Kemesraan Pilpres

MINGGU pagi, di Karang Kadempel lagi terasa hot-hotnya suhu politik. Pilpres di Ngamarta ternyata membuat dingin kediaman Semar. Petruk, Gareng dan Bagong saling mengunggulkan pasangan masing-masing. Walhasil mereka saling mecucu dan melengos bila berpapasan.

Petruk mengkapling ruang tamu untuk memajang gambar capres Bima Berbody. Berbody, coz pose gambar Bima bak Binaragawan. Dan Berbody adalah berbobot dan dynamis.

Sementara, itu sesuai dengan misi ekonomi kerakyatan yang diemban, Bagong memasang idolanya, Mega Srikandi, di sekitar dapur dan sumur. Gareng yang tak mau kalah pasang barikade di ruang tengah lengkap dengan gambar JK (Jenderal Keren) Arjuna dalam senyum dikulum.

Di ruang tamu, sudah sedari bangun tidur, Petruk konsentrasi mengamati monitor komputer. Petruk sedang mempelajari perkiraan prediksi hasil survei perolehan suara Bima. Aura kemenangan semakin terlihat jelas menyinari wajah Petruk. ”Siiiip dah, mampus lu Gong! Berbody dilawan.. Hidup Bima Berbody!” teriak Petruk.

Di ruang tengah, karena kekagumannya, Gareng terus mengamati gambar Arjuna. Andai saja kakiku tidak pengkor dan mataku tidak juling, pasti sekarang aku yang jadi capres, not you, batin Gareng sambil mentelengi gambar Arjuna.

”Bu..Bune, rica ayam apa sudah siap santap? Lapar nih,” tanya Petruk melihat ibunya, Kanastren, lewat. Kanastren mengangguk mantap sambil angkat jempol. Petruk segera berjalan ke arah dapur. Bagong yang melihatnya segera menutup semua akses ke dapur. Saling dorong pun terjadi dan dimenangkan Bagong. Petruk hanya bisa memaki-maki. Ancik-ancik dingklik dari angin-angin pintu dapur, ”Wuuekonomi kerakyatan dilawan. Body isine cacing tok. Hidup Mega Srikandi,” ledek Bagong.

Gareng yang datang berikutnya juga ikutan misuh-misuh. Jegalan pertama telak dimenangkan Bagong. Akhirnya Petruk dan Gareng kembali ke ruangan masing-masing. Braaak, hampir berbarengan keduanya memecahkan celengan. Setelah menghitung hasil yang didapat, lewat pintu yang lain, mereka menuju rumah makan Padang terdekat. Keduanya langsung memborong puluhan bungkus nasi yang disantap karena kelaparan.

Di mana pun, yang namanya tamu pasti lewat pintu depan. Pun demikian, sedang asyik menikmati nasi padang. Petruk dikejutkan Joni Brindill. ”Sorry Bro, sebentar. Bagong ada? Ini, mo kembalikan utang,” ujar Joni Brindill. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Petruk langsung menerangkan bahwa Bagong sedang tidak mau ditemui karena ada urusan keluarga. Joni Brindill percaya begitu saja dan menyerahkan sebuah amplop. Sebelum menjalankan motor, Joni Brindill menyempatkan SMS Bagong.

Bagong langsung mbrubut ke ruang tamu. Tapi apa yang di dapat? Semua pintu dan jendela ruang tamu sudah tertutup rapat dan dipasangi pagar kawat berduri. ”Kunyuk.. gundul kethek!! Ayo buka! Truk kuwi bayaran sekolahe Al Bago. Gak bisa melu testing!!” sembur Bagong.

Masih menikmati sisa nasi Padang, Petruk malah memutar kepingan CD lagu mars Bima Berbody keras-keras. ”Itu namanya kere, bukan ekonomi kerakyatan. Kalo mau, teriakkan Bima Berbody tiga kali. Ayo, mau nggak?” ejek Petruk. Bagong sekuat tenaga menendang pintu dan berlalu. Petruk tertawa kegirangan.

Hampir saja tubuh Bagong terjerembap, menghindari tabrakan dengan tubuh cewek yang tiba-tiba datang. Cewek ayune moblong-moblong. Berambut ikal terurai, berkumis tipis dan senyum dikulum. Dewi Cenil Genitwati. Petruk yang juga melihat kehadirannya langsung keluar. Gareng juga dibuat terkesima dan ikutan gabung.

Dewi Cenil Genitwati menerangkan maksud kedatangannya untuk mengabdi kepada Semar. Dan kalau diizinkan, ingin berjodoh dengan keturunan Semar. Petruk, Gareng dan Bagong langsung pasang pose terbagusnya. Mereka saling dorong untuk menempati posisi paling terdekat Dewi Cenil Genitwati.

”Eiiits, sabar dulu, dong. Sebagai tanda kasih, ambilin selembar kuncung bapak lo dulu. Yang cepat pasti dapat,” ujar Dewi Centil Genitwati. Grusak, ketiganya segera berlari ke arah kamar Semar. Gareng yang larinya paling belakang main sruduk tubuh Bagong dan Petruk yang akhirnya terjatuh saling tindih. Gareng juga nyungsep, setelah Petruk menyapukan kakinya. Tangan gempal Bagong memiting tubuh Petruk. Suasana kamar Semar jadi tidak karuan. Tak disadari, karena saling memiting, ketiganya menyenggol sebuah lemari kecil yang di atasnya terdapat celengan Semar. Braaak, celengan Semar ambyar. Lebih parah lagi, karena rumah panggung, separo hasil nyemplung kolam ikan.

Sontak Semar ngamuk-ngamuk. Ketiganya tak luput dari jiwitan tangan Semar. ”Oalah le. Itu celengan buat beli jas,” ujarnya.

Petruk, Gareng dan Bagong sepakat menyumbang separo hasil celengannya untuk Semar. Dan ketiganya mengantarkan Semar ke toko terdekat. Ternyata Semar membeli jas untuk menyambangi ketiga capres yang saling sepakat untuk fair play. Tapi alangkah kagetnya Petruk, Gareng, dan Bagong. Ternyata di antara mereka terlihat Dewi Cenil Genitwati. Semar memperkenalkannya sebagai calon istrinya, alias calon ibu baru untuk Petruk, Gareng, dan Bagong. Ternyata, Pilpres ala Semar adalah Pemilihan Perempuan Sampingan. Busyeet. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: