Kidung Malam (26) Bertepuk Sebelah Tangan

pernah dimuat di majalah Jaya Baya
Aswatama membantu Ekalaya dan Anggraeni membuat sanggar
untuk belajar memanah (karya herjaka HS 2007)

Ekalaya membuktikan tekadnya untuk belajar tuntas ilmu memanah dari Pandita Durna. Walaupun setahun lebih keberadaannya di Sokalima ia secara resmi belum diangkat menjadi murid, ia telah memanfaatkan pertemuannya dengan Pandita Durna untuk menyerap berbagai ilmu yang diajarkan di Sokalima. Bahkan mulai menginjak tahun kedua, Ekalaya dengan dibantu Anggraeni dan Aswatama dan beberapa cantrik padepokan telah membuat sanggar di tengah hutan kecil di pinggiran wilayah Sokalima. Di sanggar yang suasana dan penataannya disesuaikan dengan gambaran mimpinya, Ekalaya dengan tekun belajar praktek memanah.

Patung pandita Durna yang diletakkan di altar sanggar mampu memberikan energi yang luar biasa bagi Ekalaya untuk belajar dan terus belajar. Mata patung yang dipahat cekung ke dalam seakan-akan menatap penuh waspada manakala Ekalaya mulai menarik busurnya. Sudut bibir patung yang dipahat sedikit naik ke atas, sepertinya sang Guru tersenyum bangga menyaksikan anak panah si murid satu-persatu melesat cepat, tepat mengenai sasaran. Tangan patung sebelah kiri kelihatan seperti mempersilakan apa pun yang akan dicoba dan dilatih oleh sang murid. Sementara tangan patung sebelah kanan memegang tasbih, dapat diartikan bahwa sang guru senantiasa berdoa bagi muridnya agar dapat berhasil menuntaskan ilmu yang telah dipelajarinya.

Anggraeni tidak berani mengganggu suaminya yang sedang berkonsentrasi tinggi dalam usahanya menyempurnakan ilmu memanah. Namun sebagai seorang isteri ia tidak pernah melepaskan pendampingannya. Siang malam Anggraeni, sang prameswari paranggelung, berada di sanggar, selalu siap sedia sewaktu-waktu suaminya membutuhkan bantuan yang perlu segera dipenuhi. Kelancaran Ekalaya dalam proses penyerapan ilmu-ilmu Sokalima, khususnya ilmu berolah senjata panah serta segala fasilitasnya, tidak lepas dari peran Aswatama.

Sesungguhnya di balik kebaikan Aswatama terhadap keduanya, terkandung maksud yang hingga saat ini masih tersimpan rapat di hatinya. Sejak awal pertemuannya dengan Anggraeni khususnya, Aswatama telah jatuh hati. Ia ingin selalu bertemu dan berdampingan dengannya, bahkan lebih dari itu. Oleh karenanya Aswatama memakai berbagai cara dan straregi untuk dapat selalu bersama dengan Anggraeni.

Aswatama tidak menyadari bahwa kesempatan yang selalu memungkinkan untuk dapat bersama-sama dengan Anggraeni dan Ekalaya tidak lepas dari peran Pandita Durna. Keberadaan Ekalaya yang bertahan hingga tahun kedua di Sokalima, memang disengaja oleh Durna. Sebenarnya status Ekalaya di Sokalima masih menggantung. Dikatakan sebagai murid Sokalima, Durna belum mengangkatnya secara resmi. Namun jika tidak dianggap murid Sokalima, nyatanya ia telah menyerap sebagian besar ilmu-ilmu Sokalima. Hal tersebut memang tidak penting bagi Pandhita Durna, karena yang diutamakan adalah supaya Aswatama bergaul semakin akrab dengan Anggraeni. Karena ia tahu bahwa anaknya telah jatuh hati dengan prameswari Paranggelung tersebut.

Namun setelah menginjak tahun kedua, benih cinta Aswatama semakin mengakar kuat, dan rupanya hal tersebut justru menjadi semakin sulit dilepaskan. Ada penyesalan yang kemudian datang terlambat, mengapa Durna tidak menolak Ekalaya dan Anggraeni lebih awal.

Oh ngger anakku, mengapa kamu jatuh cinta kepada seseorang yang sudah bersuami?

Sebenarnya bukan hanya Aswatama, siapapun orangnya akan jatuh hati melihat keelokan paras Anggraeni. Terlebih lagi jika sudah bertatap muka, saling menyapa, bergaul akrab dengannya, dapat dipastikan akan menumpuk rasa kagum yang menggunung dan rasa terpana yang tak berkesudahan. Oleh karenanya Aswatama tidak bersalah jika di hatinya telah tumbuh pohon cinta yang semakin lebat, karena tanpa disadari, Anggraeni telah menyiraminya setiap hari.

Sesungguhnya Anggraeni tahu bahwasanya Aswatama jatuh hati kepada dirinya. Namun bagi Anggraeni itu adalah urusan Aswatama. Sedangkan urusan Anggraeni adalah menjaga kemurnian perkawinannya dengan Ekalaya, tanpa harus menyakiti orang lain. Itulah yang selama ini dilakukan oleh Anggraeni ketika harus bergaul dengan orang lain, tak terkecuali Aswatama. Maka jika rasa hormatnya karena Aswatama adalah anak dari guru suaminya, dan rasa terimakasihnya karena Aswatama telah banyak membantu usahanya diartikan lain, sekali lagi itu adalah urusan Aswatama.

Aswatama pun tahu bahwa wanita seperti Anggraeni tidak mungkin akan menodai perkawinannya dengan Ekalaya, ia lebih baik mati daripada mengingkari kesetiaannya. Keramahan, kebaikan, sendau-gurau dan rasa hormat yang diberikan Anggraeni sangat terukur, tidak pernah melebihi batas-batas yang telah dibuatnya. Kejelasan dan ketegasan Anggraeni yang menandai hubungannya dengan Aswatama seharusnya sudah cukup bagi Aswatama untuk menarik diri dan perlahan-lahan membiarkan pohon cinta di hatinya kering dan kemudian mati. Namun yang terjadi justru sebaliknya, sikap Anggraeni yang tegas, suci dan mulia itu justru membuat Aswatama semakin jatuh cinta. Memang berat rasanya bertepuk sebelah tangan. Namun tetap mengasyikkan untuk diteruskan.

Herjaka HS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: