Kampanye yang Wurung

SUARA Sang Dalang kobarkan suluk heroik. Oong,…inilah negara demokrasi yang masih subur loh jinawi. Drog..dog..crekkk… Rakyat menunggu ratu adil….ongggg…

Sementara, di dalam pesawat, Ramawijaya, Presiden Ayodya, sekalipun agak terganggu cuaca buruk, dia sempatkan membuka notebook. Dia melihat agenda kerja. Ternyata, sang presiden dijadwalkan berkampanye di daerah banjir lumpur yang sudah beberapa bulan dan hari enggak habis-habis.

Wajah Rama agak mengkerut tegang. Badan ditekuk masuk lebih dalam ke kursi pesawat. Sabuk pengaman lebih dikencangkan. Dia gemrobyos mandi keringat setelah seorang pramugari berbisik. ”Cuaca gawat.”

Dari arah kokpit, angin terasa lebih kencang. Tangan Ramawijaya kuat mencengkeram sandaran tangan. Mulutnya komat-kamit berdoa.

Petugas Bandara Udara Ayodya segera siapkan pemadam kebakaran. Airport ditutup sementara. Dengan ketenangan pilot yang sudah mengantongi jam terbang tinggi, pesawat pun landing sempurna.

Dari perut pesawat, Ramawijaya cepat meloncat keluar. Seakan tak percaya, Ramawijaya melihat ke arah kaca kokpit yang retak. Di ruang arrival, di depan puluhan wartawan, Ramawijaya menceritakan kronologi perjalanannya. ”Demi kampanye di daerah bencana lumpur, cuaca buruk aku lawan, ” ungkap Ramawijaya, agak jumawa menutup pembicaraan.

Statemen Ramawijaya yang memunculkan respons nyinyir dari para wartawan. ”Maaf, Ramawijaya, apa pantas Anda sewa pesawat mahal untuk kampanye? Padahal, rakyat Anda miskin,” tanya seorang wartawan.

Ramawijaya diam sesaat. ”No comment,” tegas jawabnya. Ribuan pertanyaan diabaikan. Ramawijaya melangkah cepat memasuki mobil Honda City yang akan membawanya ke Porong, Sidoarjo.

Oooong..sang dalang berceloteh lagi. Kunjungan kampanye Rama dianggap sebuah gangguan bagi Rahwana. Raksasa sepuluh muka itu segera mengerahkan pasukannya untuk menghalangi Ramawijaya. Robot mesin Wilkataksini keluar dari perut bumi. Luapan lumpur semakin luas memakan areal permukiman. Tanggul besar dibangun. Namun, tanggul itu selalu dihancurkan Robot Wilkataksini. Sementara, Mbilung, ahli spionase Alengka, tak tinggal diam. Dia memblokade jalan masuk ke desa Porong. ”Apa pun yang terjadi, Ramawijaya tak boleh kampanye ke warga Porong,” serunya. Komando Ki Lurah Togog tak kalah sangar. “Hanya satu kata, SIIKAAT!!!”

Ramawijaya dikawal bodyguard Anoman yang cepat tanggap turun tangan. Wuutz, pukulan Monyet Melempar Daun Pisang menyurutkan Pasukan Alengka. ”Hey buto gemblung, keluarlah atau kumusnahkan?” teriak Anoman sembari kembali memukul.

Wilkataksini kewalahan. Pukulan Anoman sedahsyat bom Atom Hiroshima. Wilkataksini menghindar, lari ke tengah lautan lumpur. Anoman mengejar, direnggutnya kepala Wilkataksini dari belakang. Dibenamkannya kepala ke dalam lumpur panas. Sekuat tenaga, Anoman memelintir. Putuslah gundul Wilkataksini dari leher, hancur masuk sumber lumpur panas.

Ternyata, dari lumpur, muncul ribuan Wilkataksini yang berwujud kepiting beracun. Wilkataksini dengan tawa membahana berdiri di tengah jembatan tol Sidoarjo. ”Buto edan sia-siakan energimu,” ejek Anoman yang tak kehabisan akal. Dia mengerahkan pasukan monyetnya menyerang. Ribuan kepiting langsung ditangkap, dibakar jadi santapan nikmat para monyet.

Isu rencana penyerangan kedua Rahwana membuat para monyet lebih waspada. Dari jauh, muncullah seorang SPG (sales promotion girls). Dia adalah Trijatha, keponakan Rahwana yang cantiknya mirip Dewi Perssik. Si SPG itu menjual pewangi khusus untuk monkey man. Berebutlah pasukan kera membeli pewangi. Tapi apa yang terjadi jelang siang? Pasukan kera antre njebur Lumpur karena seluruh tubuh yang kena pewangi bentol-bentol, gatal bukan main. ”Betul, kan? Kalo beli pewangi jangan sembarangan! Jadi kaya monyet deh,” teriak Togog dari kejauhan sambil terpingkal-pingkal.

Sementara Anoman udah kena hipnotis dan jatuh cinta dengan Trijatha. Semar yang melihat gelagat jelek itu, jenggirat segera cari Ramawijaya. Tapi aneh, dicari ke mana pun, Ramawijaya raib. Dan akhirnya sang Presiden itu ditemukan sedang melamun di tepi sungai Brantas. “Lho, kenapa di sini, Den. Katanya mau kampanye,” tegur Semar. Rama cuma gelengkan kepala. Ramawijaya menutup wajahnya dengan kedua tanganya.

“Kang, aku tak mampu kampanye di depan rakyat Porong. Aku malu, banyak orang hebat di negeri ini. Namun, kasus lumpur tak ada yang bisa mengatasi,” ujar Ramawijaya.

Tiba-tiba dalang menjadi gusar. Segera, dia menangkap Semar dan Ramawijaya. Dan, glodak-glodak, secepat kilat dua wayang itu dimasukkan ke kotak. “Wayang yang tak mau berpolitik tak usah keluar kotak dulu. Titik!” Suara Dalang terdengar sangat murka. Usut punya usut, ternyata Sang Dalang lagi berjuang menjadi Caleg. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: