Karna, Cah Ndesa Militan

MATAHARI masih muntup-muntup. Tapi ketegangan terasa di ruang tengah sebuah rumah sederhana. ”Setuju, cita-cita kuliah di Universitas Bargawa. Tapi uang babeh lagi posses. Lha wong BBM naik yang numpang dokar malah turun,” ujar Adirata sambil membetulkan tali kekang kuda. Mimik Karna njenggureng tegang. Lagian bukan perkara mudah masuk ke Universitas Bargawa, kecuali untuk keturunan pejabat, terang Adirata.

Pembicaraan mereka menerobos lubang-lubang bilik bambu, tembus relung hati seorang Biyung Nadha. Krenteg anak, apa pun sebisa mungkin harus terwujud.Setelah Adirata berangkat, ”Ngger, anakku berangkatlah. Biyung hanya bisa nyangoni secuil ini,” ujar Biyung Nadha yang telah memecahkan celengannya hasil mburuh harian cucian di tetangga.

Sesungging senyum tersirat di wajah Karna, dipakainya cut bray terbaiknya plus hem kotak lengan panjang, sepatu hitam keminclong. Dengan gagah Karna nyemplak pit motor yang memudar warna merahnya. Motor sempat berhenti di pos ronda tongkrongan Karna. Handphone seribu umat, kaca mata ribens lensa lebar dipinjam Karna, menambah mboys ndesa dandanannya. Setengah jam perjalanan, sampailah dia di parkiran Universitas Bargawa.

Kehadiran Karna menjadi pusat perhatian, wajah skor sepuluh tapi penampilan katro abis, tapi pede abis.”Maaf, ruang Prof Bargawa sebelah mana yah?” tanya Karna. Para cewek mbody itu bukannya jawab, malah nahan tawa. Wajah Karna semakin menunduk di pojokan halaman yang sepi. Sementara, baru terlihat bayangan Ferrari merah. Cewek ada yang benahi bedak, pupur, lipstick dll-lah. Mereka caper di depan mata Arjuna yang lincah menapaki anak tangga. Kebetulan, Arjuna lewat di depan Karna,”Eh..udik ngapain lu ke sini? Pulang aja, cangkul sawah ente,” ejek Arjuna. Merasa dilecehkan, Karna agak emosi, sempat meluncurkan pukulan tapi Arjuna bisa menghindari. Malah tempeleng keras mendarat di wajah Karna, sedikit darah mengucur dari sela bibir Karna. Beberapa cowok menahan kedua tubuh yang dibaluti emosi.

Akhirnya Karna mengalah dan duduk menyendiri di depan pintu toilet. Sapaan halus mengagetkan Karna. Seorang cewek ideal berjalan ke arah Karna dari ruang kantin. “Ehm.., Karna, kamu? Mo daftar di sini yah?” tanya Surtikanti. Karna mengulurkan tangannya, ”Surti sich enak, pasti dapat fasilitas masuk sini, lha ibunya buka kantin,” celetuk Karna. Surtikanti hanya tersenyum ringan.Pembicaraan mereka menambah mereka saling dekat dan akrab. Sampai akhirnya Surtikanti menunjukkan ruang Prof Bargawa dan mengantarkannya.

Di mata para mahasiswa, bukan perkara mudah lulus pertanyaan Prof Bargawa. Sehingga mereka mengamati, membuntuti ke mana Karna menuju. Setelah mengambil napas panjang, Karna memberanikan diri mengetuk pintu. ”Sapa itu ganggu keasyikan orang saja? Pasti kere mo minta-minta,” teriak Bargawa. Pintu dibuka terdengar lagu kucing garong begitu menghentak. Memang Bargawa kelewat jenius, so agak nganeh-anehi. Pertama yang dilihat Karna setelah masuk, ternyata Bargawa duduk di senderan kursi dengan kaki slonjoran di meja.

“Karna Prof, anak desa” jawab Karna. Bargawa manggut-manggut tapi melihat kearah lain.Karna menerangkan keberaniannya menemui Bargawa. “Wookey..tapi sudah tau syaratnya” Jawab Bargawa sembari meloncat ke kursi sudut dan duduk lagi di senderannya. Bargawa melemparkan kertas yang diremed-remednya, kertas testing ke Karna. Pelan Karna membukanya, takut sobek. Dibacanya apa yang tertulis di situ. Ringan meluncur dari bibir Karna, bahwasanya pro dan kontra tentang UU Pornografi keduanya sama-sama baik. Tapi tidak bisa menyelesaikan persoalan dengan baik. Hanya marah dan emosi yang bicara, selesaikanlah dengan cinta dan persaudaraan.

Bargawa berjingkrakan keasyikan mendengar jawaban. Ribuan mata yang menyaksikan dinding kaca plus sound, terpana dengar jawaban Karna. Bargawa urek-urek dengan spidol besar di tembok dengan pertanyaan kedua. Karna membacanya dan menjawab, resesi global bisa selesai dengan key word jujur. Bagaimana tidak, dulu sebelum resesi kita ini miskin kaya karena korupsi. Gambaran sekarang ya kondisi mereka yang paling jujur. Bargawa teriak histeris, lonjak-lonjak nangkring di atas meja kecil. Hanya Surtikanti terlihat tepuk tangan melihat dari dinding kaca.

Karena pentalitan akhirnya Bargawa kelelahan dan ingin tidur di pangkuan Karna, tapi pesannya jangan bangunkan kecuali Bargawa bangun sendiri. Satu dua jam aman, memasuki jam ketiga, seekor ular keling pelan merayap mendekati Karna. Menahan napas, hanya itu yang dilakukan Karna. Gigi ular Keling sekuat tenaga menancap di paha Karna yang menggigit bibir bawah. Ngurek terus dan ngurek lagi, ular weling di paha Karna sampai tembus. Gigi Karna bergeretakan menahan sakit darah mengucur deras. Tepat Bargawa terbangun karena anyir darah. Dan Karna jatuh pingsan. Bargawa merangkulnya sambil berbisik. ”You murid baik dan kamu lulus test,” Bargawa menaruh selembar kertas berisi nilai test di genggaman Karna.

Jauh di sana, seminggu kemudian. Terlihat motor pitung meliuk-liuk di antara jalan sawah. Tangan Surtikanthi mendekap erat pinggang Karna. “Ya sebagai murid aku setia dengan perintah guru, miskin tak halangi jadi militan,” ujar Karna. Surtikanthi hanya diam, dengan pelukan makin erat. ”Kangmas ni jujur, Surti anak Presiden Mandraka, Salya,” bisik Surtikanti lewat sela-sela helm. Mak Gragap, seketika laju pitung tidak terkontrol, pematang loncati, sebuah gubug reot ditabraknya. Karna jatuh pingsan lagi, takut punya mertua kaya raya.

Ki Slamet Gundana

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: