Capres Kaya versus Capres Miliarder

KEOK,..keok,..keok!! Sepasang ayam yang melintasi jalanan segera berlarian menepi. Mereka minggir tersapu roda-roda serombongan sedan mewah yang melintas. Di tengah kepulan debu, sepasang ayam muda itu saling pandang, saling memberi isyarat. Penasaran, keduanya menyeruak di antara perdu halaman kediaman Arjuna.

”Tek kotek, tek kok kok,” bisik ayam berbulu merah. Artinya kira-kira begini: waduh, ternyata KPK inspeksi. Dari pintu sedan terdepan, Sanjaya keluar dan langsung menebar pandangan. Mata matematisnya langsung bekerja mendeteksi harga benda-benda di depannya. ”Keok..kok.. kek..kok..hik..hik (jangan-jangan kita dibeli dari hasil korupsi),” jawab ayam berbulu putih lantas terkekeh.

Pada sebuah map, Sanjaya sigap mencatat semuanya. ”Hanya dua M? Ah masa, tapi, mungkin betul. Hah, apa itu,” ujar Sanjaya yang tercekat memandang ke depan. Sraak, plas! Panah Sarotomo diikuti Hargodedali berkelebat cepat, melesat. Eiits.., Sanjaya memiringkan bagian atas tubuhnya. Masih saja, ujung Sarotomo sedikit merobek sakunya.

Tubuh Bagong di belakangnya gesit melepas sebuah pukulan. Ciiiiit,.. Sarotomo dan Hardodedali ngerem mendadak, hanya beberapa milimeter dari kepalan Bagong. Dua panah itu mlentong ke kanan dan melesat keluar. Di depan pintu, Petruk segera membuka kantong

bajunya. Lha wong kantong bolong, kedua panah ya tetap saja lolos.

Ciaaaat, tubuh Bagong melenting ke atas dan mengejar panah. Petruk ngintil di belakangnya. Diawali salto, Bagong yang tercipta dari bayangan mengubah dirinya seperti papan sasaran panah, lengkap dengan lingkaran warna warni. ”Wadoww, Petruk! Kunyuk, ndang iki dicabut,” teriak Bagong. Sarotomo dan Hardodedali tepat menancap di lingkaran warna hitam dan itu adalah bagian dari bokong Bagong. Di Sarotomo tercantel duit dua M dan Hardodedali nggondol tiga M.

Sanjaya, Bagong, dan Petruk melangkah lebih dalam ke rumah Arjuna. Di gudang belakang, ada pintu baja tahan peluru. Pelan mereka membukanya. Bujubuneng, ternyata masih banyak panah di dalamnya. Di masing-masing panah tercantel gepokan-gepokan yang tak terhitung berapa jumlahnya. Setelah data terkumpul, mereka pun berlalu.

Perjalanan mereka ke arah selatan terhenti tepat di depan rumah mewah nan megah dengan halaman dan kebun begitu luasnya. Takut-takut, Sanjaya mengelap tangan dengan tissue, mendekati regol mewah, dan klik.. handle dari emas diputarnya.

Gilap dan licinnya lantai dari pualam murni membuat langkah mereka semakin berhati-hati. Pelayan dengan exclusive tuxedo, mempersilakan mereka duduk. ”Wuedan, kursine

uempuk tenan, seperti duduk di atas jeli,” bisik Bagong.

Mata elang Sanjaya menyipit menangkap angka-angka yang tertulis. Eiiits, mereka terkaget-kaget. Meja tamu secara otomatis mengeluarkan macam-macam makanan.

Hampir saja tangan Bagong meraih segelas air mineral. ”Ra sah clutak. Lihat, nyang warteg aja nanti,” ujar Petruk sambil menampel tangan Bagong. Aneh semua benda yang ada tersemat harga. Air mineral, 500.000. Tempe goreng, 750.000. Kacang kulit, per butir 100.000. Makanan

yang terhidang hanya dipandangi. Mereka malah asyik membaca harga-harga yang terpampang. Penyelidikan mereka semakin dalam ke rumah semakin mencengangkan. ”Untung gak ada tulisane memecahkan berarti membeli. Bisa kere dadakan nich..,” celetuk Bagong.

Langkah mereka terhenti di sebuah sudut. Pada sebuah sangkar emas seharga 500 juta, hidup sesekor hamster kecil seharga 1,6 miliard. Ciut dah nyali Sanjaya. Pelan ditariknya tangan Bagong dan Petruk. Mereka cepat keluar dan hilang entah ke mana.

Sedan diarahkan lebih ke pinggiran Ngamarta. Hawa sejuk pegunungan terasa sriwing-sriwing menggesek kulit. Sampai tepian jalan desa, mereka berhenti tepat di depan rumah bersahaja yang rimbun oleh pepohonan. Di sebuah pendapa kampung, kedatangan mereka disambut Semar.

”Welcome, yah beginilah kehidupan Bima. Lagi belajar urip bersahaja” terangnya.

Dibantu Bagong dan Petruk, Sanjaya mengecek satu per satu kondisi di situ dan mencatatnya. Tepat di belakang rumah Bima terdapat sebuah bukit batu yang mirip gua. Dengan posisi bersila, dengan kain yang menjuntai menutupi lantai, Bima melakukan tapa.

”Bozz.., masa segini tok kekayaannya? Curigations nich jadinya,” bisik Bagong sambil menunjukkan angka-angka. Akhirnya mereka pamitan. Tapi, belum jauh perjalanan, mobil mereka arahkan masuk sebuah hutan kecil. Dari sela-sela pohon, setiap orang mengintip berbekal teropong mini.

“Astaga Gong! Bima tuh bertapa apa e’ek? Di bawahnya tuh, lihat kuning,” ungkap Petruk yang takjub. Kompak, ketiga teropong diarahkan ke gua tempat Bima bertapa. Warna kuning itu

semakin lama, semakin mengeluarkan cahaya. Betul, Bima bertapa di atas tumpukan emas batangan.

Oalah, cah-cah mau nyapres saja masih nutup-nutupi kekayaan. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: