Balada Penculikan Bagong

INI musim mudik.

Plonga-plongo pas nunggu pesawat telat sudah lumrah. Morang-moring lantaran nunggu pesawat delayed juga sudah jamak. Ngorok juga wis biasa. Apalagi nglamun. Wis sa’ arat-arat wong nglamun sambil nunggu pesawat ndak mabur-mabur. Mata mere­ka bisa mene­rawang jauh ke landasan pacu atau mentheleng ke koran di depan hidung, tapi pikirannya menclok-menclok ke mana ya embuh.

Mata mereka bisa membaca mangkirnya para anggota DPR sehingga sidang tidak kuorum. Yang mangkir bukan saja yang frustrasi gak kepilih lagi pas pemilu lalu. Yang kepilih lagi pun masih mangkir juga. Aduh. Tapi pikiran pembaca itu mungkin ke istrinya, kenapa kok akhir-akhir ini kalau ngangkat handphone agak malu-malu, ya?

Nglihat perempuan-perempuan ayu petugas ruang tunggu diomel-omeli bapak-bapak juga sudah umum. Tapi terkatung-katung menantikan keberangkatan pesawat sambil nglindur mungkin menarik juga.

Dongeng saya pekan ini adalah lakon yang diutarakan orang nglindur. Bapak-bapak ini nglindur di pojok ruang tunggu bandara pada musim mudik Lebaran

Katanya, Dewi Sinta ndak pernah diculik Rahwana. Sok tahu dan salah kaprah lho nyebut putri Mantili bojone Prabu Rama itu diculik Rahwana. Juragan raksasa dari negeri Alengka itu jan-jane cuma nyulik ponokawan Bagong.

Kronologinya gini. Sebelum diculik, Sinta diumpet-no Prabu Rama, terus Rama mendandani Bagong hingga mirip Sinta. Lha Rama itu kan titisan Batara Wisnu, dewa penguasa harmoni alam semesta. Sakti. Misalnya, sekarang pengin jadi ketua MPR, sekarang juga dia bisa jadi ketua MPR. Ndak perlu repot-repot kayak Pak Taufiq Kiemas dari PDI-P, partai yang nggak jadi penguasa tapi juga nggak sido jadi oposan. Ndak usah minta dukungan Partai Demokrat untuk bersaing melawan calon ketua MPR dari PKS.

Kapan persisnya anak Prabu Rama pengin dilahirkan, ya pada saat itulah istrinya akan bruuol…bersalin. Ndak usah pakai operasi caesar kayak istri Adjie Massaid, Angelina Sondakh sehingga babaran dipersiskan pada tanggal 9 bulan 9 tahun 09. Ndak susah ndandani anak bungsu Semar itu ujug-ujug plek persis Sinta. Jadi sing digondol Rahwana mabur itu sebetulnya ya cuma si gedibal Bagong alias Bawor itu.

”Maaacak ciiiih (masa’ sih)?” tanya salah seorang pramugari yang mulai merubung si pelindur itu.

”Lho, dibilangi kok ndak percoyo,” respons si ahli lindur sambil tetap pulas. ”Hare gene…di Indonesia, kalau nggak percaya omongan orang ngelindur, Sampeyan ayu-ayu gini mau percaya omongan siapa lagi…”

Yang sudah benar ndak salah kaprah itu, lanjut si pelindur, adalah nama Argo Suko, taman yang diduga sebagai tempat Sinta disembunyikan di Alengka. Asrinya jauh melebihi Taman Safari dan Mekar Sari. Tapi yang tertawan di situ sebenarnya Bagong. Wong lanang. Makanya overacting sebagai perempuan. Jauh lebih lembeng dan kemenyek ketimbang Sinta.

”Tapi eh Mas, Mas Lindur, tapi suara Sinta gadungan itu apa ya perempuan banget bagaikan suara saya,” tanya pramugari lain yang suaranya renyah dan seksi. Kabarnya dia akan dinobatkan sebagai pramugari terjelas kalau kasih pengumuman di pesawat. Logat serta aksen bahasa Indonesia-nya tidak di-Inggris-Inggris-kan seperti umumnya pramugari dan penyiar televisi kita.

Tokoh lindur kita melanjutkan, ”Woooh…Lha wong yang menyulap Bagong jadi Sinta itu Wisnu, ya abrakadabra sim salabim suaranya juga persislah, masa’ persis dong, suaranya diolah, masa’ diodong…”

Cuma, lanjut sang pelindur, dasar Bagong, orangnya crekel, ngototan. Ponokawan ini paling susah diatur. Ya sekali-sekali sebagai Dewi Sinta yang lemah lembut, tetep saja dia menceplos­kan suara khasnya sendiri yang serak, berat, dan sember.

Pada kunjungan pertama ke taman itu untuk memadu asmara, Rahwana kaget mendengar suara ”Sinta” tiba-tiba membesar seperti suara Bagong. Rahwana balik kanan. Kunjungan kedua begitu juga. Rahwana terpental balik kanan. Pada kunjungan ketiga, keempat, dan seterusnya, Rahwana alias si Dasamuka itu balik kanan lari terbirit-birit mendengar ”Sinta” berubah suara sambil matanya mendelik-delik.

Akhirnya anak tertua Dewi Sukesi itu tak pernah berkunjung lagi ke taman Argopuro, eh Argo Suko. Apalagi belakangan Rahwana semakin larut dalam kesibukan di negaranya menangani pro-kontra UU Perfilman Alengka.

Kakak Kumbakarno, Wibisono, dan Sarpokenoko itu pusing. Sebagian insan perfilman Alengka bengak-bengok. Kata mereka, UU yang baru ini sangat memberatkan. Masa’ sudah diperlukan izin dari pejabat yang berwenang sejak penulisan skenario dan siapa-siapa saja yang bakal memproduksinya? Masa’ izin produksi berlaku cuma tiga bulan dan hangus kalau film belum selesai? Bagaimana kalau di tengah jalan produksi film itu kehabisan dana? Masa’ sih adegan merokok dan memakai narkoba dilarang? Bagaimana kalau kita mau bikin film tentang bahaya merokok dan penyalahgunaan narkoba kalau ndak ada adegan tentang itu?

Di luar soal perfilman, Rahwana juga ndak srantan mberesi urusan para koruptor di Alengka yang pada pusing, ngelu. Ngelu-nya, garong-garong negara itu bingung. Sebenarnya yang menangani kasus mereka itu polisi apa KPK-R (Komisi Pemberantasan Korupsi Raksasa). Kok di Alengka ini kadang pemberantasan korupsi dilakukan oleh Sarip Tambak Oso. Kok kadang di Alengka ini penanggulangan korupsi diprakarsai Sawunggaling. Waduh, berarti amplopnya dobel, Rek.

Para pramugari yang mengerumuni pelindur protes. Jangan salah lho. Meski pengucapan bahasa Indonesia mereka kebarat-baratan, mereka tahu persis Alengka dan Sarip itu beda. Alengka departemen wayang. Sarip dan Sawunggaling departemen ludruk.

”Ya ndak popo to campur aduk, namanya juga orang nglindur,” kata si pelindur masih tetep pulas sambil, maaf, menyeruput liurnya sendiri. ”Kapan-kapan Rahwana ta’ temukan ngobrol dengan Mas Dahlan Iskan kan juga ndak popo? Kan aku nglindur…?”

Yang menarik, lanjutnya, adalah kata-kata Bagong melalui pelayan taman ke seluruh warga Alengka. Bagong bilang mereka tidak usah pusing mikir segala peraturan dan undang-undang. Belajarlah dari Indonesia. Peraturan dan undang-undang boleh ke mana, toh nanti praktiknya juga bisa ke mana-mana. Selalu ada terobosan dan ”jalan samping”. Pagar rel kereta api pasti ada bolongannya buat kita nerobos. Percayalah. Masa’ percaya deh. Sekolah, masa’ sekodeh.

Akhirnya penduduk Alengka tenteram mendengar ungkapan ”Sinta” melalui mulut ke mulut. Untung Dasamuka salah culik. Bagong masih ingin ngomong, tapi sudah ada panggilan keberangkatan pesawat. Para pramugari beranjak dan membangunkan si pelindur.

”Saya tadi ngorok ya?” kata si pelindur geragapan. ”Yes, yes, ngorok,” kata salah seorang pramugari, ”but ngoroknya pake story…as long as Anyer to Panarukan…interesting…(kepada rekan-rekannya)…Aduh Garby, semoga bapak ini selalu naik pesawat kita and I hope pesawat kita always terlambat ya…” [JAWAPOS]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: