Kidung Malam (57) Sagotra dan Rara Winihan

Mengetahui bahwa langkahnya diikuti seorang lelaki yang belum dikenal, Rara
Winihan mempercepat langkahnya (karya Herjaka HS 2009)

Harjuna sedikit lega, karena pada akhirnya ia mendapatkan seseorang di dusun yang sebelumnya dianggap tak berpenghuni. Dengan perasaan tidak sabar, Harjuna menunggu wanita yang sedang mengambil air, dan kemudian mengikutinya dari belakang. Mengetahui bahwa langkahnya diikuti seorang pria yang belum dikenal, wanita yang membawa kelenting dipinggangnya tersebut mempercepat langkahnya. Bagi Harjuna hal tersebut justru kebetulan, semakin cepat sampai di rumah akan semakin baik, karena dengan demikian, mudah-mudahan ada makanan di rumahnya dan sebagian boleh diminta untuk menolong adik kembarnya yang kelaparan.

Setengah berlari wanita yang berwajah manis tersebut menuju pada sebuah rumah yang cukup besar, halamannya luas dan tertata rapi. Sesampainya di depan rumah, dengan tergesa, wanita tersebut membuka pintu yang tidak dikunci, setelah meletakkan kelenthing penuh air di atas amben kayu, wanita tersebut segera memeluk lelaki usia tiga puluhan yang berdiri dibalik pintu.

Rumah besar tersebut adalah Rumah Ki Sagotra, Lurah Desa Sendangkandayakan atau lebih sering disebut desa Kabayakan. Ki Lurah Sagotra masih terhitung pengantin baru, karena belum ada satu tahun ia menikah dengan wanita muda berparas manis yang bernama Endang Sumekti atau Rara Winihan. Namun semenjak menjadi isteri Sagotra, Rara Winihan belum mau memadu asmara. Sagotra pantas prihatin dan bersedih atas sikap isterinya. Namun karena cintanya yang begitu besar kepada Rara Winihan, Sagotra selalu bersabar dalam kesetiaan.

Maka sungguh mengejutkan dan mengherankan ketika tiba-tiba saja, pulang dari mencari air, isterinya mendekap erat-erat dan menyembunyikan wajahnya yang manis kedalam dada Ki Sagotra. Tidak dapat dibayangkan betapa bahagianya perasaan Ki Sagotra pada saat itu. Karena selama ini, jangankan saling berpelukan, didekati saja isterinya selalu menghindar.

“Kakang tolonglah!, aku takut, aku dikejar-kejar seorang lelaki.”

Wanita muda berparas manis tersebut menempelkan wajahnya di dada laki-laki yang adalah suaminya. Jantungnya berdetak cepat karena ketakutan. Mendapat pengaduan dari isterinya, Ki Sagotra seakan-akan menampakkan kemarahan terhadap lelaki yang sudah berani mengganggu isterinya. Namun sesunguhnya dilubuk hatinya yang paling dalam Ki Sagotra justru berterimakasih kepada lelaki yang telah mengganggunta. Pasalnya gara-gara lelaki tersebut, isterinya mau memeluk dirinya untuk meminta perlindungan.

Dhuh Gusti, beginilah rasanya dipeluk isterinya, dijadikan tempat untuk mengadu dan dijadikan tumpuan perlindungan oleh isterinya. Isterinya yang selama ini tidak menghirauakan dirinya. Ki Sagotra memang ingin menemui lelaki yang telah berani membuntuti isterinya, tetapi tidak untuk memarahinya, melainkan justru ingin mengucapkan terimakasih. Karena secara tidak langsung lelaki tersebut telah membantu menyadarkan isterinya untuk menempatkan suaminya sebagai mana seharusnya.

Ki Sagotra mengelus rambut Rara Winihan dengan penuh cinta, sambil menenangkan hatinya, untuk kemudian keluar menuju ke halaman rumah. Baru beberapa langkah meninggalkan pintu rumahnya, Ki Sagotra terkejut, lelaki yang mengganggu isterinya telah berdiri di halaman. Wajahnya amat tampan, walaupun memakai pakaian sederhana, kulitnya bersih dan bersinar. Seperti ada yang memerintahkan Ki Sagotra untuk menunduk hormat kepada lelaki tersebut. Dengan sikap bak seorang abdi kepada tuannya. Ki Sagotra bertanya mengenai nama, asal muasal dan keperluannya lelaki asing tersebut datang di Desa Kabayakan.

“Namaku Harjuna, anak Prabu Pandudewanata yang nomor tiga, aku datang tidak untuk mengganggu rumah tangga kalian, tetapi aku ingin memohon belaskasihan untuk mendapatkan dua bungkus nasi bagi adik kembarku yang kelaparan .

“Adhuh Raden, maafkan aku Lurah Sagotra dan isteriku Rara Winihan ini atas segala tindakan yang tidak pantas kami lakukan terhadap salah satu pewaris tahta Hastinapura.”

Ki Lurah Sagotra yang kemudian diikuti oleh Rara Winihan berjongkok dan menyembah Harjuna.

“Ki lurah Sagotra dan Rara Winihan jangan berlebihan memperlakukan aku, aku tidak membutuhkan perlakuan seperti itu, dua bungkus nasi bagiku sangat berarti untuk menolong saudara kembarku yang menangis kelaparan. Apakah kalian tidak keberatan memberikan dua bungkus nasi sekarang juga?”

“Jangankan hanya dua bungkus nasi, segerobakpun akan kami haturkan sebagai tanda bulu bekti kawula kepada raja.”

“Ki Sagotra, untuk sementara ini aku hanya membutuhkan dua bungkus nasi”

Ki Sagotra dan Rara Winihan segera menghaturkan dua bungkus nasi kepada Harjuna. Sebelum meninggalkan Ki Lurah Sagotra dan Rara Winihan, Harjuna berpesan bahwa sikap bakti antara kawula kepada rajanya tidak mengutamakan hasil bumi yang berupa makanan, melainkan hatilah yang diutamakan. Demikian pula seorang raja hendaknya juga berbakti kepada kawula denga hatinya. Artinya dengan seluruh akal budinya untuk menyejahterakan rakyatnya. Jika hati yang diutamakan niscaya, kesejahteraan yang berupa makanan dan hasil bmi bakal melimpah ruah.

“Jika demikian Raden, pada saatnya aku akan mengorbankan seluruh jiwa ragaku termasuk hatiku demi kejayaan junjungan kami, pewaris tahta Hastinapura yang sah.

“Terimakasih Sagotra, aku mohon pamit.”

Herjaka HS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: