Dicari, Menteri Pemberdayaan Laki-Laki


ADA kabar yang Sampeyan percaya boleh, ndak Sampeyan percaya aku ya ndak patheken. Dalam kabinet sekarang bakal muncul kementerian baru, Menteri Pemberdayaan Laki-laki. Letak kantornya pun sudah didesain berseberangan dengan posisi kantor Menteri Pemberdayaan Perempuan. Face to face orang Londo bilang. Dep adebben, ocak reng Medure.

Dasar pemikirannya begini. Dulu banyak banget ITS, Ikatan Takut Suami. Kok sekarang makin banyak ITB, Ikatan Takut Bini. Semua kita tambah takut bini sampai-sampai ketika flu babi merajalela dengan virus H1 N1, ada yang bilang, ”Wah iku sik gak onok apa-apane, Cak. Ada lagi yang lebih ngeri ketimbang virus H1 N1, yaitu virus B1 N1…”

Mari kita meniru almarhum Basuki Srimulat, ”Yeeeen tak pikir-pikir…” Bener juga ucapan kawan tadi.

Sekarang perempuan nek ditempiling bojone tinggal main lapor ke KOMNAS Perempuan. Mereka bisa juga lapor ke pembela-pembela perempuan yang makin banyak, ke seniwati Ratna Sa­rumpaet, ke tretan dibi’ alias dulur dewe orang hukum Nursyahbani Katjasungkana yang asli Pulau Garam di seberang Jembatan Suramadu itu. Tapi kalau kita kaum laki di-kuyo-kuyo istri, hayo mau lapor ke mana Sampeyan?

”Lho, tradisi kita dan seluruh dunia itu memang menghormati perempuan…mengutamakan perempuan,” kata Petruk alias Kantong Bolong sambil bersandar di pohon sawo, di padepokan Semar di Klampis Ireng.

Adik Gareng itu mengajukan salah satu contoh dari Nusantara yakni orang Batak. Kata Petruk, kalau Inang-inang atau kaum ibu di Batak sudah turun tangan menyelesaikan persoalan sosial, siapa yang berani menghadapi mereka. Tentara dan polisi bahkan akan berpikir seribu kali.

Adik Petruk, si Bagong yang memang gemar membantah kini menyanggah kakaknya. Dalam keadaan kepepet, kata Bagong sambil tetep memperhatikan layang-layang di langit Klampis Ireng, Inang-inang itu akan turun tangan dan mendominasi laki-laki. Tapi dalam keadaan normal laki-laki akan dimuliakan. Jangan coba-coba kaum laki memandikan bayi atau mencuci baju di rumah, bisa disemprot sama mertua. Itu tugas perempuan.

Dari Danau Toba Petruk beralih contoh ke Pulau Sapi, Madura. ”Lihat, Gong, Pak Sakerah itu Belanda saja terbirit-birit ketakutan. Apalagi kalau beliau sudah bawa pusaka pamungkasnya celurit Si Lerok. Tapi lihatlah…lihatlah…Papinya Brodin itu nyembah-nyembah ketakukan kalau Mbok Sakerah sudah marah-marah ke beliau. Jadi tradisi kita memang mewajibkan takut pada perempuan.”

Mata Bagong masih ke langit, menerawang layang-layang bergambar Surya Paloh mendelik-delik, kleyang kabur kanginan benangnya putus oleh layang-layang sebelahnya yang bergambar Aburizal Bakrie mesam-mesem. Dengan suaranya yang berat dan parau Bagong meluruskan Petruk yang saknaliko bergaya Jakartaan.

”Truk, elo pigimane sih. Lihat konteksnya dong. Ngapain Mbok Sakerah marah-marah ke Pak Sakerah? Karena waktu itu Sakerah marah-marah ke istri mudanye, Marlena, nah Mbok Sakerah kagak terime…”

”Maksud elo?” Petruk ikut-ikutan mBetawian.

Gareng ikut-ikutan jadi pria metroseksual dan jadi penengah, ”Maksud adik elo tuh Truk, marahnye Mbok Sakereh justru untuk memerdekakan orang laki dan manjain orang laki…Bukan untuk menekan dan menjajah…wong nyang nyariin bini mude tuh Mbok Sakereh juge…Persis kayak pelukis besar Affandi dulu…nyang nyariin istri mudanye juge Bu Affandi…”

Gareng seperti biasa masih terlampau banyak berpikir. Sang Cakrawangsa alias pengikat tali persaudaraan ini juga masih bertahan sebagai penengah. Belum ada titik temu di Padepokan Semar Klampis Ireng siang itu apakah Petruk yang benar, kementerian pemberdayaan laki-laki tidak kita perlukan, ataukah Bagong yang benar, kementerian pemberdayaan laki-laki memang telah mutlak kita butuhkan.

Agar tidak vakum, Petruk iseng tanya Bagong, ”Jempol kata lainnya?”

”Gampang, Truk, nggak pernah jadi wali kota juga bisa jawab: ibu jari…”

”Pusat suatu negeri?”

”Lebih sepele lagi, nggak pernah jadi Pak Camat juga bisa jawab: ibu kota…”

”Tanah tempat kita berpijak?”

”Wah jauh lebih remeh-temeh lagi, hanya Miyabi yang nggak bisa jawab: ibu pertiwi…”

”Lha iku artine kita memang seharusnya menghargai perempuan, laki-laki ndak perlu dihargai. Ndak perlu kementerian pemberdayaan wong lanang. Ndak ada bapak jari, bapak kota, bapak pertiwi…Dan awak peno itu Gong, kalau mau ngajukan kartu kredit, yang ditanya nama ibu…ndak ada urusan mau bapakmu namanya Karwo, Dahlan, Bambang, Yudo, Susilo…”

”Oke, oke,” Bagong masih ingin membantah, ”Sekarang taruh­lah tidak ada kementerian pemberdayaan laki-laki. Terus kalau kita dihina-dina oleh kaum istri…dicerca…dimaki-maki…ditempeleng…Kita mesti lapor ke siapa? Ke polisi? Ke kejaksaan? Ke KPK? Iya kalau laporan kita diteruskan, diproses. Kalau mereka malah bisik-bisik sambil cekikikan ke kita: Sssstt…kita sami mawon…aku juga takut istri…”

Belum selesai Bagong bicara, ujug-ujug datang istri Gareng, Dewi Sariwati. Ia datang dengan menggendong bayinya, Nalawati, sambil mencincing kain dan nuding-nuding Gareng. Baru saja Bagong akan melanjutkan kata-katanya yang terhenti, ujug-ujug juga datang istri Petruk, Dewi Undanawati juga menggendong bayinya, Bambang Lengkung Kusama, sambil matanya mendelik-delik ke arah Petruk.

Gareng di-undat-undat istrinya. Ndak usah mikir-mikir negara. Memang dibayar berapa. Urus saja apakah si bayi Nalawati sudah dimandikan. Petruk di-unek-unekno. Ndak usah mikir yang besar-besar. Yang kecil-kecil saja seperti bagaimana beli susu buat Bambang Lengkung, Petruk ndak jegos. ”Kalau sampai ngisya’ Sampeyan belum pulang ke Bluluk Tibo, awas!!!” bentak istri Gareng. ”Kalau sampai mangrib saja Sampeyan belum pulang ke Kembang Sore, ta’ pateni,” sergah istri Petruk.

Semar terkekeh-kekeh melihat adegan itu. Petruk dan Gareng dengan geram akhirnya sepakat bahwa kementerian pemberdayaan laki-laki sekaligus menterinya sudah saatnya ada. Kalau semua laki-laki sudah nggak boleh mikir negara, dan cuma mikir rumah tangga tok karena takut istri, mau jadi apa negeri ini. Mereka menunggu kalau-kalau ada telepon dari Padepokan Cikeas, untuk menjadi menteri pemberdayaan laki-laki.

Gareng menunggu sampai ngisya’, belum ada telepon. Petruk menunggu sampai mangrib, belum ada telepon. Bagong sudah ngacir sejak ngashar tadi. Istrinya, Dewi Bagnawati, memang tak melabrak Bagong. Tapi bungsu Semar yang cerdas itu main logika sederhana. Kalau kakaknya yang tertua ditunggu sampai ngisya’, dan Petruk sampai mangrib, berarti ngashar si bungsu harus sampai rumahnya di Pucang Sewu. (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: