Gubernur Awang-Uwung


TETES embun pagi masih menggelayut manja di pucuk hijau dedaunan. Di keheningan pagi itu, Semar membalik-balik halaman koran pagi. Yang dipelototi Lurah Karang Kedempel itu adalah halaman Opik (Opini Kita). Ki Lurah yang badannya ginuk-ginuk itu terus mengernyitkan dahi tatkala membaca ulasan Manikmaya tentang dana 269 miliar untuk pilgub putaran kedua.

Setelah membaca, Semar tersenyum dikulum. ”Banyak yang berminat jadi pejabat. Tapi, mereka lupa belajar pada binatang,” katanya. Bagong yang sedang ndeprok sambil mengintip iklan bioskop di koran kontan tertarik. ”Maksud loe primen, Daddy?” tanya Bagong.

Semar cuek. Dia malah menuruti perutnya memenuhi ”panggilan alam”. Sambil memegangi perutnya yang sedikit slemet-slemet, Semar tersenyum kecil dan melangkah ke arah jimbeng. Tapi, Bagong pantang menyerah. Dia ikuti Papah-nya ke arah kamar kecil. Dia pun tetap menyanyakan hal yang sama. Tapi, Semar tetap cuek. Lurah yang punya nama keren Ismaya itu terus konsentrasi mengeluarkan segala ”unek-unek”-nya.

Tidak seperti biasanya, Bagong nututi Semar ke kamar. Dia beri servis massage asal-asalan. Hati Semar pun luluh seiring lemasnya otot-otonya yang kaku. ”Pejabat seperti itu hanya bisa dimengerti kalau kau pergi ke negeri Awang-Uwung. Tapi, kalau kau ke sana, minimal harus jadi pejabat lurah. Kalau tidak, gak usah sekalian,” pesan Semar.

Berdandan ala pendaki gunung, Bagong pamitan. Semar memberikan tiga helai rambut kuncungnya untuk bekal.

Setengah hari berjalan, diakhiri nunut cikar, Bagong sampai di kaki puncak pertama yang berhawa sejuk. Di dasar negeri Awang-Uwung itu, angin terasa semilir. Tapi, suasana mencekam tetap dirasakan Bagong. Gitok-nya mengkirik. Nalurinya berkata, sesuatu yang misterius siap menerkamnya.

Bagong berjingkat pelan, langkahnya waspada. Kretek, dia menginjak ranting kering hingga patah. Kaget, Bagong meloncat sedepa ke samping. Tepat, saat itu, diawali desis, sebuah kepala dengan taring berbisa meluncur menyerang Bagong.

Serangan tiba-tiba seekor ular terbang itu gagal. Bagong cepat berdiri, tapi, ular terbang kedua telah siap menyerang. Bagong cepat meratakan diri dengan tanah dan sigap berguling ke arah pohon besar.

Serangan bertubi-tubi itu membuat Bagong kewalahan. Terpaksa, pikir Bagong, aku harus menggunakan sehelai rambut kuncung. Setelah itu, keajaiban muncul. Dari mulut Bagong keluar paruh. Di tangan dan badannya bermunculan bulu-bulu. Bagong pun berubah menjadi rajawali. Karena aslinya Bagong, si burung rajawali itu pun bentuknya tetap wagu. Meski begitu, si burung tetap gagah dan ganas. Dia sahut ular terbang satu per satu.

Tululut, HP Bagong berbunyi. ”Priben Gong? Apa situ mau pilih pejabat bergaya ular?” tanya Semar di seberang telepon. ”Gak mauuu, ular penyembunyi, serang dari belakang dan liciiiiik,” teriak Bagong.

Kepakan sayap rajawali membawa Bagong ke daerah antah berantah. Di situ, Bagong melompat kembali ke wujud semula. Di daerah yang sepi, Bagong berjalan tenang mengikuti jalan. Tlepok, seekor cecak jatuh tepat di kepala Bagong. Ciiaat, Bagong ambil kuda-kuda. Tengok kiri-kanan, diusapnya kepala, dan, ”Kunyuk buduken!” keluar serapahnya.

Hap, Bagong mencoba menangkap si cicak. Tapi, dia kalah gesit dari si cecak. Bagong pun hanya menangkap ekor. Ciaat…haap, lompat Bagong semangat. Waadaw, jidat Bagong telak mendarat di sudut tembok. ”Mo..cicak juga wegah, wataknya malesan!” lapor Bagong by phone ke Semar.

Bagong kembali terus berjalan naik. Krauk..krauk..krauk, Bagong mencari sumber bunyi. Mata Bagong menangkap seekor rayap yang asyik menggerogoti sebatang kayu. Si rayap beranjak bergerak ketika Bagong mendekat. Semakin Bagong mendekat semakin si rayap masuk rong-nya. Bagong mengikuti masuk sebuah rong yang kecil namun semaki lama semakin besar, besar dan superbesar.

Jabat tangan Firaun menyambut kedatangan Bagong. Ternyata tidak hanya itu, di pojokan sudut, Boma Rakasura bersender di tembok menikmati sisa-sisa tubuhnya yang rontok. Sementara, di sana, Limbuk asyik merajut kain satin yang rowal-rawel dimakan rayap. Bagong tiba-tiba tercekat, mendengar suara dengung yang maha dahsyat. Suara yang makin dekat dan mengepung Bagong. Lingkaran didepan Bagong semakin menyempit.

Gemetaran tangan Bagong memencet-mencet nomor tertentu. ”Halo Mo, help me please,.. Rayap juga tak kupilih karena,..” Belum sempat selesai, sebuah kekuatan besar membetot tubuh Bagong. Glagepan, Bagong sudah tiba di negeri Awang-Uwung dibantu Sang Hyang Wenang. Bagong senang bukan kepalang bisa bertemu kakek buyutnya. ”Gong, yang nyerang tadi bukan rayap, tapi para cecoro alias kecoak,” ujar Sang Hyang Wenang. ”Rayap adalah bangsa yang adil. Siapa pun dihancurkan menjadi tanah,” katanya.

Bagong lantas diajak nonton TV Satelit untuk melihat pilihan gubernur. Di negeri itu, hanya ada dua yang lolos. Yakni, pasangan Kerso dan Ngaji. Mereka masuk putaran kedua. Tapi, Bagong memutuskan tak sanggup nyalon gubernur. Sambil gedeg-gedeg, dia melihat bahwa rakyat lebih banyak yang golput…(*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: