Jenderal yang Ganas

LENGANG begitu terasa di pinggiran jalan Kota Alengka, tepatnya di Jalan Panglebur Gangsa. Malam merayap, memeluk rembulan yang sedang menghias wajahnya yang retak. Sesekali, seorang pemabuk melintas, senandungkan blues pesisir.

Di pembaringannya, Jenderal Kumbokarno menarik lebih tinggi selimut tebalnya. Dia melayang dalam lelap mimpi.

Terlihat dalam mimpinya, sesosok tubuh bergulat melepaskan diri dari pusaran angin yang mahadahsyat. ”Help me!!!” teriak sosok yang ternyata Jenderal Prahasto itu. Terdengar suara senjata dikokang, dan.. . door! Kumbokarno gemrobyos gelagepan. Dia melihat seorang jenderal muda dan sangat mengerikan kesaktiannya. Si jenderal muda itu mencurigai jenderal tua.

Ya, jenderal muda itu tak lain Indrajit, anak Rahwana, yang tak bisa diatur. Dia punya Aji Sirep Megananda dan kadang seenaknya sendiri menggunakan pasukan Alengka untuk nge-dor siapa pun. Kumbokarno sangat tegang, karena Rahwana tak berdaya. Raja sepuluh wajah itu sedang jatuh cinta dengan perempuan berpinggang halus, Dewi Sinta.

Sebuah tangan besar mengguncang keras tubuh Jenderal Kumbokarno. Seketika, dia terbangun. ”Kunyuk sialan. Bisa-bisa-ne ente udah di kamarku. Itu, tulung ambil air minum di bar room inyong,” pinta Kumbokarno sambil mendelik. Togog mung nyengir sambil menyorongkan segelas brandy.

Ternyata, Togog cuma mau menyerahkan telepon dari Jenderal Gunawan Wibisana. Mak jegagik, sambil menimbulkan gempa kecil, Kumbokarno mencolot bangun dari pembaringan. Di seberang telepon, Jenderal Wibisana berkata, ”Perang kita dengan pasukan Ramawijya harus gentlemen. Tidak boleh main bius, apalagi main culik. Jaga Jenderal Indrajit yang tidak sabaran.”

Masih mengenakan kimono tidur, Jenderal Kumbokarno bergegas mengajak pergi Jenderal Togog lewat jalan rahasia. Mereka menuju tempat persembunyian Jenderal Hanoman.

***

DAN tak seperti biasanya, Hanoman pun bermimpi aneh. Beberapa kali Semar terbangun, terganggu teriakan Hanoman. Sesaat kemudian, Kumbokarno datang. Raksasa sebesar bukit anakan itu sampaikan kbar bahwa perang Alengka dan pasukan Ramawijaya tak boleh main tipu. ”Dan maaf, bisa jadi Jenderal Indrajit sangat membahayakan,” kata Kumbokarno sebelum bergegas pulang.

Semar segera mengambil sebuah kitab kuning berdebu di atas lemari. Semar membolak-balik lembar demi lembar sejarah Alengka. Dia geleng-geleng kepala. ”Wah, Indrajit bukan anak Rahwana. Tapi, dia dibuat dari mega hitam oleh bangsa Asyura yang ganas,” kata Semar sambil menunjukkan tulisan kawi agak suram. Isi tulisan itu cukup nggegirisi. Katanya, ada bangsa Asyura yang berperang dengan kejam dan awur-awuran. Masyarakat sipil, anak-anak, perempuan yang tak tahu perang ikut jadi korban. ”Kyai semar, kita awasi Jenderal Indrajit 24 jam,” tegas Jenderal Hanoman.

Tiba-tiba, Hanoman merasakan ada serangan mendadak ke persembunyian para monyet. Tak dinyana, daun-daun berjatuhan. Gua persembunyian dilempari batu kerikil. Ringkik kuda perang terasa menyayat hati. Hanoman tetapkan hatinya.

Dengan BlackBerry-nya, Semar menyampaikan siaran pandangan mata. Ada serangan ganas pasukan demit Alengka. Perang tak seimbang terjadi. Pasukan monyet yang tak siap dan ketakutan melihat wujud demit yang aneh-aneh. Ada kepala yang tempatnya di puser. Ada demit berwujud gergaji, bahkan ada juga demit yang bisa bergoyang gergaji. Alamaak..

Tiba-tiba, muncul hujan ratusan anak panah. Hanoman yang mulai geram keluarkan kuku saktinya. Ribuan anak panah itu disedot kuku Hanoman. Semunya berjatuhan ke tanah. Mendadak, suasana sepi sekali. Tak terlihat satu pun pasukan demit. Semua kembali tenang, namun pasukan monyet tetap waspada.

Hanoman mulai curiga dengan ketenangan yang mengancam karena dia merasakan ada mendung menyelimuti hutan tempat ia dan pasukan monyet bersembunyi. Saat ia tengadah ke langit, terlihat mega putih dan di tengahnya terpahat tulisan Megananda, anak mega yang ganas. Hanoman terkesiap, tahu kode serangan tersebut. Namun terlambat, seluruh pasukan monyet tertidur dan terkena serangan racun. Semua gugur.

Jenderal Hanoman histeris akan keteledorannya melindungi pasukan monyet. Dia berteriak-teriak seperti orang gila. Sebab, bukan hanya prajurit kera yang gugur. Seluruh tumbuhan dan hewan juga ikut punah.

Dengan sangat emosi, Hanoman terbang menuju rumah Jenderal Indrajit. Tapi sepi. Tak ada orang. Hanoman tak peduli. Dia mengamuk dan menghancurkan rumah Jenderal Indrajit sebagai pelampiasan amarahnya. ”Aku bersumpah untuk cincang kamu sampai tujuh turunan,” teriak Hanoman kalap.

Esoknya, Ramawijaya mengecam keras serangan tersebut. Media mulai menulis buku biografi Jenderal Indrajit. Di Osaka Royal Hotel, Rahwana tersenyum puas. Sebuah sejarah kelam telah diwariskan dengan sempurna. Dan Rahwana sebagai tokoh paling ganas di Alengka luput dari jeratan hukum yang lemah dan korup. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: