Kidung Malam (53) Di Saptapertala

Purnamasidi, lukisan karya Herjaka HS

Kunthi, Puntadewa, Bimasena, Herjuna, Sadewa dan Nakula diantar Nagatatmala menghadap Sang Hyang Antaboga yang bertahta di kahyangan Saptapertala. Sang Hyang Antaboga mengucapkan selamat datang. di Kahyangan dasar Bumi lapis tujuh. Kunthi dan para Pandhawa secara bergantian mengucapkan terimakasih atas kebaikan Sang Hyang Antaboga, Nagatatmala dan Nagagini serta kerabat Saptapertala yang telah menolong dan memberi tempat yang mewah dan nyaman. Sehingga mereka dapat merasa tenang dan aman, jauh dari bencana yang hampir saja merenggut jiwa mereka. Rasa trauma yang mencekam masih dirasakan terutama oleh Nakula dan Sadewa, yang hingga sekarang masih sering menangis ketakutan.

Nagatatmala dan Nagagini ditugaskan oleh Hyang Antaboga untuk membuat Kunthi dan anak-anaknya betah tinggal di Saptapertala. Tempat yang disediakan dan makanan yang sajikan diusahakan membuat mereka nyaman dan senang. Sehingga dengan demikian usaha untuk memulihan mentalnya dari trauma yang diderita, terutama Sadewa dan Nakula cepat berhasil. Tetapi yang lebih penting adalah, bahwa jangan sampai peristiwa Bale Sigala-gala nantinya amenimbulkan dendam di hati Kunthi dan para Pandhawa.

Sang Hyang Antaboga mengetahui akan keadaan yang diderita Kunthi dan Para Pandhawa baik secara lahir maupun batin. Oleh karenanya Kunthi beserta anak-anaknya disarankan untuk sementara waktu tinggal di Kahyangan Saptapertala. Dengan tinggal beberapa lama di Kahyangan Saptpertala, Hyang Antagoba berharap agar Kunthi dan anak-anaknya mampu melupakan peristiwa mecekam di Bale Sigala-gala.

Ketika kebakaran Bale-Sigala-gala, bumi terasa panas. Sebagai Dewa penguasa bumi, Hyang Antaboga mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. dan menimpa mereka. Nagatatmala diutus untuk menyelamatkan para korban kebakaran. Maka berangkatlah Nagatatmala menyusuri bumi mengarah ke tempat kebakaran. Bersamaan dengan itu, di Kahyangan Jonggring Saloka Batara Guru dan para Batara dan Batari merasakan hawa panas yang menyesakkan. Maka diutuslah Hyang Narada turun ke marcapada, menuju ke sumber hawa panas. Pada waktu yang hampir bersamaan Batara Narada dan Nagatatmala bertemu di pintu terowongan, tempat Kanana, Kunthi dan para Pandhawa berusaha menyelamatkan diri. Di dalam suasana panik, gelap, sesak dan sempit, Batara Narada dan Nagatatmala dengan caranya masing-masing berusaha menolong dan menyelamatakan Kunthi dan Pandhawa. Nagatatmala berubah sebgai garangan Putih bercahaya dan Batara Narada menuntun membukakan jalan menuju Kahyangan Saptapertala, tempat yang paling aman di Bumi lapis ke tujuh. Secara gaib tahu-tahu mereka telah berada di depan pintu gerbang kerajaan yang indah megah.

Hingga sekarang Kunthi dan anak-anaknya juga Kanana belum tahu secara pasti siapa yang telah menyelamatkan mereka dan mengantarnya sampai ke kahyangan Sapta pertala, kecuali Kanana yang mengawalinya membuka terowongan buatannya atas perintah Yamawidura.

Hyang Antaboga merasa Kasihan kepada Kunthi dan anakaanaknya. Semenjak meninggalnya Pandudewanata derita mereka silih berganti. Hal tersebut dikarenakan Sengkuni, Gendari dan Para Korawa selalu berusaha menyingkirkan para Pandhawa. “Kunthi tanamkanlah di hati anak-anakmu sikap welasasih. Welas asih kepada siapa saja termasuk juga kepada orang yang memusuhi kamu. Karena hanya dengan sikap welasasihlah orang mudah mengampuni dan tidak akan pernah tumbuh benih-benih dendam dihati.”

“Terimakasih Pukulun atas nasihatnya yang berharga. Aku akan melaksanakannya. Tetapi maaf Sang Hyang Antaboga, sebenarnya apa yang sesungguhnya terjadi dibalik peristiwa Bale Sigala-gala?”

“Kunthi, sebenarnya engkau sudah tahu, atau paling tidak engkau telah merasakan kejanggalan-kejanggalan sebelum pesta berlangsung.”

“Hyang Pukulun, aku orang yang bodoh dan tumpul, sehingga tidak merasakan kejanggalan-kejanggalan sebelumnya.”

Sang Hyang Antaboga tidak mau berterus terang. Ia justru mengajak Kunthi dan para Pandhawa bersyukur, karena telah terhindar dari marabahaya.

“Namun maafkanlah Pukulun, kalau boleh tahu siapakah yang menyelamatkan kami dan menuntunnya sampai ke tempat ini?”

Hyang Antaboga tidak menjawab pertanyaan Kunthi, tetapi sekali lagi ia mengajak Kunthi dan anak-anaknya merayakan syukur atas keselamatan yang masih boleh diterima.

Sudah beberapa bulan Kunthi dan para Pandhawa serta juga Kanana tinggal di Saptapertala. Hubungan antara Bimasena dan Naga Gini semakin intim, seakan-akan mereka tidak mau berpisah. Dari hari ke hari cinta mereka semakin bersemi. Betapa indah dan ajaibnya hidup yang penuh cinta. Terlebih lagi cinta yang semakin menjadi sempurna. Seperti rembulan saat Purnamasidi, yang mampu membuat malam menjadi romantis indah mempesona. Bagaikan kidung malam yang syahdu menyusup kalbu, hingga membuat setiap insan merasa betapa berharganya hidup ini

Herjaka HS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: