Dana Abadi Rakyat ( DAR )


Sisa-sisa badai semalaman masih terlihat, mendung gelap menggantung di langit, beberapa papan reklame di pinggir jalan Ngamarta tumbang. Namun, hangat suhu udara tetap terjaga di kantor eksklusif Arjuna yang sedang membolak-balik proposal ajuan dana yang mau diambil dari kas dana abdi rakyat (DAR). Kantor yang dipenuhi perangkat canggih dan sebuah landasan besar heliped di dalamnya ndongrok dua helikopter

pribadinya. Yang satu bernama Al Iman dan satunya Al Ikhsan. Kedua helikopter itu dilengkapi teknologi canggih sehingga mereka bisa saling berkomunikasi. ”Jiwaku remuk bro denger gosip tentang bos Arjuna,” ujar si Iman. ”Iya isunya bos Arjuna koruptor,” jawab helikopter Ikhsan. Lampu atas helikopter si Iman berkedip jawab dengan kepala bergeleng.

Tapi, memang seluruh penghuni Ngamarta sekarang sedang geger karena satria-satria Negeri Ngamarta dituduh menggunakan dana abadi rakyat untuk beli pulsa.

”Bro bos kita juga, ada data ikut makan dana rakyat,” celetuk heli Al Iman. Itu yang ditakutkan heli si Ikhsan. Sekalipun Arjuna bergelar Cipta Wening lambang kejernihan, namun karena cara hidupnya telanjur mewah, biasanya untuk mencukupinya dia mengambil jalan pintas, yaitu korupsi. Heli Al Iman dari lampu seinnya merembes air mata. Apalagi, isu santer helikopter merek Al Iman mau dilepas.

Lamunan mereka dibuyarkan derak pintu terbuka, satu jam kemudian kedua mesin helikopter dicek oleh teknisi. Dalam waktu yang bersamaan, di dalam kantornya Arjuna menerima dial telepon dari Prabu Kresna si ahli politik ulung. ”Beres yup, 500 ribu dolar Ngamarta, aku terima sebagai hibahku heli Al Iman.” Masih dengan ponselnya Arjuna berjalan ke landasan tempat heli Al Iman ndongkrok. Dengan senyum berair mata, heli Al Ikhsan melepas sohib akrabnya, heli Al Iman, yang akan dihibahkan ke Negeri Dwarawati.

Situasi itu membuat heli Al Ikhsan gelisah. Dia harus bisa menemui Raden Wisanggeni untuk memastikan apakah juga harus pergi tinggalkan hidup Arjuna. Waktu kantor sepi dan aman, untuk berbicara empat mata Wisanggeni menyelinap temui Heli Al Ikhsan. Dalam obrolan terungkap Heli Al

Ikhsan diminta tak usah termakan berita miring yang beredar. Wisanggeni juga berjanji tidak akan ada proses hibah lagi. Sedikit tenang Al Ikhsan mendengarnya.

Untuk kepastiannya, Wisanggeni membuka akses data terbuka di kantornya untuk Al Ikhsan biar punya kepercayaan penuh dengan Arjuna. Wisanggeni pun meninggalkan Al Ikhsan sendiri di dalam kantor asyik utak-utik dengan mouse. Ternyata Wisanggeni lupa bahwa ada beberapa file yang belum ditutup sehingga membuat mata Al Ikhsan berbinar masygul membacanya. Sebuah surat cinta bos Arjuna untuk Wulan Jamil. ”Dasar playboy, awas gue kerjain,” celetuk heli Al Ikhsan. Ia pun mengangkasa memandang dengan infrarednya. Dilihatnya mobil Arjuna mengarah cepat tergesa keluar Ngamarta. Dari sensornya terlihat di kursi belakang mobil ada orang lain selain Arjuna.

Mata Al Ikhsan dipelototkan, Arjuna with sekrertarisnya, Wulan Jamil. Wajar urusan bisnis. Tapi kok, mobil mengarah ke parkir sebuah hotel berbintang lima. ”Ah…biasa lobi bisnis,” pikir Heli Ikhsan. Setelah mengurus tetek bengeknya dengan resepsionis, Arjuna dengan memeluk pinggang sekretarisnya menuju kamar yang disediakan. Heli Al Ikhsan membuka teropong fokusnya dan meninggikan terbangnya agar jangkauan lebih luas. Rintik gerimis turun selembut salju, eh basahi helikopter Al Ikhsan tapi tetap cuek. Di dalam kamar ber-AC, Arjuna pun mulai dibasahi gerimis keringat. Suddenly, angin bertiup kencang mengoyak tirai kamar. Arjuna melihat helikopter Al Ikhsan di luar yang tertawa terpingkal. Amarah Arjuna mbeludak, kaca kamar pecah diterjang tubuh Arjuna. ”Eits…sabar dong bos, katanya lobi kok kemringet, dasar playboy,” ujar heli Al Ikhsan sambil terbang menjauh menuju halaman parkir.

Arjuna segera check out dari hotel serta menarik ceweknya ke dalam mobil dan secepat kilat meluncur. Al Ikhsan pun segera mengudara mengejar. Walau mobil Arjuna dilengkapi program mengacak radar, ternyata masih lebih canggih peranti heli Al Ikhsan. Sehingga, mobil Arjuna masih terpantau jelas. Namun, di sebuah tikungan Arjuna merapal aji panglimunan dan mobil lenyap dari pandangan heli Al Ikhsan. Sadar usahanya sia-sia mengejar Arjuna yang ilmunya tinggi, Al Ikhsan memutuskan cari bahan bakar ke sebuah landasan heli di pinggir Ngamarta. Sambil isi bahan bakar, Al Ikhsan iseng baca koran. Tapi, alangkah kagetnya, sebuah berita di koran Madukara Post di halaman muka membuat jiwanya bergolak. Ngamarta Corruption Watch (NGACW) belum menyerah mengusut dugaan penyelewengan dana abadi rakyat (DAR) oleh Puntadewa. ”Kami ke sini untuk menyerahkan beberapa tambahan data baru terkait korupsi,” ujar Koordinator Divisi Pelayanan Publik NGACW Raden Jengglong Jaya di gedung KPK.

Menurut Jengglong, ada dua sumber aliran dana yang masuk ke kantong Puntadewa. Duit tersebut berasal dari biaya Bratayuda Perang In Hastina (BPIH) dan dana abadi rakyat (DAR). ”Total jumlah uang yang diterima Puntadewa Rp 700 jutaan,” kata Jengglong.

Penyelewengan itu dilakukan saat acara open house hari Sesaji Raja Suya dan biaya pulsa ponsel. ”Karena itu, kita meminta DAR dibubarkan. Heli Al Ikhsan gemeter. Terlepas berita ini benar atau tidak, ia merasakan perilaku satria Ngamarta mulai bergeser, bukan lagi MEMAYU HAYUNING BAWANA. Negeri Ngamarta menjadi ajang korupsi dan itulah kenapa sohibnya, Al Iman, harus pergi. Al Ikhsan putuskan tinggalkan Negeri Ngamarta dan menanti suatu generasi baru Ngamarta yang lebih baik.(*)

Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: