Joss and Nggedebus


ADALAH Ngastina, negeri gemah ripah loh jinawi, yang diprediksi tidak akan mengalami resesi ekonomi. Sebab, negara itu berada pada tingkat perekonomian nomor delapan terbaik di dunia.

Dan kisah ini terjadi di negeri elok tersebut: Sesekali kelebatan bayangan hitam kayon berkelebat di kelir wayang. Ndrog..dog..dog, kotak wayang dipukul; ngrecek..cek..cek, keprak ditendang. Woooooo, suara dalang melagukan suluk pathet jugeg.

Siluet Duryudana diikuti Sengkuni dan Sanjaya tampak masuk ke paseban jawi. ”Paman, tobat! Apa hebatnya Semar? Masak gamelan lokananta jatuh ke dia?” ujar Duryudana bersungut-sungut.

”Jelas, itu buah pengabdian Semar pada kesenian tradisi,” jawab Sanjaya. Tetap saja Duryudana uring-uringan nduableg. Sengkuni ngububi. Katanya, dengan segepok dolar, pertahanan Semar bisa runtuh. Namun, Sanjaya, Direktur Ngastina Banking, menolak tegas. Dana talangan sudah habis untuk menutupi kredit perumahan Kurawa Cs yang macet. Kalaupun mau, harus ngerenten ke negara lain.

Syahdan, berdasar undian, diutuslah bapak-anak, Durna dan Aswatama, cari emas ke kahyangan. ”Dad, tujuan pertama ke mana nich? Siapa tuh Kuwera? Kita dah pernah ketemu?” tanya Aswatama. Durna dingin, terus melangkah. Sudah terbayang bagaimana susahnya menghadapi pertanyaan untuk ketemu Sang Hyang Kuwera, dewa yang terkaya.

”Kalian pilih mana, kura-kura emas atau kura-kura urip?” tanya penjaga gerbang. Durna dengan pasti memilih kura-kura emas. Pintu akhirnya terbuka. Diawali raungan, muncul sesosok raksasa. Tanpa banyak omong, mak week, kontal bapak anak kembali ke dunia wayang. ”Daddy sich, wis tua, mata duitan. Cari helm dulu! Ben gak benjut,” leceh Aswatama.

Berdua, mereka tertatih kembali ke Kahyangan. Kali ini, Durna pilih kura-kura hidup. Di dalam, mereka kecewa mendengar keterangan Sang Hyang Kuwera. Sebab, cadangan emas dewa itu tersimpan di Bank Swiss. Tanpa izin, dari pemerintahan Swiss, dana itu nggak bakalan cair.

”Dasar anake jaran, penthelengan! Memang birokrasinya begitu,” kata Durna melihat Aswatama nggrundel. ”Baiknya, kalian pinjam Poundsterling saja,” kata Kuwera. Dengan diantar jet pribadi Sang Hyang Kuwera, mereka diantar ke Britania Raya. Di bandara langkah mereka kembali terganjal, Durna dan Aswatama belum mengantongi visa. Diperparah lagi tuduhan mereka akan melakukan tindakan teroris. Sebab, Durna kan jenggoten panjang. Enak aja lu, gini-gini ini yang bikin cewek kepincut, batin Durna.

Dia pun memikirkan jalan pintas. Dalam perjalanan ke ruang deportasi, Durna menarik tangan Aswatama lari sekuat tenaga. Mereka menyusuri tepian pagar kawat. Sepasukan berkuda kerajaan Inggris, mengejar mereka.

Durna lantas menelepon istrinya, Wilutama, yang memang keturunan kuda sembrani. ”Mamih, cepetan ke sini! Sodaramu kurang ajar,” ujar Durna. Begitu telepon ditutup, Wilutama sudah datang dalam wujud kuta betina nan ayu. Sontak, para kuda laki-laki blingsatan, ngiler, berubah arah mengejar Wilutama.Dengan tenang, Durna dan Aswatama pun menapaki tangga Buckingham Palace. Langkah mereka dihentikan PM McBlair. Sang perdana menteri menjelaskan, Poundsterling masih naik-turun. Saham tutup, mereka diminta ke Amrik mencari jawaban.

Dengan penerbangan khusus, Concorde, Durna dan Aswatama mendarat di John F. Kennedy. ”Excuse me, angkot via white house, ingkang pundi mister?” tanya Aswatama belepotan. Sampai di gedung putih, tepatnya kantor kepresidenan, di pintunya tercantel tulisan, Presiden is out of area.

Pada sebuah pangkalan ojek tepat di seberang White House, mereka mendapat informasi. ”Few minutes later, Bush baru aja ngojek ke rumah. His car is sold,” kata seseorang di antara para ojeker.

Durna dan Aswatama dengan ojek yang sama minta diantar ke rumah Bush. Begitu sampai, Durna dan Aswatama saling pandang. Mereka ragu melangkah masuk. Kediaman Bush gelap gulita bak tanpa penghuni karena Bush gak kuat bayar listrik.

Nekat, mereka akhirnya masuk juga. Beberapa kali nama Bush mereka teriakkan, tapi tak ada jawaban. Ternyata di beranda belakang, pada sebuah kursi malas, Bush terduduk lesu. Stress. Durna dan Aswatama trenyuh. ”Apa karena konflik Iraq you stress, Bush,” bisik Aswatama. Bush menggeleng lemah. ”Apa karena senang bagi-bagi rezeki lewat lembaga ke seluruh pelosok dunia? Bush kembali menggeleng.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul Semar. Dia menerangkan, jadi orang tuh jangan terlalu percaya diri, pongah dengan program-program dan janji. Padahal puuuh, ngejos tok. Juga jangan nggedebus, serba puuh, nol besar. Semar tunjukkan HP-nya yang bisa muter TV saham dari seluruh dunia. Bursa rontok gara-gara Amerika bangkrut.

Sementara di Ngastina, Duryudana dimasukkan rumah sakit jiwa karena mengamuk. Dia menyerang siapa pun, minta gamelan Lokananta yang dianggap berlapis emas murni 24 karat. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: