Kidung Malam (34) Cincin Mustika Ampal


Sang Guru Durna melangkahkan kaikinya menuju bilik Ekalaya
(karya : Herjaka HS 2008)

Sepekan telah berlalu sejak perang tanding yang belum menampakkan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Keadaan Ekalaya dan Harjuna semakin membaik. Itu artinya bahwa tidak lama lagi perang tanding untuk yang ketiga kali akan dilanjutkan, sampai ada satu di antaranya yang kalah.

Seiring dengan pulihnya kekuatan mereka, bara di hati keduanya mulai membara kembali. Malam bergeser sangat lambat. Durna berjalan modar-mandir di antara bilik Harjuna dan bilik Ekalaya yang letaknya kurang lebih berjarak 300 meter. Masih terngiang di telinga sang guru Sokalima sabda Sang Hyang Guru

“Durna selesaikan pertikaian di antara muridmu dengan adil.”

Memang seharusnya Durna dapat menghentikan pertikaian mereka. Karena jika pertikaian terjadi lagi, kahyangan akan gonjang-ganjing. Para Dewa-Dewi akan pada lari kepanasan.

Tidaklah salah jika diperlukan tindakan tegas dan sedikit memaksa bagi seorang guru dalam menghadapi muridnya yang tidak mengindahkan perintah sang Guru. Bahkan bagi murid yang melanggar aturan perguruan pantas diberi sanksi atau pun hukuman yang setimpal. Tetapi siapa yang pantas mendapat teguran dan sanksi selaras dengan pelanggarannya? Apakah Ekalaya? Tidak! Bukankah Ekalaya belum secara resmi menjadi muridnya? Tetapi jika bukan kepada Ekalaya, mungkinkah Harjuna yang dihukum? Wah sungguh amat berat. Kayaknya tidak mungkin. Karena Harjuna adalah orang yang pertama kali melakukan sembah dan mohon menjadi muridnya sebelum disusul oleh saudara-saudaranya Pendawa dan warga Kurawa. Dan oleh karena daya tariknya kepada Harjuna dan juga Bimasena Durna berkenan mengajarkan ilmu-ilmunya, maka kemudian berdirilah Padepokan yang semakin hari semakin besar, Sokalima namanya. Belasan tahun berlalu, Sokalima masih megah bertahan. Ratusan murid telah dihasilkan. Mereka menyebar di seluruh penjuru negeri. Dengan kenyataan yang ada, tidaklah mudah untuk menjatuhkan sanksi atau pun menghukum kepada Harjuna, murid berprestasi, murid kesayangan, murid yang amat patuh dan sekaligus murid cikal-bakal padepokan Sokalima.

Maka ketika sang guru Durna bersikeras bahwa pertikaian harus dihentikan, dan bagi yang tidak tunduk dengan perintahnya akan diberi sanksi, maka secara tidak sadar Durna melangkah kakinya ke bilik Ekalaya.

“Ekalaya, tahukah engkau apa yang sedang menggelisahkan pikiranku?”

“Ampun Bapa Resi, maafkan saya, sesungguhnya yang membuat Bapa Resi gelisah karena pertikaianku dengan Harjuna.”

“Bagus Ekalaya! Engkau anak yang cerdas. Jika demikian tentunya hanya satu jalan untuk dapat menghilangkan rasa gelisahku yang berlebihan, yaitu pertikaian dihentikan. Sanggupkah engkau Ekalaya?”

“Sejak awal aku memang berniat untuk berdamai dengan Harjuna dengan meminta maaf atas kelancangannku membunuh anjing kesayangan. Namun Harjuna menginginkan penyeselsaian perkara tersebut dengan cara kesatria. Jika sekarang aku menyerah dan mengaku kalah artinya saya mengulangi tawaran awal yang tidak dimaui Harjuna.”

“Ekalaya, sebagai seorang guru, tentunya aku tidak pernah menginginkan kehilangan salah satu murid-murid terbaik Soka Lima. Aku tahu apa yang diinginkan Harjuna dan apa yang kau inginkan. Harjuna menginginkan kemenangan dan itu mutlak. Jika tidak, lebih memilih mati. Sedangkan engkau masih bisa ditawar antara menang dan mengalah. Oleh karenanya supaya pertikaian segera berakhir dan keduanya selamat, pada pertempuran yang ketiga nanti engkau berpura-puralah kalah di hadapan banyak orang yang menyaksikan. Ekalaya, aku percaya kepadamu bahwa kamu akan dapat menyelesaikannya dengan baik dan selamat.”

“Maafkan aku Bapa Resi, hal itu tidak mungkin dapat aku lakukan. Aku tidak dapat berpura-pura untuk kalah. Karena ketika tangganku telah menarik busur dan memegang anak panah, ada daya luar biasa yang terhimpun dengan sendirinya di seluruh budi, pikiran dan sekujur tubuhku serta otot bebayuku, guna menghadang serangan musuh.”

“Oo lole, lole blegudhug monyor-monyor prit gantil buntute bedhug. Lalu ilmu apa yang engkau gunakan?“

“Maafkan aku Bapa Resi Durna, pada tataran luar aku menggunakan ilmu Sapta Tunggal, ilmu andalan Soka Lima, tetapi tenaga dalamnya berasal dari pusaka Mustika Ampal.”

“Mustika Ampal?”

”Bapa Resi, Mustika Ampal adalah pusaka pemberian Sang Hyang Wenang, wujudnya adalah cincin. Menurut Ramanda Prabu Hiranyandanu, cincin Mustika Ampal dianugerahkan ketika Ramanda sedang melakukan tapa guna memohon agar anak yang ada dalam kandungan sang prameswari kelak dapat memimpin Negara Nisada dengan adil dan bijaksana. Ramanda juga mengisahkan bahwa cincin Mustika Ampal mempunyai daya sangat luar biasa dan ketepatan yang akurat pada saat digunakan untuk menarik busur dan melepaskan anak panah. Sehingga sudah menjadi kehendakNyalah Mustika Ampal dianugerahkan kepada calon raja di Negara Nisada, di mana seluruh rakyatnya terampil menggunakan panah.

Bapa Resi, dikarenakan Cincin Mustika Ampal dikenakan di ibu jariku sejak bayi, hingga sekarang setelah aku menjadi raja di Negara Nisada atau Paranggelung menggantikan Ramanda Prabu yang telah wafat, cincin tersebut telah berada di bawah kulit dan di luar daging, menyatu dengan ibu jari tanganku. Oleh karena Cincin Mustika Ampal itulah aku tidak mungkin untuk berpura-pura kalah. Kecuali jika serangan musuh lebih dahsyat daripada kekuatan Cincin Mustika Ampal.”

Pantas, pusaka Gandewa dapat dihadang dengan kekuatan Mustika Ampal. Bahkan pusaka pemberian Dewa Indra yang baru saja diwariskan kepada Harjuna tersebut hancur lebur musnah tak berbekas.

Tiba-tiba hati Pandita Durna terusik. Ilmu-ilmu yang digunakan Ekalaya tidak murni ilmu Sokalima, tetapi telah dipadukan dengan sipat kandel pribadi yang didapat sejak masih bayi. Walaupun Harjuna juga menimba ilmu di banyak tempat, ilmu-ilmu yang digunakan dalam perang tanding adalah ilmu-ilmu yang diajarkan di Sokalima.

Membandingkan di antara keduanya sang Guru besar tersebut tak kuasa lagi berdiri di tengah secara adil. Ia mulai berpihak kepada Harjuna, murid mula pertama yang patuh berbakti dan telah mengangkat nama Sokalima melambung tinggi berkat ilmu-ilmu yang selalu digunakannya. Tak terkecuali ketika berperang tanding melawan Ekalaya.

“Ekalaya, jika niatmu tidak berubah, mau mengalah dengan cara berpura-pura kalah dalam perang tanding, ada cara yang dapat ditempuh, yaitu jika Cincin Mustika Ampal tersebut dilepas untuk sementara.”

“Ampun Bapa Resi Durna, bagaimana bisa dilepas, Mustika Ampal telah jadi satu dengan ibu jari tangan kananku.”

“Ekalaya, apakah engkau tidak percaya bahwa aku dapat melakukannya?”

“Ampun Bapa Resi, maafkan aku yang bodoh ini, maafkan aku.”

Dengan tergopoh-gopoh Ekalaya menyembah Sang Resi Durna, beringsut mendekat, sembari mengulurkan ibu jari tangan kanannya, tempat Cincin Mustika Ampal berada.

herjaka HS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: