Gunung Kekuasaan

PULUHAN burung penguin salju silih berganti bersiutan di lereng Zety, sekitar 5 kilometer menjelang puncak Himalaya. Burung-burung itu terusik, seperti ketenangan lereng gunung yang tiba-tiba berubah menjadi badai magnet. Tampak Semar dan Togog saling berhadapan dan adu kepastian. Sedangkan Batara Guru menonton dalam posisi siap duel.

Mereka bertiga memperebutkan siapa yang paling sakti untuk jadi presiden di dunia wayang.Semar dan Togog tampak tancap gas. Semar memakai ketapel batu berisi mantra kuncung yang menyebarkan magnet getaran gaib. Sedangkan Togog memakai gaman tulup beracun yang membuat langit menjadi gelap. Jerit kesakitan dan percik darah burung penguin yang terkena efek pertarungan memerahkan salju pegunungan Himalaya. Kejam. Batara Guru yang juga tak luput dari efek pertarungan maha dahsyat itu langsung salto. Dia mencoba melindungi penguin dari kepunahan.

Sang Hyang Wenang yang ada di alam Ngondar-andir Bawana segera mengadakan rapat koordinasi pertahanan dan keamanan (rakor hankam) dadakan. Diputuskan, tak ada jalan melerai peperangan mereka bertiga. Satu-satunya adalah membuat gunung emas. Dan tiga dewa yang sedang berebut kekuasaan itu harus berlomba makan dan menelan gunung tersebut. Yang menang akan dijadikan presiden dunia wayang.Hyang Wenang langsung melesat ke New York. Tapi, nihil. Puluhan penjual emas batangan sudah seminggu nganggur lantaran indeks harga saham naik turun tak jelas.Sang Hyang Wenang pun langsung meluncur ke semenanjung Arabia menemui Raja Fadh. Tapi, yang didapat hanya penolakan. Raja Fadh tidak akan melepas emasnya sebelum harganya menyentuh titik tertinggi. Beruntung, di Papua ada emas batangan yang dengan cepat diborong oleh Sang Hyang Wenang.

Emas itu lantas dibuat menjadi gunung sebesar Gunung Slamet.Tepat 4 hari setelah tahun baru, lomba makan gunung emas di diadakan di lereng Himalaya. Suasana pun berubah menjadi riuh rendah seperti kampanye pemilu. Warga dan massa dari partai-partai besar datang berkumpul. Ada spanduk Partai Geringnya (Gerakan Pringgandani Jaya), Partai Hasnura (Hastina untuk Rakyat), hingga PMB (Partai Mandura Baladewa). Mereka berbaur meneriakkan yel-yel dan mengibar-ngibarkan bendera bergambar Togog, Semar, dan Batara Guru yang dinominasikan sebagai Presiden Wayang.

Sang Hyang Wenang memberi isyarat. Siapa pun yang sanggup menelan gunung utuh lalu memuntahkannya dalam keadaan utuh, dialah yang akan menjadi presiden wayang. Bursa taruhan dari seluruh dunia langsung menggeliat.Sesuai undian, Togog dapat giliran pertama. Ketegangan tampak di raut mukanya. Meski begitu, Togog tetap berusaha tersenyum pada penonton. Dengan duduk berlutut, Togog mencoba menelan gunung emas. Tapi, sayangnya, baru separo bagian gunung yang ditelan, mulut Togog nggak kuat. Mulut itu terlalu kecil.Jangankan memuntahkan kembali. Menelannya pun dia tak mampu. Itu menunjukkan kesaktiannya kurang. Dia gagal menelan gunung itu. Tapi, eits,.. Togog memaksa diri. Gunung itu dia benamkan lagi ke mulutnya dan swreekkk.. mulutnya sobek. Penonton langsung gempar. Tim kesehatan pun melarikan Togog yang pingsan ke Unit Gawat Darurat.

Setelah break, ajang menelan gunung dimulai. Semar dapat giliran kedua. Dia muncul di panggung memakai sarung batik Pekalongan dengan balutan renda keemasan. Kuncung memutih di kepalanya disemir cokelat, tampak seperti Don King. Semua penonton berdecak kagum melihat Semar yang gemuk tapi tetap terlihat tampan.Dengan kepalkan tangan, Semar mengeluarkan suara menggelegar. ”Aku akan telan gunung ini dan dengan cepat memuntahkan kembali. Akulah si presiden wayang. Hahaha,” serunya disambut teriakan riuh penonton.Kemudian, Semar dengan posisi kuda-kuda gaya sumo mulai membuka mulut lebar. Dengan kesaktiannya, Semar berhasil menelan gunung. Pelan tapi pasti, gunung emas masuk ke usus Semar. Penonton menyambut dengan teriakan histeris saat Semar lenggak-lenggok menyombongkan diri. Tetapi sayangnya, ketika berusaha memuntahkan gunung emas tersebut, Semar tidak sanggup. Gunung tetap tinggal di perutnya. Hasilnya, perut Semar menjadi buncit dan pantatnya membesar. Tim kesehatan langsung adakan operasi bedah perut darurat untuk keluarkan gunung dari perut Semar.

Penonton yang sudah melihat dua kali kegagalan mulai khawatir. Mereka tinggal menunggu Batara Guru yang naik panggung dengan tenang. ”Hai rakyat wayang, aku akan jadi presiden dan kamu akan sejahtera. Tak ada kemiskinan, negeri makmur loh jinawi. Itu janjiku!” Penonton hanya diam. Sekejap, gunung emas yang besar itu ditelan dan dimuntahkan kembali. Tepukan membahana langsung pecah di seluruh penjuru gunung Himalaya.

Hari itu, Batara Guru dinobatkan jadi presiden wayang. Sejatinya, Sang Hyang Wenang melihat ada yang berubah dengan gunung emas itu. Tapi, dia tak tahu sebabnya.Satu tahun setelah jadi presiden, Batara Guru sering sakit-sakitan. Dia merasa perutnya seperti ditusuk-tusuk. Sisa emas kecil-kecil yang ia sembunyikan di perutnya mulai jadi penyakit kanker yang mengancam kesehatannya. Ia sejatinya ingin jujur, bahwa sesungguhnya dia terluka saat menelan gunung. Tapi, Batara Guru takut dipecat jadi presiden.

Mendadak, Batara Guru mendengar cokekan yang mengamen di depan istananya. Sing sayuk, sing rukun. Sapa wenang jarene menang. Ning kang janjine cidra, uripe diseret-seret. Batara Guru sedih mendengarnya. Ia memang berjiwa kerdil. Bisa janji saat kampanye, tapi khianati rakyat saat sudah terpilih. (*)

Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: