Iklan Anak


MUSYAWARAH besar (mubes) partai besar, seperti Partai Ciplukan, Partai Gubuk Penceng, dan Partai Endas Glundung, dilaksanakan di jantung Kota Ngamarta. Mubes itu bertempat di utara Sungai Cilinglung yang baunya kayak jengkol karena polusi parah.

Sudah beberapa hari ini, mobil-mobil mewah petinggi partai berderet di tepi sungai yang airnya hitam kayak rawon itu. Penguasa partai, mulai utusan pusat hingga utusan kelas kampung, tak ketinggalan hadir. Mulai Mrs Baladewa Alfayed sampai Dul Jonni juga datang.

Mubes itu mengagendakan pembahasan iklan kampanye yang spektakuler. Sebab, sudah beberapa kali Partai Ciplukan selalu gagal menyedot perhatian publik. Malah, hasil perolehan suara di lapangan selalu jeblok karena iklan yang tidak cerdas. Akhirnya, hasil mubes secara bulat menyatakan bahwa seluruh partai bisa menghalalkan segala cara dalam berkampanye.

Menyikapi hasil mubes itu, Mr Togog yang wajahnya mirip Mik Jeger, pengusaha plus caleg Partai Ciplukan yang terjahat, tengah berunding dengan Dewa Srani. ”Kita ganyang generasi muda Ngamarta sampai ludes biar bodoh dan kelak cuma jadi tumbal politik, hehe,” ujar Togog bersemangat.

”Very good, Gog. Demi bisnis, kita singkirkan rasa kemanusiaan,” kata Dewa Srani, anak Batari Durga, mengamini. Mereka berdua lalu tertawa renyah. Tawa yang terdengar sinis dan mengerikan bagi orang yang mendengarnya.

Lalu, pagi ini Mr Togog dan Dewa Srani, bak legenda begal Siberat, komik wajib bacaan anak-anak mereka, berencana mengeksploitasi anak-anak Ngamarta. Dengan kekuatan satu kompi penuh, pasukan Dewa Srani merangsek rumah Drestanala, istri Arjuna, yang sedang mengandung. Drestanala tahu rencana jahat Dewa Srani. Namun, dia tak bisa berbuat apa pun. ”My son, Mamah tidak bisa melindungimu. Maafkan,” kata Drestanala terbata-bata. Air matanya berlinang. Mr Togog yang membawa sepasukan Demit Komando Khusus bisa membawa Drestanala tanpa perlawanan. Diboyonglah yang dewi menuju alam sejuk pegunungan Candradimuka.

Setelah sepuluh hari perjalanan, rombongan besar itu sampai di kawah Candradimuka. Setelah beristirahat 15 menit, ritual operasi caesar terjadi. Satu jam berlalu. ”Wisanggeni, anakku, dengarlah tangisan pertamamu ditandai pesta politik yang tanpa etika,” senandung Drestanala mengiringi kelahiran putranya.

Tapi. semua terbelalak. Ketika bayi Wisanggeni akan di-shooting kamera untuk iklan, tiba-tiba bayi melemah seperti kekurangan gizi. Togog sebagai pencari bakat anak sehat untuk bintang iklan pemilu murka. Sebab, kalau si bayi kelihatan kurang gizi, Partai Ciplukan akan dicaci maki publik.

Tak mampu menahan kekecewaan, dengan sekuat tenaga Mr Togog menendang bayi Wisanggeni. Bayi itu melayang ribuan kilometer, melewati kehidupan rakyat yang menderita. Korban lumpur Lapindo hingga banjir bandang di Kalimantan. Terus dan terus melayang, Wisanggeni kecil jatuh ke pelukan Drestanala kembali. Selamatlah si bayi dari permainan para politikus yang ambisius.

Togog tak menyerah setelah menemui kegagalan pada bayi Wisanggeni. Sekarang dia minta tolong pada Prabu Kala Pracona untuk mencari bayi Gatotkaca yang lebih populer di publik Ngamarta.

Togog dengan Kala Pracona membawa bendera Partai Gubug Penceng memimpin ribuan raksasa seperti air bah bergerak. Mereka melindas apa saja yang dilewati. Sapu terbang yang dikemudikan para demit, setan, dan genderuwo berdengung seperti ribuan lebah. Mereka mengepung Kahyangan, tempat permukiman para dewa, yang dicurigai menyembunyikan Gatotkaca.

Batara Indra, Bayu, dan Yamadipati mencoba melawan. Tapi, semua lari terbirit dan tak ada yang sanggup menghadapi Prabu Kala Pracona yang sakti mandraguna. Akhirnya, reketek bruuk, pintu kahyangan segera ditutup. Kala Pracona berseru-seru geram. ”Hei, dewa pengecut! Hayo buka pintu kahyangan. Hadapi aku, Pracona. Mana bayi Gatotkaca?”

Prabu raksasa itu sudah mengamuk di depan pintu Selamatangkep. Dia pegang senjata berat, siap hancurkan kerajaan para dewa. Batara Guru, raja para dewa, panik. Untung Batara Naradha yang ditunggu sudah nongol. ”Baiknya, bayi ini kita berikan saja pada Pracona. Ayo sayang, cup-cup-cup,” kata Naradha sambil membuka kain yang dibopongnya. Kain itu ternyata berisi bayi mungil berkulit hitam legam dengan mata bundar yang lucu. Semua dewa terpesona.

”Ya, daripada kahyangan hancur! Baik kakang, lempar bayi itu,” seru Batara Guru mengambil keputusan.

Pintu Kahyangan terbuka. Kala Pracona yang bertengger seperti burung unta kaget ketika Narada melempar seorang bayi ke arahnya. ”Eh, bojleng-bojleng, babonane. Bayi ini hebat,” katanya. Ternyata, bayi Gatotkaca tersenyum dalam genggaman Pracona. ”Ha ha, lucu, lucu! Ini baru bayi keren untuk iklan,” kata Mr Togog girang. Secepat kilat, kru kamerawan, sutradara, dan televisi diundang untuk lakukan syuting pembuatan iklan bayi Super Power sebagai bukti keberhasilan Partai Gubuk Penceng mencetak generasi hebat.

Sebulan kemudian, tayangan iklan Gatotkaca menuai protes Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Dewa Kamajaya. ”Tindakan peserta pemilu yang melibatkan anak-anak maupun yang belum genap berusia 17 tahun dalam kampanye merupakan pelanggaran terhadap pasal 84 ayat 2 UU No 10/2008,” kata sang dewa. Sebab, di pasal itu disebutkan bahwa kampanye dilarang mengikutsertakan warga negara yang tidak memiliki hak memilih. Dan, anak-anak termasuk dalam golongan yang tidak punya hak pilih.

Namun, Mr Togog yang licik hanya menanggapi seruan Bawaslu dengan dingin. Dia terus mencari bayi baru untuk dieksploitasi hanya untuk kepentingan bisnis politik praktis. (*)

Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: