bagong tertawa terbahak-bahak dan bertingkah tak karuan. ”Uwa Semar, ini sich bener gila,” ujar Gatotkaca. Semar segera telepon ahli kejiwaan Ngamarta.

Sebulan berlalu, Semar sering bolak-balik RSJ. Perkembangan kesehatan Bagong lamban sekali. Nglempus di bawah rindangnya pepohonan sambil mengamati polah Bagong yang stres, dan di pusat sana para politikus yang menang mungkin bisa berbuat gila tanpa dicap sebagai orang gila. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: