Golongan Putih alias Golput

HARI belum begitu gelap. Semburat kuning mengantar senja dipeluk malam. Sekelompok Golongan Putih tampak berjalan susuri trotoar Ngamarta Street. Pikiran mereka gundah pada berita terbaru koran Madukara Pos. Status sosial Golongan Putih diharamkan oleh Mbah Manik Maya.

Gus Abiyasa sebagai mbah-nya golongan putih sudah menasihati Puntadewa yang dari lahir sudah berdarah putih. Kata Abiyasa, larangan Golongan Putih itu hanya dinamika politik manusia. Puntadewa tak serta-merta percaya. Dia kumpulkan Golput sejagat di Ngamarta. Berbagai Golongan Putih dari segala penjuru angin pun datang. Mereka bersiap-siap menghelat Musyawarah Golput International (Mugi). Harapannya, mugi-mugi tercipta pencerahan terhadap nasib status yang di ujung fatwa.

Acara itu memang sedikit berbau politis. Banyak email, surat, SMS, yang masuk ke agenda Presiden Golongan Putih Puntadewa yang materinya sama. Para Golput merasa tak diberi hak, terlebih menghadapi keserakahan manusia yang ingin berkuasa melebihi sang pencipta.

Karena acara begitu urgent, semua disiapkan. Yang mata batinnya kuat, seperti Pendekar Putih Bu Punsu dan Bu Kek Siansu ditugaskan memantau keadaan dunia persilatan. Setyaki, Golput dari Swalabumi.net ditugaskan di pos pemantau jaringan internet. Dia bertugas mencegah para hacker menggagalkan acara. Gatutkaca yang selalu berseragam putih-putih mengudara mengamankan wilayah perairan dan udara sekitar Ngamarta yang dilalui peserta. Antasena dengan perahu jukung hilir-mudik ngurusi nasi warteg dan rujak cingur untuk makan para Golput. Senapati Golput Arjuna siaga 24 jam.

Pertemuan tahunan itu tambah hot karena Gus Semar, Ketua Partai Kuncung Putih, ikut hadir dan berbicara di awal. ”Masa, kuncung putihku yang saya pelihara bertahun-tahun seenaknya harus diubah warna. Brengsek, ya,” ujar Semar.

”Aku juga benci, tak bisa lihat awan putih karena asap knalpot memenuhi langit,” rintih Sadewa, Golput yang suka membuat asap dupa.

Semua Golput menyuarakan kesedihannya akan ulah Mbah Manik Maya. Namun, memang ada yang berpendapat lain. ”Sebagai Golput, mbok jangan mudah terprovokasi. Gunakan pikiran jernih,” sela Bagong yang punya putih mata sedikit karena biji matanya banyak warna hitam.

Akhirnya, sebagai ketua Golput, Puntadewa menawarkan proyek gerakan pemutihan pada seluruh dunia. Malamnya, diam-diam, Puntadewa telah meminta Korps Bima Putih untuk menciptakan sejenis virus yang bisa mengubah warna apa pun jadi putih. ”Jangan khawatir, sudah saya siapkan virus angin putih, hehehe,” bisik Bima.

Keesokan harinya, Presiden membentuk tim dari berbagai Golongan Putih untuk menyebarkan virus. Dalam perjalanan ke selatan yang dipimpin Bima, mereka menyebarkan virus itu di Jawa, terutama di toko penjual pakaian. Maka, di Jawa banyak orang berseragam putih. Ke timur, ke daerah Papua, salju yang tidak putih disemprot lagi.

Tapi, di jalan, rombongan Golput itu berhenti dan ternganga karena mereka melihat seorang bertubuh raksasa dengan kulit serba hitam legam yang selalu berteriak-teriak. ”Aku lapar, aku takut,” seru sosok besar itu.

”Hey raksasa, siapa kamu? Tolong menjauh,” gertak Bima. ”Semprul Lu! Eh, you rombongan Golput mau apa ke sini,” hardik Batara Kala, sangar. Para golongan putih itu grogi setelah tahu bahwa si hitam itu Batara Kala, sang dewa waktu. Akhirnya, Bima dengan sopan menerangkan maksudnya. ”Kami mau ngecat seluruh dunia dengan warna putih karena Golongan Putih telah diharamkan,” keluh Bima.

”Kalian salah. Tak tahukah kalian tentang cerita Kera Putih?” tanya Batara Kala. Semuanya terdiam. Batara Kala mulai mendongeng dengan suara yang merdu. Gayanya seperti dalang Wayang Suket (yang mirip suluk-nya lho, bukan body-nya. Soalnya dalang wayang suket ganteng seperti Arjuna, hehe).

Manik Maya, ayahku, pernah kewalahan karena kekuasaan para dewa mau dihancurkan Rahwana, raja Alengka. Namun, lewat kekuasaannya, Manik Maya membuat anak berwujud kera putih bernama Anoman yang dikodratkan melawan Rahwana. Ternyata, ramalan kodrat meleset. Dalam peperangan yang sangat mengerikan, Anoman tak sanggup melawan Rahwana. Sebab, Rahwana punya jutaan pasukan berwujud manusia, demit, siluman, dan raksasa. Akhirnya, para dewa membuat kera dengan macam-macam warna. Ada hijau, merah, biru, dan hitam. Dengan kerja sama kera berbeda warna dibantu Ramawijaya, Rahwana dapat dikalahkan dengan dijepit dua gunung.

”Nah, sekarang kalian mau putihkan seluruh dunia. Silakan. Tapi, jika warna hitam di biji mata kalian ikut lenyap, apa mata kalian bisa melihat?” ujar Sang Kala mengakhiri ceritanya.

Bima merenung sambil menggali kebersihan hatinya. Memang benar. Jika semua seragam jadi putih, akan lenyap keindahan jagat raya ini. ”Baik, kami pulang. Tapi tolong sampaikan ke Mbah Manik Maya, jangan seenaknya keluarkan fakta. Golongan putih yang diharamkan itu juga akan memusnahkan hak hidup dan keindahan alam,” pesan Bima pada Batara Kala.

Sang Batara Kala atau Dewa Waktu tersenyum. Sebab, selama miliaran tahun dia sudah jadi saksi, tak akan ada yang pernah hilangkan Golongan Putih atau golongan warna lainnya. Tak akan pernah!! (*)

Oleh Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: