Kembang Ikrak-Ikruk


SEBUAH mobil Limousine bergerak hambar. Kendaraan magrong-magrong itu menyeruak di tengah barisan kampanye pemilu di jalan protokol Ngastina. Di dalam mobil itu terbaring lemah jasad Miss Banowati, mantan ratu sejagat yang sempat menggeser kepopuleran Madonna.

”Untung tidak terlambat,” ujar Dokter Durna. ”Gimana, Dokter, istri saya?” ujar Presiden Duryudana yang baru mendarat dari pesawat. Ia baru saja jadi juru kampanye di wilayah Banjar Junut. Sosoknya masih kelihatan sombong dan suka berjanji pada rakyat.

”Terus terang, penyakit ini belum ada obatnya,” ujar Dokter Durna sambil menghela napas. ”Untuk istri saya, apa pun akan aku lakukan,” sahut Duryudana yang beradik 99 orang itu. Kegarangannya sedikit lenyap melihat istrinya sedang koma.

Menurut Dokter Durna, Banowati kena sindrom Rai Gedek. Istilah itu muncul setelah dia membuka beberapa literatur kedokteran mutakhir plus berkonsultasi dengan kampiun-kampiun dokter di Amerika. Sindrom itu muncul pada orang yang ingin selalu hidup mewah plus berkuasa.

Atas desakan Duryudana, Durna kumpulkan dokter nomor wahid dari seluruh donya. Mereka mengadakan simposium untuk menemukan serum antivirus sindrom Rai Gedek. Hasilnya pun muncul. Banowati bisa sembuh kalau minum air rebusan bunga Ikrak-Ikruk yang tersebar di seluruh pantai di daerah panas.

”Itu adalah bunga untuk mengobati orang agar bisa menahan diri dan sabar,” kata Durna.

Detk itu juga, Duryudana perintahkan stafnya untuk berburu bunga. Jagat wayang dikosek abis dari ujung selatan ke utara. Pemburu hadiah berlomba. Spionase terkemuka disebar ke segala penjuru angin.

”Boss, ada isu, kembang Ikrak-Ikruk masih hidup di sekitar laut Afrika. Sumber ini bisa dipercaya, boss,” ujar Dursasana, sang kepala spionase.

Duryudana putar otak. Akhirnya, dibentuknya pasukan Kurawa divisi khusus di bawah jenderal Durmogati. Nama pasukan itu adalah Flowers.

***

Tiba-tiba, cempala dipukulkan sang dalang ke kotak. Dalang itu lantas bersuluk. ”Ooong… Tidak tahu penyebabnya, situasi politik horeg sejadi-jadinya. Oongg, kampanye damai menjadi kampanye baku hantam, kampanye jalan menjadi kampanye runyam, kampanye cerdas menjadi kampanye babak bundas…,”

***

Seketika itu juga, suasana Hastina kacau. Ada isu penggelembungan suara. Ada daftar pemilih tetap (DPT) yang dimanipulasi. Pemilu Hastina terancam batal. Presiden Duryudana ternganga dan tak percaya bahwa pemilu yang direncanakan selama lima tahun ada peluang batal. Secepatnya, dia kumpulkan Kurawa khusus untuk membahas DPT.

Dalam kondisi negara tak menentu, tugas adalah tugas. ”Boss, bunganya sudah diketemukan,” kata Durmogati melalui sebuah HT (lho, HP-nya kemana, Ki Dalang?). ”Bunganya kemampul di tengah lautan,” tambah sang Jenderal dengan suara kemrosak khas HT.

”Ok, pasukan Cebong, kejar itu bunga,” teriak Duryudana.

Tapi, tanpa diduga, dari tengah lautan muncul gerombolan bajak laut yang paling terkenal kejahatan dan kesadisannya sepanjang masa. Dia adalah Black Beard atau si Janggut Hitam yang bernama asli Edward Teach. Dia selalu muncul dengan gaya khasnya. Yaitu, kembang api menyala yang terikat pada jenggot hitamnya yang lebat. Gerombolan itu juga menginginkan bunga Ikrak-Ikruk.

”Hai budak, mundur atau mimis senjataku yang bicara,” kata Black Beard sengit. ”Tidak bisa, kami menemukan terlebih dulu,” jawab Jenderal Durmogati tak kalah genit, eh, sengit.

Akhirnya, saling lontar amunisi tak terelakkan. Perang terbuka! Sebuah rudal dari kapal Black Beard menjadi pemungkas. Pasukan Durmogati tercerai berai. Sementara, di tepi pantai, tubuh Durmogati terkapar dengan napas satu-dua. Segera, dia buka BlackBerry, kirim email ke Duryudana tentang kegagalan mendapatkan bunga.

Duryudana putus asa. Serasa tanpa harapan ketika tahu bahwa bunga yang diidamkan raib direbut bajak laut. Tambah hancur perasaan Duryudana, setelah pintu kamar dibuka, ternyata Dewi Banowati sudah tak ada.

Dari sebuah televisi swasta, muncul tokoh perempuan dalam balutan kain putih. Duryudana memicingkan mata mendekati layar TV. Itu Banowati! Istrinya ternyata telah turun tangan ke rakyat langsung. Dia membagi-bagikan secercah harapan bahwa pemilu hanya sebuah sarana membuat negara semakin baik, bukan sebaliknya.

Kemudian, kamera meng-close-up wajah Banowati yang mengeluarkan statemen. ”Bung, ketahuilah, Kembang Ikrak-Ikruk yang kau buru sebenarnya hanya kiasan. Kita disuruh kembali lakukan pesta rakyat dengan cinta kasih, bukan tunjukkan diri kita yang paling kuat,” ujar Banowati.

Tiba-tiba, Presiden Duryudana menangis. Sebab, yang ia lihat sesungguhnya bukan Banowati, tapi Ibu Pertiwi yang sudah terkoyak rahimnya oleh para penguasa yang zalim sehingga kehilangan Kembang Ikrak-Ikruk. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: