Bersama Kita Tak Bisa

MENDUNG memuntahkan air hujan. Wilayah pantai Jarang Jero dekat laut selatan tampak diamuk ombak. Di sebuah kampung nelayan, Togog membaca koran bekas. Terlihat di halaman nasional, ulasan statemen Presiden Bima yang mengklaim keberhasilannya memimpin negeri. Katanya, listrik dan BBM turun adalah buah kesuksesannya.

Usai membaca, Togog tersenyum dikulum. ”Jadi penguasa kok pamer keberhasilan. Tidak ikhlas namanya,” ujar Togog sinis. ”Bicaramu itu kayak kiai,” clemong Mbilung yang tertarik. Togog cuek. Dia malah ke dapur, ambil nasi dan makan laham. Mbilung masih nginthil.

Pertanyaan yang sama diajukan. Tapi, Togog tetap diam dan konsentrasi penuh. Tak seperti biasanya, wajah Togog tak terlihat riang. Wajah itu berpulas kekecewaan yang mendalam. Namun, pandangan memelas dari Mbilung meluluhkan hati Togog. ”Begini, sesungguhnya tak ada orang yang benar-benar hebat di negeri ini. Cobalah kamu keliling Ngamarta biar tahu bahwa Bima bukan satu-satunya penentu. Butuh hati-hati,” pesan Togog. Berdandan ala pengamen jalanan, Mbilung pamitan. Togog memberikan segepok uang untuk sangu.

***

Di hari pertama perjalanannya ke Ngamarta dengan nunut mobil omprengan, Mbilung sampai di Kasatrian Bumi Retawu. Dia melihat showroom sebuah toko pertanian yang terletak di sebidang tanah yang luas. Penuh bibit padi. Di belakangnya ada kebun kecil yang berhawa sejuk. Walau angin semilir, suasana terasa mencekam. Naluri Mbilung merasa diawasi sesuatu yang siap menerkam.

Mbilung berjingkat, pelan melangkah penuh waspada. Mendadak ada suara bagai air bah. Mbilung kaget, meloncat sedepa ke samping. Tepat, diawali lumpur muncrat, sebuah kepala dengan moncong bertaring meluncur menyerang Mbilung. Serangan tiba-tiba seekor celeng yang gagal! Mbilung cepat berdiri, tapi si celeng telah berbalik siap menyerang. Mbilung cepat sigap berguling ke arah pohon bambu. Diambilnya sebilah sebagai senjata. Serangan bertubi-tubi membuat Mbilung kewalahan.

Terpaksa, bambu ia hantamkan ke mata si celeng. Cepat, bambu melukai mata celeng hingga berdarah. Dari mulut celeng keluar jeritan tangis. Nguikk! Namun, mendadak seseorang datang dan menghentikan perkelahian Mbilung. Ternyata Menteri Pertanian Negeri Ngamarta Ir Nakula. Dia jelaskan pada Mbilung bahwa celeng dipelihara untuk menjaga keseimbangan hama padi. ”Ini gagasan baru,” kata Nakula sambil membusungkan dada.

Mbilung tercengang akan kegeniusan Pak Menper. Apalagi, menteri itu bilang bahwa Ngamarta bisa swasembada beras karena gagasan dan kerja dia, bukan karena usaha Presiden Bima. ”Akulah yang langsung di lapangan memimpin petani,” kata Menteri. Mbilung agak kaget dengan komentar jumawa itu. Itu sikap tak ikhlas lagi. Dasar penguasa, batin Mbilung mencela. Setelah beramah tamah , Mbilung bergegas pamit untuk teruskan perjalanan. Hanya perjalanan dua jam lewat darat, Mbilung sudah memasuki daerah Kasatrian Madukara, rumah Cawapres Bung Arjuna. Baru saja Mbilung mau ketuk pintu, klepok, seekor binatang kecil, namanya hama wereng, jatuh tepat di kepala Mbilung.

Mbilung tak habis pikir kok wereng ada di depan pintu rumah. Karena jengkel, ciiat, Mbilung mencoba menangkap. Tapi kalah gesit, si hama wereng malah baris dengan tertata masuk rumah dan Wapres Arjuna menyambut wereng yang kelihatan manut. “Keahlianku adalah menaklukkan wereng. Selamat datang, Mbilung,” Arjuna tersenyum.

Mbilung malah semakin bingung, kok wereng bisa diatur. Arjuna menepuk dada bahwa ia menaburkan serbuk anti wereng yang membuat wereng takluk diatur. ”Dengan wereng ini, aku membuat pertanian Ngamarta maju. Malah hama werenglah yang menjaga padi bisa panen dan sukses swasembada pangan,” ujar Arjuna.

Mbilung semakin pusing, semua pejabat mengklaim paling berhasil atasi krisis. Jenuh akan khotbah Arjuna, Mbilung segera pamit kembali meneruskan perjalanan. Di sebuah tikungan jalan, Mbilung terganggu seekor tupai yang terus meloncat-loncat di depanya. Si tupai beranjak bergerak ketika Mbilung mendekat. Si tupai putih masuk rong-nya. Karena penasaran, Mbilung mengikuti masuk sebuah rong yang kecil, yang semakin lama semakin besar. Ternyata rong itu terhubung dengan sawah luas membentang.

Jabat tangan si Bakir yang sedang mencari air untuk sawah sambut kedatangan Mbilung. Ternyata tidak hanya itu, di pojokan gubuk, seorang petani yang lain memimpin ibu-ibu nandur pari. Mbilung tiba-tiba tercekat, melihat dua tokoh Ngamarta, Bung Puntadewa dan Kang Sadewa melepas baju pejabatnya dan lebur menjadi petani.

Ini baru ikhlas namanya, batin Mbilung yang langsung bersemangat ikut gabung memasuki sawah dan berbaur bekerja bakti. Suara tawa ria dan celoteh Sadewa dibarengi Puntadewa yang meneriakkan yel-yel hidup petani.

Semua petani kerja hingga sore hari. Ketika malam semakin larut, mereka tertidur lelap. Keesokan harinya, Mbilung bangun tidur keluar dari gubuk dan mulutnya ternganga karena di tengah sawah, ratusan Bendera Partai Sisik Kencana tertancap dengan megah. Edan!! Puntadewa kumpul petani hanya untuk kampanye.

Mbilung sangat kesal, di-HP- nya masuk sebuah SMS. Cepat ia baca, Motto Pandawa Lima Bersama Kita Bisa Kini Telah Berubah Menjadi Bersama Kita Tak Bisa-from Togog. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: