Kampanye Ekonomi Capres

HUJAN masih riwis-riwis. Angin menggiring hawa dingin menusuk rongga tulang. Banjir hanya beberapa menit menerpa. Tetapi lumpur yang ditinggalkan merusak semua perabot rumah. Sudah menjadi langganan, bantaran sungai Ciliwung kena rob kiriman.

Di salah satu gubuk reyot, Bagong seakan menikmati keadaan. Cuek, kentingkring di atas meja. Matanya tak lepas dari TV buluk-nya. Ia melihat tayangan musik dangdut. Tiba-tiba, pett! ”Kunyukkk, Priita! Kita boleh kere. Tapi, info kampanye capres kudu up to date,” teriak Bagong yang hafal ulah istrinya, Prita Mulyasari. ”Pakne sayang, emang ada kere munggah apartemen kalau nganggur mulu,” serang Prita Mulyasari. Bagong berlalu ke arah meteran listrik dan menghidupkannya kembali.

Layar TV kembali menampilkan sosok Arjuna Berbudi. Selalu dengan balutan safari warna senada. Klimis rambutnya plus senyum dikulum. Arjuna Berbudi dengan pedenya menerangkan konsep keseimbangan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Caranya dengan menyeimbangkan antara ekonomi mikro dan makro.

Bagong pun gedheg-gedheg. Dari hasil audit, nominal yang dikeluarkan untuk kampanye menyentuh 1 M. ”Papih,.. honey, bacut-kan alias lanjutkan. Lha kalau di sini, bacot-kan alias cocotnya doing. Tuh lihat si Otong,” celetuk Prita Mulyasari. Bagong baru sadar. Di sudut ruangan, si Otong menangis. Sudah tiga bulan nunggak bayar sekolah dan dikhawatirkan tidak ikut ujian nasional. ”Alah.., kan masih ada Kang Gareng. Artinya masih ada talangan dana segar. Gak usah malu. Negara ini saja masih utang,” ujar Bagong enteng.

Jendral Karno alias JK giliran nongol berikutnya. Gagah berbaju zirah, melecut kuda kereta Jati Surya. Kedatangan JK, disongsong sepasukan buta liar. Para buta beringas meneriakkan ketidaksetujuan pada JK dan Arjuna yang akhirnya jalan sendiri-sendiri. Para buta terus merangsek, menghambat laju Jati Surya. Sempat sak detik ada sedikit bayangan penyesalan dalam kepala JK, bahwa sekarang ini harus berhadapan dengan

saudara sendiri.

JK secepat kilat merogoh Kunto Wijayandanu, dan ciiiaat, jurus pencak silat Makassar dikeluarkan. Srraaak, gerombolan buta langsung porak poranda. Melenting tinggi dan mendarat di podium. ”Yah begitulah. Pertumbuhan ekonomi kudu kompetitif, clean government,” ujarnya.

Wuzzz, sebuah sepatu melayang, tepat mengenai jidat Bagong. Diikuti panci melayang. Giliran Bagong pentalitan. Bagong segera merogoh kantong celana, selembar lima ribu terulur. Prita melengos jaga image. Bagong mengibas-ibaskannya. Malu-malu, Prita tersenyum. Diambilnya lembaran lima ribu dan plass hilang ke belakang. Bagong segera memperbaiki posisi TV.

Dari jauh, Srikandiwati dalam balutan kebaya merah muncul. Sosok presiden calon presiden perempuan, gagah melangkah ke depan. Di belakangnya, di ikuti puluhan wanita berbusana sama. Serombongan ibu-ibu terus datang bak gelombang silih berganti

dan semakin banyak. Rombongan itu berhenti di sebuah lapangan nan luas. ”Ekonomi kerakyatan intinya adalah gotong royong,” ujar Srikandiwati.

Para ibu seperti tak dikomando mengeluarkan pisau, bumbu dapur. Mereka meracik sebuah masakan. Untuk memasuki area dapur, seseorang harus ahli, bahkan untuk memotong sebuah bawang merah saja. ”Ketika kita lengah sedikit, jari-jari kita ikut teriris,” Srikandiwati panjang lebar menyemangati ibu-ibu. ”Dalam sebuah dapur, di situlah titik fokus sebuah rumah. Dalam dapur terdapat manajemen ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Bagong seperti disadarkan dari mimpi-mimpi. Gleeggh, kembali listrik padam. Dalam keremangan, pikiran Bagong menerawang bahwa dia harus melakukan sesuatu yang menghasilkan. Ada sesuatu dalam diri Arjuna yaitu kehebatan. Semangat yang tinggi

dipunyai Jendral Karno. Sementara gotong royong adalah secuil ilmu dari Srikandiwati.

”Prita, listriknya dihidupin dong, sayang,” pinta Bagong. ”Lihat aja sendiri, lha wong sudah tiga bulan nunggak ya diputus. Kasian dech luuuu,” ejek Prita Mulyasari.

Keinginan Bagong bulat. Ia akan mengubah nasibnya sendiri tanpa harus menunggu siapa calon presiden yang terpilih. (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: