Begawan Mintaraga Disadap

MBAK Yanti pesinden Pacitan. Ia lagi peye di Tulungangung. Tapi pamitnya ke suami manggung nduk Nganjuk. Gawat kalau Mbak Yanti blak-blakan bilang lakinya nek pentas di kota marmer itu. Lha wong dulu Mbak Yanti pernah sir-siran sama tokoh penting di Tulungangung, hayo.

Dari Hakim Mbilung yang mulutnya selalu bocor persis talang digerogoti tikus, Mbak Yanti ngeh kalau telepon genggamnya disadap. Soalnya peraturan baru kerajaan bilang, penyadapan mesti pakai izin pengadilan, Rek. Wah sebagian hakim bancakan do ngerti kabeh. Pagi-pagi banget Mbilung ngos-ngosan ketuk-ketuk pintu rumah Mbak Yanti. Yuniornya Togog ini bisik-bisik, ”Aduuuh Yaaan, Yanti…HP-mu bakal disadap karo suamimu, ati-ati yo.” Ia baru pamit setelah Mbak Yanti mbeseli uang rokok.

Nalikane akan berangkat ke ”Nganjuk” suami Mbak Yanti wanti-wanti, ”Dik, kakang ini selalu kangen kamu apalagi kalau pas nembang. Nanti tolong pas mau nembang kamu telepon calon produser di Surabaya. Kalau sudah nelepon beliau, tetap hidupkan HP-mu sampai kamu nembang. Biar beliau ikut mendengar. Oh, siapa tahu suara emasmu yang bagai Nyi Condrolukito itu akan jadi direkam di studionya sana. Nanti ta’ derekno ke Surabaya. Sekarang ati-ati ke Nganjuk ya Diajeng…”

Mbak Yanti pura-pura percaya itu rayuan tulus. Mbak Sri Pujianti, lengkapnya, juga pura-pura mesra ngesun suaminya di ambang pintu rumah mereka yang lumayan magrong di Pacitan. ”Wong wedok kok dikadali…,” batinnya sambil ngesun.

Kini ratusan penonton wayang orang di Tulungagung sudah menanti-nantikan suara Mbak Yanti. Itu pas adegan Limbukan. Tapi khalayak di sana bingung. Plonga-plongo semua. Kok pesinden ayu ini menyapa mereka sebagai warga Nganjuk ya. ”Sugeng ndalu poro rawuh ing kito Nganjuk,” kata Mbak Yanti dengan ciri khas suaranya yang renyah dan gurih. Penonton bersorak-sorai, ”Sanes Nganjuk, Mbak Yanti meniko Tulungaguuuuung…”

Setiap kali penonton berteriak ”Tulungagung”, Mbak Yanti cepet-cepet menutup HP-nya dengan selendang ungunya agar sang suami nun di Pacitan kota SBY sana tidak mendengarnya. Adegan itu berulang-ulang terjadi. Kadang Mbak Yanti menutup HP-nya dengan gelung konde. Sampai akhirnya penonton bosen berteriak. ”Ya wis, karep-karepmu, Mbak Yanti…”

***

Banyak yang bilang cara paling jitu mengganyang korupsi adalah penyadapan. Tapi kini muncul peraturan baru kerajaan, penyadapan harus seizin pengadilan. Rencana penyadapan oleh KPK kemudian sering bocor. Cak Mantoro, sejawat Mbak Yanti pemeran Begawan Mintaraga, juga disadap.

Hakim Mbilung yang bertandang di ruang rias bertanya ke Cak Mantoro, ”Kamu mau main wayang orang apa pentas musik reggae kok rambut palsumu gimbal persis Bob Marley? ” Cak Mantoro bilang, ini dandanan Begawan Mintaraga alias Begawan Ciptaning. Ini wujud lain Arjuna yang bertapa bertahun-tahun sampai rambutnya panjang seperti Sunan Kalijaga dulu saat tapa di tepi sungai. Hakim Mbilung bisik-bisik, ”Ati-ati…di rambut palsumu itu ada mikrofon kecil seperti kutu. Kamu sedang disadap dan istrimu juga bisa ikut nguping…”

Wah, Cak Mantoro kelimpungan. Panik. Mau cari mikrofon kecil di rambut palsu tapi ia sudah harus cepat naik pentas. Mbilung ngadang dalan di wing kiri panggung. Setelah dibeseli uang rokok, baru hakim itu pergi kasih jalan Cak Man. Bablaslah Begawan Mintaraga masuk panggung, duduk bersila. Samadi. Layar panggung wayang orang menyibak perlahan. Penonton bertepuk tangan..

Berdatanganlah dalam tarian mirip bedaya delapan bidadari yang dititahkan untuk mengganggu sang pertapa. Semuanya cantik-cantik. Lengkap seperti pakem pedalangan. Rempyoh-rempyoh sesinome, mandul-mandul payudarane… Ada Dewi Supraba, Dewi Wilutama, Dewi Warsiki, Dewi Surendra… Ada yang netranya lindri anjait…Misalnya Dewi Gagarmayang. Ada yang pinggulnya nawon kemit ya Dewi Tunjungbiru. Ada yang betisnya amukang gangsir… Dewi Lengleng Mandanu.

Menurut pakem yang dibabarkan dalang pas pendadaran sebelum pentas, betapa teguhnya pertapaan Mintaraga agar cita-citanya kelak tercapai: negara yang bebas korupsi. Meditasi Ciptaning tak bisa diganggu oleh siapa pun. Semua bidadari diusirnya, dengan satu mantera, ”Dasar, semua perempuan memang racun!!!”

Ternyata Cak Mantoro, pemeran Begawan Mintaraga, ndak brani mengucapkan mantera tersebut. Para bidadari juga tak kunjung pergi. Maklum, Cak Mantoro takut kalau ngomong, ”Dasar, semua perempuan memang racun!!!” Nanti kalau istrinya di rumah ikut mendengar lewat penyadapan yok opo?

Cak Mantoro traumatis. Dulu suami-istri itu pernah gegeran. Waktu itu ia membela Aburizal Bakrie. Istrinya membela Sri Mulyani. Cak Mantoro keprucut ngomong, ”Dasar, semua perempuan memang racun!!!” Wah, istrinya kalap. Ia acungkan ulek-ulek sambel tempe penyet sambil mengejar-ngejar Cak Mantoro dari pematang sawah sampai ke jalan-jalan raya di depan istana Pak Boediono.

***

Ah, yang disadap ternyata bukan cuma Mbak Yanti dan Cak Mantoro. Sebelum ngabari Cak Mantoro di ruang rias, ternyata Hakim Mbilung sempet ketemu Pak Djoko, dalangnya. ”Mas Djoko, gawat, Mas. Ini untuk pemberantasan korupsi. Sampean akan disadap. Ati-ati. Pakai mikrofon kecil yang dimasukkan ke mik seperti susuk…”

”Tapi istri saya kan gak bisa dengar, Pak Hakim?”

”Ya, saya tidak bisa jamin, Mas Dalang. Rencananya sih hanya KPK yang nguping…”

Seperti pada yang lain-lain, Hakim Mbilung nempel ki dalang terus, baru pergi setelah dibeseli uang rokok.

Akhirnya penonton terus protes. Pada pemain Mintaraga, mereka protes kok tidak mengusir-usir bidadari. Padahal, menurut penonton, biarpun cantik-cantik para bidadari itu tak ubahnya koruptor yang menyusahkan orang banyak. ”Hoi… Mintaraga, usir koruptor-koruptor itu,” teriak penonton.

Nah, pada Pak Dalang, penonton protes kok dari awal sampai tengah malam Pak Dalang batuk-batuk terus sehingga suluk, janturan, dan ada-ada-nya tidak terdengar jelas. Mana pakai ”hoooweek hooowek lagi…”

Alasan Pak Dalang, ”Istri saya di rumah jangan sampai tahu bahwa saya sehat wal afiat kalau di luar rumah. Soalnya kalau di rumah, saya pura-pura sakit-sakitan terus cek gak disuruh-suruh terus…”

Di tempat lain ada yang garuk-garuk kepala. Seperti orang KPK, macam KPK, tapi bukan KPK. ”Wah, bocor…bocor…penyadapan kita bocor….”

Demikian Wayang Durangpo kali ini.

Sidang budiman pembaca Jawa Pos, Kupat pakai santen, menawi lepat nyuwun ngapunten. Madura bilang, Salah lopot nyoon sapora. Dan seperti biasa, semua nama dan tempat fiktif. Tapi kalau Menkominfo Tifatul Sembiring percaya ini betul-betul terjadi, ya silakan. Kalau sang menteri, yang ngotot ingin penyadapan baru bisa dilakukan setelah ada izin hakim, percaya pada cerita tadi, ya monggo… (*)

*) Sujiwo Tejo , tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: