Bima Puasa

MATAHARI sudah dikerumuni kalong-kalong yang berkepakan liar. Dan tim isbat sudah memastikan awal puasa. Puntadewa dengan rambut masih agak basah, setelah padusan di Ngamarta Swimming Pool, menuju gedung pusat pemerintahan nunggang Baby-Benz pure blue.

”Allow Bima. Ente dah padusan..? Ya, ini wigati. Cepetan yo leee,” ujar Puntadewa lewat teleponnya. Tak seberapa lama, Puntadewa langsung bertemu Bima. Mereka langsung menuju gedung tingkat tertinggi. Bagian itu sangat terlarang sehingga para pengawal pun dilarang masuk.

”Gini Bim, urusan pemerintahan mbok pek dulu satu bulan ini priben? Gue mo’ back to pondok pesantren selama puasa,” kata Puntadewa. ”Tapi..,” belum lengkap jawaban Bima, Puntadewa sudah memainkan jari telunjuk tepat di depan hidung Bima. Plaaak, Bima memukul keningnya sendiri keras-keras.

Setelah mereka bubaran, Bima menyempatkan diri menemui Semar. Sesepuh punakawan itu hanya mewanti-wanti agar Bima tak sia-siakan kesempatan. Momen untuk belajar me-manage pemerintahan yang baik bisa jadi tak datang dua kali.

Dengan senyum dikulum dan dibuat misterius seperti pemimpin yang sudah-sudah, persentase ke-PD-an Bima nanjak seratus persen. Bima lalu go home. Sembari nunggu sahur, Bima melekan mempelajari berkas-berkas agenda pemerintahan terdekat sebagai prioritas pertama.

Keesokan hari, dengan mata mbrebes mili nahan kantuk, Bima inspeksi mendadak ke pasar mengenai persediaan beras sampai bulan syawal. Lha, terciumlah praktik yang dilakukan juragan beras yang cuantik, Yu Darojah.

Bakul beras yang randha teles itu kepergok sedang menimbun beras. Dengan senyum dimanis-maniskan, dia matur kepada Bima. ”Ehm, Boss Bimbim, ini anu koq Den, titipan,” celotehnya sambil melemparkan satu-dua kerling mata.

Tak kurang akal, Yu Darojah ngajak negosiasi di dalam. Dia juga sajikan sate mak nyuuus kesukaan Bima. Nalika itu, bibir Bima ndleweran iler. Bima tengak-tengok, waspada, tangan kanan pelan terulur, dipilihnya sunduk penuh lemak, pelan melayang ke arah mulut.

Tepat sebuah tangan keras memelintir kuping Bima. Hanya senyum yang muncul di bibir Bima ketika dia tahu tangan siapa yang nguntir-untir kupingnya. ”Kangmas sayang, jarenya puasa? Tur, apa Kangmas lupa bau my body? Itu sate ular!” kata Nagagini gemes. Serta merta, sate plus piringnya dilempar Bima. Segera, dia minta maaf ke Nagagini. Walau ada hambatan sedikit, Bima masih lolos ujian hari pertama.

Pagi hari berikutnya, esuk uthuk-uthuk, Bima sudah mandi parfum. Dia didaulat membuka parade busana jilbab yang diadakan menyambut puasa. ”Dengan hanya secuil wajah yang terlihat, but it’s really focusing on beautiful face,” kata Bima dari podium. Tepuk tangan pun bergema sak ruangan.

Sebenarnya, orasi Bima ditujukan pada seorang yang duduk di pojokan. Orang itu (tentu cewek, lah) berjilbab, cute abis, selalu memperhatikan nada bicara Bima. Mungkinkah kau jadi yayangku, batin Bima.

Setelah potong pita, ”Aku adalah lelaki yang tak pernah lelah mencinta wanita,” Bima nembang dengan suara yang di-lirih-lirih-kan. Dihajar PDKT sedemikian rupa, si cewek jadi jinak-jinak merpati. Bima dibuat gemes jadinya. Di suatu kesempatan, Bima mencoba meraih tangan si cewek.

Lho-lho, what’s wrong?, Bima membatin. Tangannya dicengkeram si gadis sekuat tenaga. Makin lama, rintihan ngilu yang keluar dari bibir Bima. Dari sudut bibir gadis itu muncul suing panjang. Dari kepalanya keluar tanduk. Oalah cah..cah, ternyata Arimbi!

”Ente puasa, kakehan reka, ayo balik bae,” sembur Arimbi. Bima pun seperti di-cucuk hidungnya, pulang. Susah payah Bima juga berhasil melewati puasa hari kedua.

Sedang asyik-asyiknya menyantap kolak pisang yang hangat gurih, Bima dikagetkan SMS. Boss, jangan lupa cek laporan keuangan, besok sepertinya ada yang jatuh tempo, lho..selamat berbuka, pengirim: sekretaris kabinet. Ekspresi uanyel Bima ditumpahkan pada pisang-pisang kolak yang di-kremus sak lembut-lembutnya.

Direwangi datang lebih dini dari karyawan lain, Bima buka berkas. Dia meneliti neraca perdagangan yang bisa menutup sementara utang yang jatuh tempo. Sepertinya bidang kelautan. ”Pagi Dinda, ini hanya Dinda thok yang bisa bantu,” ucap Bima melalui telepon kepada Urang Ayu.

Dengan hati lapang, Urang Ayu memahami kesulitan Bima. Urang Ayu segera mengambil daftar umur udang-udang yang siap dilego. Yang diutamakan adalah para Dangsia alias Udang Lanjug Usia. Hasil yang didapat diserahkan ke kreditor. Ternyata masih kurang. Terpaksa, Urang Ayu kembali membuka catatan, SK pun keluar. Tanpa kecuali, semua bibit penghuni laut diobral murah. Masih saja catatan kreditor minus alias kurang. Akhirnya Urang Ayu memutuskan menjual semua asset kelautan yang ada, termasuk dirinya siap mengganti dengan TKU (Tenaga Kerja Udang) kalau perlu. Tetapi taksiran kreditor masih kurang.

Bima pusing tujuh keliling, kalkulator dia tenteng ke mana pun. Nominal yang ada dihitung ulang. Bujubuneng, utang negara Ngamarta ternyata bukan dua miliar dolar. Tapi sudah enam miliar dolar.

Bima murka, secepatnya minta diantar ke pondok tempat Puntadewa. Sapa salam dari santri tak dibalasnya. Braaaak, pintu pondokan Puntadewa dihantam berkeping-keping. Semar dengan tenang keluar dari peraduan. Dengan senyum wibawa, Semar menerangkan, kalau puasa hanya menahan makan dan menahan mata tidak melihat lawan jenis berlebihan itu mah biasa, guampang pool. Yang tersulit adalah menahan nafsu nesu alias marah dan ketidakikhlasan jalani hidup. Pelan-pelan, kekakuan wajah Bima meluntur dan menjadi senyum. ”Ya utang negaraku semua cucu dan buyut harus ikut bertanggung jawab,” gereng Bima. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: