Geger Pornografi


”Mom, kita harus singkirkan tradisi komunitas kita yang selalu semrawut dalam berpakaian. Itu cara celamat dari aturan undang-undang pornografi,” kata Dewasrani, anak lanang Durga yang baru pulang dari Kahyangan Jonggring Salaka. Kahyangan, tempat persemayaman para dewa yang berkuasa, kini sedang punya gawe. Yaitu, penyusunan undang-undang pornografi. Undang-undang itu terkesan memaksakan kehendak tanpa rembugan dengan khalayak wayang.

Durga hanya tersenyum mendengarnya. Ya, Dewasrani sedang panik. Sebab, anak buah ibunya, demit, setan, gendruwo, suka berdandan sekenanya. Ambil contoh, Non Rara Gembluk yang tubuhnya terlalu seksi. Pakai apa saja tetap hot. Ada lagi Om Buta Rambut Geni. Penutup auratnya minim sekali. Sebab, api di kepalanya selalu membakar apa saya yang melekat di tubuh. Dewasrani mengusulkan agar dua orang itu dijadikan uji coba sebelum undang-undang pornografi disahkan. Mereka harus diuji tes kesopanan pada Prof Kamajaya, si jago etika.

***

Setelah tempuh perjalanan darat 5 jam nonstop naik bus, keduanya sampai di kediaman Prof Kamajaya. Rara Gembluk dan Buta Rambut Geni lalu copot alas kaki masing-masing. Dengan jalan pake dengkul, mereka mendekati Kamajaya yang sedang meditasi disebuah altar suci. ”Tuan Kamajaya, kami siap menerima pelajaran,” ujar Rara Gembluk dan Buta Rambut Geni kompak.

”Eh, sang Durga kirim ente ke sini ya? Apa inyong mampu ajari sira?” kata Prof Kamajaya merendah. Mereka kompak anggukkan kepala. Yang pasti, Prof Kamajaya berpesan agar dua orang itu tak umbar syahwat. Untuk menjadi tokoh yang sopan, mereka harus menjauhi itu semua. Wejangan terakhir Kamajaya, kedua kroni Durga itu harus lewat ke salah satu negara, Negeri Taat atau Negeri Sopan. Masing-masing memilih satu negara. Saat lewat, mereka tidak boleh mengeluh. Dua cecunguk Durga itu setuju. Dengan penuh keyakinan, mereka memasuki negeri yang harus dituju.

Sementara di depan laptopnya, Prof Kamajaya serius mengirim perintah ke Negeri Taat. Beri pelajaran keras, tulis Kamajaya. Tombol enter disentuh, dan weettt.. Buta Rambut Geni plonga-plongo di daerah gersang. Lepas pandang, yang terlihat adalah barisan orang-orang yang bekerja dengan pakaian rapi. Namun, banyak penjaga dengan teriakan perintah untuk tetap santun. Di tangah mereka ada cambuk untuk menghukum orang-orang yang melanggar aturan.

”Daerah orang taat seperti ini kok malah banyak orang berwajah sangar? Jadi, ini kekuasaan penegak ketaatan?” Buta Rambut Geni merinding setelah takon sana-sini.

Saatnya Buta Rambut Geni tunjukkan kesopanan. Dia ubah tubuhnya berpakaian dari bahan alumunium rapat. Hanya matanya yang terlihat. Tapi ia lupa, betis sampai ke paha dibiarkan tak tertutup.

Salah seorang anggota pemegang cambuk memukul punggung Buta Rambut Geni dan menyeretnya ke daerah sepi. Rambut Geni nurut saat digelandang dan diinterogasi. ”Tuh pahamu memancing berahi,” kata seorang penjaga. Dengan sigap, penjaga menganti pakaian Buta Rambut Geni dengan bahan besi plus gembok yang menutupi seluruh tubuh. Dia lantas terlihat seperti seonggok besi yang berdiri kukuh. Buta Rambut Geni jadi sopan karena intimidasi.

***

Di tempat lain, Non Rara Gembluk melangkah ke Negara Sopan. Anehnya, di pusat kota banyak mobil didesain jadi penjara. Dan seenaknya saja, pihak aparat menangkapi orang-orang yang dianggap tubuhnya memancing berahi. Wah, ini proyek baru untuk aparat, pikir Rara Gembluk.

Takdinyana, dia lalu berkenalan dengan seorang mantan tahanan, Dewi Wilutama the most beautiful woman. Menurut cerita, dia diciduk setelah joging. Gara-garanya, saat lari pagi, mendadak ada badai besar. Pakaiannya terbawa angin. Nyaris telanjang, dia berusaha menutupi tubuhnya dengan koran. Namun, ketika berusaha pulang, sebuah mobil tahanan menangkapnya dan menuduh umbar syahwat di ruang publik.

Rara Gembluk melongo mendengarnya. ”Aku sudah beri penjelasan. Namun, mereka bilang, peraturan tetap peraturan,” kata Wilutama dengan muka murung.Dia lantas bergegas pergi.

Rara Gembluk memikirkan peraturan yang tak detail dan punya tafsir banyak itu. Peraturan itu, pikir Rara Gembluk, akan menghancurkan kehidupan bermasyarakat. Karena jalan sambil melamun, Non Rara Gembluk tak konsentrasi. Sreett, sebuah dauh pisang ia injak. Jatuhlah dia. Tubuhnya lecet. Namun, yang membuat dia takut adalah robeknya celana jeans yang dia pakai. Celana itu suwek di bagian bokong sampai kulit pahanya terlihat. Pakaian bagian atas pun robek modal-madul. Ia segera tengok kanan-kiri, takut ada petugas. Aku harus kabur dari negeri yang menakutkan ini, batinnya.

Dia lantas SMS Mama Durga. Mom, saya tak sanggup ikuti test dari Kamajaya. Saya mau pulang! Dewi Durga yang membacanya cuma bisa elus dada. Belum sempat menerima balasan SMS, sebuah suara menggelegar menegur Non Rara Gembluk.

”Hai perempuan, berhentii!” ujar seorang aparat hukum. Plaak, tamparan keras menghunjam pipi Rara Gembluk yang tak tinggal diam. Dia mencoba melawan. Tiba-tiba, wuss, dari belakang penjaga lain melempar jubah, meringkus tubuh Rara Gembluk. Namun, para lelaki palingkan wajah saat pakaian jubah membungkus Rara Gembluk yang justru terlihat semakin cantik. Tubuh seksinya kian memikat. Cowok penegak hukum malah kesengsem menatap wajah Jeng Rara. ”Maaf, I want to be your friend,” kata Rara. Cowok-cowok itu mulai belajar bahwa mencintai sesama lebih baik daripada main tangkap.

Namun, alarm kota berbunyi keras, tunjukkan keadaan gawat, tanda peraturan kesopanan runtuh. Prof Kamajaya mendadak muncul dan perintahkan untuk tangkap Rara Gembluk. Dia harus dididik sangat keras dengan ancaman kurungan penjara satu tahun. Tuduhannya adalah merayu petugas.

***

Setahun kemudian, kemeriahan tampak di rumah Durga. Di rumah itu sedang ada pesta menyambut kepulangan Rambut Geni dan Rara Gembluk. Kamajaya dengan bangka tunjukkan kepatuhan dan kesopanan Rara Gembluk dan Rambut Geni yang sempurna.

Durga menatap tajam kedua anak buahnya. Dia tahu, kepatuhan karena ancaman hukuman yang ditorehkan undang-undang hanya memunculkan ketakutan. Dan kita akan sulit memahami nilai yang justru harus lahir dari kesadaran kita sendiri untuk menjadi sopan. Toh, seluruh ajaran di dunia menjamin tidak ada paksaan dalam menghayatinya. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: