Hikayat Bom Rumah


RERIMBUNAN pohon, air mancur, dan sesekali celoteh gelatik juga poksay membuat istana kerajaan Ngastina seakan asri dan nyaman. Padahal, di salah satu ruangan dengan penjagaan ketat, asap putih pekat keluar dari sela bibir Duryudana. Di seberang meja, Dursasana mengerutkan dahinya. Sengkuni njengkerung, tubuhnya seolah rata dengan kursi yang didudukinya.

”Kepriben bae, Duryudana must be numero uno,” celoteh Dursasana. ”Pasti! Kalaisme kudu tembus semua lapisan,” tambah Duryudana. Sengkuni hanya diam, menerawang jauh. Imaginasinya mengingatkan kembali pada kegagalan yang sudah-sudah. Dan kata kuncinya tinggal: Lenyapkan target utama penghalang! Dan itu tak lain, Pandawa Lima yang kukuh dengan cinta dan kemerdekaan.

”Hancurkan semua! Bikin teror di antara mereka,” teriak emosi Duryudana. Sengkuni keluar dari pertemuan lalu melangkah menuju ke ruang pribadinya. Dalam pikiran yang judge, diambilnya remote televisi. Ndilalah, pas acara Sehat ala Gus Sadewa. Acara itu mengupas usaha Sadewa dalam mengembalikan kecantikan Batari Durga.

Pikiran licik Sengkuni langsung mak pecotot. Cepat dikontaknya Duryudana dan Dursasana. Perintahnya hanya culik tabib Sadewa.

Satu jam setelahnya, dikomandoi Dursasana, beranggota Durmagati, Dur Kemplu, Dur Joni, sekelompok pasukan berpakaian serba hitam merangsek ke sanggar pamujan Sadewa. Kedatangan mereka langsung dipapag para cantrik Sadewa. Tentu saja, kesaktian cantrik itu terbilang ecek-ecek dibanding ilmu Dur Brothers alias Dur Bersaudara. Dalam sekejap, mereka sudah terpojok. Dan langkah kaki Dur Bersaudara itu sudah ada di pesanggrahan. Lalu, sak klebatan, tanpa menyia-nyiakan waktu, Dursasana dengan karung goni langsung menubruk sesosok tubuh yang ada di keremangan cahaya.

Sosok dalam karung secepatnya digelandang. Sampai di Ngastina, dengan penuh kemenangan, Dursasana disambut gempita. Di tengah alun-alun kota, pelan, tali karung dibuka. Mak byarr. ”Uasem wih! Disekap ora dipakani! Wareg mangan entute dewek,” seru Bagong ketika menyembul dari dalam karung.

Semua tegang, wajah Duryudana memerah. ”Kunyuk, anjing kurap, gajah bengkak! Mata elo semua pada ke mana? Ini malah tanggungan makani,” teriak Duryudana murka sambil tangannya menunjuk-nunjuk Bagong yang sedang celingukan enggak paham. Gus Sadewa sepertinya hilang lenyap ditelan bumi. Yang diculik ternyata Bagong. Sengkuni pun langsung mencirag entah ke mana.

Kartamarma yang ada di tengah-tengah arena itu langsung mengikuti Sengkuni. Bincang-bincang mereka yang bisik-bisik diakhiri anggukan Kartamarma yang menyanggupi tugas.

Kali ini Kartamarma mengepalai Kar Bersaudara. Ada Karta Gembul, Karta Senggol, dan Karta Gepuk. Dengan menyamar, mereka melakukan perjalanan ke arah Madukara. Di situ, Arjuna menjadi pembicara dalam Seminar Hidup Boleh Merdeka. Kar Bersaudara mendaftarkan diri. Tapi, radar kependekaran Arjuna tajam. Dengan kesaktiannya, dikeluarkannya ajian Kumparan Labirin. Kartamarma memasuki ruangan seminar yang terasa jauh dan tak berakhir. Kar Bersaudara dengan energi penghabisan mencoba berlari menembus etape berikutnya.

Tanpa mereka sadari Kumparan Labirin malah membawa mereka memasuki ruangan penuh jedag-jedug, diskotek. Dengan kacamata infra red, hap, sesosok tubuh mereka tubruk dan masukkan karung goni.

Di alun-alun yang sama, semua warga yang datang terasa tegang. Breeeet, belati Duryudana menyambar satu sisi karung. ”Kueh yah! Dhonge, dari baunya wis ngerti! Bisane ente salah tangkap maning? Kyeh ta Lesmana, nyuuuuk!” serang Duryudana marah. Sebab, yang ditangkap di diskotek malah Lesmana, anak Duryudana. Dalam sekejap alun-alun sepi. Ngastina dilanda ketegangan.

Dengan ksatria Sengkuni menemui Duryudana. ”Sing kyeh ta pasti berhasil, wenehi inyong limang wulan,” ujar Sengkuni ndredek. Duryudana mengiyakan saja. Sengkuni melakukan survei tanah yang pas cocok untuk dibangun sebuah rumah. Dibangunlah rumah dengan desain Eropa tapi beratap joglo khas Jawa. Diam-diam, Sengkuni yang pernah ikutan workshop membuat kerajinan tangan berupa bom sedang membuat rencana besar.

Seratus cc Peyeum Bandung diblender, diaduk merata dengan bubuk potassium, bubuk

Belerang, dan satu kilo black powder. Tak ketinggalan menyisipkan puluhan baut, mur, paku di antara tas yang buat tempat pemicunya. Sebagai aroma, ditambahi suiran daun entut-entutan. Tepat lima bulan, ”Bang House” resmi di-launching. Pandawa Lima dan Kunthi juga menerima surat undangan mereka. Kurawa beralasan meminta maaf atas penyerangan pasangrahan Sadewa dan ingin hidup berdampingan.

Pesta besar diadakan, air keras galonan disediakan. Dari kambing guling sampai gajah guling tersaji wangi di atas meja makan. Hanya Werkudara dari sudut ruangan, dengan bersidekap mengamati seisi ruang. Akan ada peristiwa besar apa lagi setelah ini?

Baru satu jam berlalu, Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa mulai tenggleng alias teler. Tanpa diketahui, para Kurawa nylintis pergi dan sembunyi. Tepat jam dua belas, ledakan besar terjadi. Api menjilat semuanya yang di depannya.

Werkudara sendiri kelimpungan, beberapa sisi kulitnya ada yang terbakar. Sekejap lagi

Werkudara pasrah. Tiba-tiba dari bawah tanah, terdengar suara bergemuruh dan bumi merekah. Dari dalamnya keluar musang berbulu putih. Si Musang hanya menggerak-gerakkan salah satu bagian tubuhnya. Naluri Werkudara memintanya untuk mengikuti Musang putih masuk ke dalam perut bumi. Masuk Jangkar Bumi Sapto Pertolo. Musang Putih, ngeclap, berubah menjadi seorang putri cantik tapi berkaki ular. Nagagini yang terpincut keperkasaan, lewat ibu Kunthi, dilamarlah Werkudara untuk dijadikan suami.

Werkudara hanya menggeram sedikit marah. Tapi Kunthi coba menguasai keadaan. Kunthi menghadapkan Werkudara dalam dua pilihan, memilih manusia tapi berhati ular apa ular tapi berhati manusia.

Werkudara setengah berbisik berujar, sebenarnya dia malu mikir makhluk yang bernama manusia, terutama yang hobinya merakit bom. Dan melukai sesama manusia adalah perbuatan tak punya otak melebihi binatang. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: