Balada Genduk Semok

Desis mesin AC tertutupi Dengus nafas Presiden Duryudana. Rekaman video amatiran yang merekam kelakuan usil pelecehan sexual dengan pelaku Dursasana baru selesai diputar. Bulir-bulir keringat menghiasi wajah Duryudana yang merah padam. Entah sudah yang keberapa, baru sak sedotan, rokok langsung di cecek dan diambil yang baru lagi. Lekat-lekat dipandangnya Dursasana dan, “Cari Genduk Semok dalam keadaan hidup, sebelum media mengendus” Ujar Duryudana. Bak bilah samurai, semua mata tajam melotot kearah Dursasana. “Sung,, Sumpah, tanganne tok sing tak remet, biasa gemes gitu lhoo,, wajar…wajarkan” Belanya. Tanpa pamit, Duryudana langsung menuju helipad diatas istananya dan terbang mengindari kuli tinta. Sengkuni dan Durna keluar lewat pintu rahasia. Wartawan langsung merangsek, dan menghujani pertanyaan ketika Karna keluar. Dari jendela mercynya, “Pokoknya tidak ada pelecehan titik” Terang Karna dan ngeloyor pergi. Wah, susahnya jadi pejabat. Terpaksa berbohong lagi batin Karna.

Tek..tek..tek, tangan Karna lincah menyusun SMS ke Duryudana, apa tidak sebaiknya hubungi pakar telematika, Koh Puli Yo. Biar jelas kebenarannya pesan Karna. Takberapa lama berselang telepon Karna langsung berdering, dari seberang Duryudana ngamuk-ngamuk. Pokoknya ini tugasmu lah, itulah, inilah. Komplit plit lengkap dibumbui sumpah serapah. “Bos ternyata ada baiknya diberi bibir mrongos, gigi buradul plus weteng buncit..sapa yang mau, betul Boss” Ujar Togog sambil nyetir. Pelan Mercy menyusuri jalanan Ngastina. Tepat didepan mal Duryudana n Genk (DG Junction), rem mercy diinjak pol dan Togog cepat keluar. Sementara Karna tertegun gak tahu ada apa. Sekali loncat, tubuh Genduk Semok sudah dalam dekapan Togog. Uleng-ulengan pun terjadi, rontaan dan teriakan genduk Semok menarik orang-orang yang lewat. Dursilawati kurawa no 100 yang kebetulan lewat tertarik untuk mendekat. Plak..plak mrongos Togog kena tampar. Bug..bug, Togog menahan sakit di rusuknya. Hampir saja srekalan Dursilawati mengenai kaki, Togog lebih cepat berlari kearah mercy dan injak gas pol. “Eh..gini-gini gua juga perempuan, beraninya ma perempuan, gua kemplang koit lu” Teriak Dursilawati. “Waduuh Bos, tambah panjang nich mrongos, apes-apes, jomblo abadi” Rintih Togog.

Bunga Matahari yang seharian mengikuti arah panas sang Surya telah menunduk kearah barat. Seekor Cicak pelan mendekati pancaran lampu, menunggu nyamuk untuk dimangsa. Disebuah Warung reot, yang kalau pagi sampai siang dipakai jualan disebelah embong malang. Tubuh lelah genduk Semok rebahan disebuah kursi panjang yang sebelumnya dialasi koran bekas. Pertaruhan, mata Genduk Semok tertarik membaca cerpen dari lembaran Koran bekas hari ini. Klotak…klotak…dadu di bawah tempurung kelapa untuk kesekian kali dikocok. Angka enam dipilih Kurawa. Sementara Pandawa memilih angka satu. “Kami pertaruhkan, semua kekayaan Ngamarta” Ujar Puntadewa. “Masih Kurang” Ejek Sengkuni. Puntadewa makin tertantang dan berani mempertaruhkan hidup dan matinya Pandawa. Bahkan semua ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan Ngamarta, sampai seks mereka. Ternyata masih kurang juga, dengan suara berat, Puntadewa mempertaruhkan Drupadi. Seringai kemenangan Kurawa menggelegar. Drupadi hanya bisa memejamkankan mata akan nasibnya. Klotak, oleh panah Arjuna, jadi angka satu yang diatas. Dursasana tak mau kalah, meja dioreg-oreg kembali ke angka enam. Terus dan terus mereka saling berusaha menang. Sampai akhirnya, tempurung dibuka, dan angka enam ada diatas. Duryudana teriakan kemenangan dan megal-megol seperti Donald Bebek.

Dursasana merengkuh Drupadi. Ditariknya secuil bagian kain penutup aura Drupadi. Satu meter, dua meter, empat meter, delapan…terus dan terus semakin panjang. Sampai ribuan kilometer, Dursasana megap-megap kecapaian. Genduk Semok tidak tahan melanjutkan membaca cerpen. Tak dirasa, mata Genduk Semok mrebes mili. Kenapa selalu perempuan dijadikan obyek batinnya. Tepukan pemilik warung membangunkan genduk Semok, keesokan harinya. Susah payah, Genduk Semok bangun. Perut yang minta diisi, memerintahkan kaki Genduk Semok melangkah mendekati rimbunya Pasar Johar. Dasar masih ngantuk, gak tengok kanan kiri. Ciieet, gedubrak, sebuah jaguar mewah menabraknya. Sesosok pria berpakaian serba putih dengan jenggot agak panjang keluar dan memondong tubuh pingsan Genduk Semok kedalam Jaguar. Perempuan manis berjilbab di sebelah kemudi hanya diam, sepertinya agak ketakutan. “Ehm..ehm saya dimana, kenapa ada apa ini?” Tanya Genduk Semok tak berapa lama kemudian. Syekh Puji, memperkenalkan diri dan minta maaf dengan kejadian yang barusan terjadi. Genduk Semok hanya mantuk-mantuk sambil meringis. “Oh ya, kelupaan, kenalkan istri kedua saya, masih imutkan” Terang Syeh Puji.

Gragap, darah Genduk Semok seketika naik. Tak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya. Terlebih setelah Syeh Puji menceritakan alasan perkawinan mereka, disamping ingin membantu perekonomian keluarga juga atas dasar cintrong alias cinta. Malah sang istri sudah diprediksikan memimpin salah satu perusahaannya. Kepala Genduk Semok smakin puyeng ini crita apalagi. Anak perempuna di bawah umur sudah berani menikah, genduk yang sudah penuh trauma bertambah takut. Namun yang penting ia coba lalekno kuwi kabeh “Sing penting saiki nggolek gawean sing ora nglecehke jati dirinya sebagai perempuan” tekadnya. Dari kejauhan jendral karno melihat genduk semok memasuki pasar namun ia tak mau menangkapnya, ia teringat dengan ibunya Kunthi perempuan yang menderita yang slalu menjadi obyek para penguasa.(*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: