Kidung Malam (56) Perpisahan

Kunthi dan Pandhawa meninggalkan Saptapertala,
Sadewa dan Nakula digendong Bimasena (karya Herjaka HS, 2009)

Kebahagian Bimasena juga menjadi kebahagiaan Puntadewa dan adik-adiknya. Tidak seperti yang dikhawatirkan Kunthi, bahwa Puntadewa sebagai saudara sulung akan merasa di langkahi oleh adiknya. Bimasena dan Dewi Nagagini menikmati masa bulan madu yang sungguh membahagiakan. Namun ada saat berjumpa dan ada saat berpisah. Waktu untuk menikmati sebuah kebahagiaan di dunia mana pun tidaklah abadi, bahkan dapat dikatakan terbatas. Demikian halnya dengan pasangan temanten baru Bimasena dan Nagagini

Mereka boleh puas menikmati waktu bercengkerama yang tidak genap satu tahun. Walaupun begitu, cinta diantara mereka telah membuahkan benih di rahim Dewi Nagagini. Berat rasanya untuk meninggalkan isterinya yang sedang hamil. Namun apaboleh buat tugas sebagai kesatria dan pelindung Ibu dan saudara-saudara berada di atas kepentingan pribadinya. Bahkan sebagai salah satu pewaris tahta Hastinapura, Bimasena bersama Pandhawa berkewajiban berjuang untuk mengembalikan kekuasaan yang sekarang dikuasai oleh warga Korawa. Bagi warga Pandhawa sesungguhnya bukan kekuasaan itu yang ingin dikuasai, melainkan sebagai bukti rasa baktinya kepada rakyat Hastinapura yang mempercayakan tahta Hastinapura kepada putra-putra Pandudewanata. Suara rakyat itulah yang menjadi energi perjuangan untuk meraih kekuasaan.

Dengan alasan itulah Sang Hyang Antaboga menyarankan agar Kunthi dan anak-anaknya, termasuk menantunya segera meninggalkan Kahyangan Saptapratala menuju Hastinapura, untuk menunaikan panggilannya sebagai pewaris tahta.

Pagi-pagi benar, Kunthi, Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa dan juga Kanana seorang abdi dari Panggomabakan ahli membuat terowongan meninggalkan Kahyangan Saptapertala. Perpisahan yang mengharukan antara Dewi Nagagini dan Bimasena tidak dapat dihindarkan. Namun diantara mereka ada janji untuk saling bertemu kembali agar cinta mereka berdua semakin sempurnya adanya.

Mereka diantar oleh Sang Hyang Antaboga dengan pethitnya atau ekornya. Dan tiba-tiba saja mereka telah berada dipermukaan bumi, yang dipanasi dan diterangi oleh matahari. Semakin lama bumi Saptapertala semakin jauh ditinggalkan. Kunthi dan Para Pandhawa menuju jalan ke Hastinapura sedangkan Kanana menuju ke Panggombakan.

Dikisahkan perjalanan Kunthi dan Pandhawa sampailah di sebuah desa yang sangat subur tanahnya. Tetapi ada keganjilan yang dirasakan. Banyaknya rumah kosong tanpa berpenghuni menimbulkan dugaan ada hal yang tidak beres di desa tersebut. Kunthi dan anak-anaknya beristirhat di salah satu rumah besar yang tidak terurus. Rumput liar di halaman depan dan samping rumah mulai tumbuh lebat. Herjuna mengelilingi rumah tersebut, siapa tahu ada orang yang bisa ditanya perihal desa tersebut. Namun tidak ada satu pun orang yang nampak disekitar rumah. Sadewa dan Nakula merengek minta makan. Kunthi kebingungan. Disuruhnya Bimasena dan Harjuna mencari makan di dusun sebelah yang berpenghuni.

Sepeninggal Bima dan Harjuna dari tempat itu, Kunthi memasang telinganya. Alisnya berkerut, menandakan ada sesuatu yang didengarnya.

“Puntadewa ke sinilah, rupanya ada orang di dalam rumah ini. Coba dengarlah baik-baik. Tidak salahkah pendengaranku bahwa ada beberapa orang sedang berbicara?

Puntadewa mengangguk, menggiyakan pendengaran sang ibu Kunthi, bahwasanya di rumah yang tidak terurus ini masih ada penghuninya.

Siapakah mereka dan apa yang mereka bicarakan? Kunthi dan Puntadewa memasang telinga di dinding bambu yang membujur ke belakang rumah.

Bima, sudah jauh meninggalkan tempat di mana Kunthi, Puntadewa dan kembar berada, tetapi belum juga menjumpai seseorang yang dapat dimintai makan untuk kembar adiknya

Sementara itu sudah beratus langkah Harjuna berjalan belum ada orang yang dijumpai. Harjuna semakin heran. Jika ada perang yang menyebabkan orang di desa ini mengungsi ke luar desa, nyatanya tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat perang. Lalu apa yang menyebabkan desa ini seperti mati? Belum lagi Harjuna memikirkan hal lain, tiba-tiba ia melihat seorang wanita muda yang sedang mencari air di sendang.

Herjaka HS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: