KPK Tebang Pilih


AURA wangi sabun masih memancar dari tubuh basah Karna yang baru keluar kamar mandi. Dengan gelayut manja, Surtikanti, istrinya, menyambut. Nyonya Karna itu mengucapkan selamat atas keberhasilan KPK (Karna Pemberantas Korupsi) menguak kasus terbaru. Aksi KPK (Karna Penuh Kehangatan) itu terhenti pada sebuah nada SMS. Satu, dua, tiga SMS terus menggelontor HP Karna. SMS terakhir membuat KPK lagi (Karna Kebingungan Membaca)

Kalau berani, tangkap P5 (Pandawa Lima), dong. Mrk koruptor jg looch. Bravo KPK!! Karna membalas, ‘pa ‘da bukti? Si pengirim kembali meng-SMS, da..buktiin aja bro.

Kali ini KPK lagi, Karna Palanye Kepuyengen. Menangkan P5 bukan perkara mudah. Di samping adik karna, mereka juga sakti-sakti. Seperempat jam menunggu, SMS dari Dewa Matahari, ayah asli Karna, masuk memberi pertimbangan. Tuk kalahkan Pandawa, hanya dengan nyucup susu ibumu yang tak kau rasakan sejak baby.

Yuhuui, Karna langsung nyemplak lambretino butut kesayangannya. So, pasti kediaman Kunthi tujuannya. Tok, tok, tok, ”Mom, open the door…your son yang ngganteng go home,” teriak Karna. Kunthi bergegas membukakan pintu. Karna langsung merangsek memeluk Kunthi. Sepasang ayam, bawang, brambang merah, pizza, spaghetti, brownies oleh-oleh Karna dibawa ke dapur. Sepeminuman lemon tea dingin, Karna clingak-clinguk mengamati keadaan sekitar. Dahi Kunthi berkernyit, melihat kelakuan Karna. Dengan mengulurkan botol dot bayi, Karna utarakan niatnya meminta ASI (Air Susu kunthI).

”Sarap, strip, gak tau malu, anak kurang ajar, apa di rumah kurang hah? Pergi, get ouuuut,” Kunthi murka. Prang, senampan pizza dilempar Kunthi pas di wajah. Belum sempat mengelak, semangkuk spagetti mengenai kepala Karna. ”Mom…mom sabar mom,” rayu Karna. Amarah Kunthi sudah tak tertahankan. Lari, jalan itu satu-satunya Karna.

***

Keesokan harinya, di teras rumah. Karna nge-teh. Dia masih pringisan mengulas bilur biru di tubuhnya dan bengkak di dahinya. ”Met pagi boss,” sapa Togog pulang dari Pasar. Togog menceritakan, barusan seisi pasar terkagum-kagum pada Kunthi yang makin hari makin cuantiek saja.

Njenggirat, Karna langsung ucul-ucul sarung. Masuk gudang, dicarinya busana rusak bekas Surtikanti. Dikenakannya dan berdandan ala banci, Karna bablas ke pasar. Karna buka stan pengemis tepat di depan jalan yang akan dilalui Kunthi. ”Mom…paring-paring susu Mom, seminggu anak saya gak minum susu…punyaku sudah out of date Mom,” ujar Karna. Kunthi menyodorkan selebar ratusan ribu. Tangan Kunthi langsung dipegang Karna dan Plass Kunthi dipondong dibawa lari. Teriak ketakutan Kunthi rupanya didengar seseorang supir angkot yang kebetulan nunggu penumpang. Dia tepat mengayunkan Gada Rujak Polo, pas Karna lewat gerbang pasar.

Tubuh Kunthi terpelanting, Karna yang terjerebab langsung dihujani Gada Bima. Bima memukulkan sekuat tenaga. Tubuh Karna melayang tinggi, jatuh puluhan meter di semak dan mblirit.

”Ngger putraku, beberapa hari ini terlihat murung, ada apakah?” selidik Salya. Sapaan itu mengagetkan Karna dari lamunan di bawah pohon dadap di belakang rumah. Karna menceritakan semua tugas yang di pundaknya. ”Keucil itu ngger, papih bantu,” jawab Salya.

Aji Canda Birawa, tangan Salya dirapatkan di depan dada, entah dari mana datangnya muncul bayi raksasa yang berubah menjadi bayi-bayi putih, mulus, dan cute-cute. Dengan berdandan himpis dekil, Karna membawa jabang baby ke rumah Kunthi. Dengan akting dibuat-buat, Karna meratap di pangkuan Kunthi. Dengan tetes air mata keikhlasan, Kunthi merelakan susunya diisep sijabang baby. Tapi anehnya, setiap sedotan, si baby bertambah. Dari dua ke empat, ke delapan, ke enam belas, sampe sak hohaa.

Tawa panjang kemenangan Karna membahana. Tinggallah ratapan Kunthi seorang diri. Sampe di rumah tubuh jabang baby diongkek-ongkek biar muntahkan susunya. Beberapa telaknya disogok-sogok Karna. Malah ada yang diperes bak meres pakaian. Seember besar susu, sekali sedot amblas masuk perut Karna yang seketika itu juga dilingkupi aura putih pekat.

Semua panca inderanya terbuka mengalahkan alat sadap merek apapun. Karna pun mudah terdeteksi di mana pun posisi P5 berada. Dalam hitungan hari kerja KPK, P5 diberangus. Di Pengadilan Negeri Ngastina, kasus digelar. Ribuan penduduk antusias mengikuti. Persidangan pertama, Puntadewa dituntut dana non-budgeter pembangunan masjid. Saksi yang dihadirkan malah tidak membuktikan adanya penyelewengan, pembangunan masjid swadaya.

Bima yang tersangkut kasus makan besar beras rakyat juga omdo (omong doang). Lha, Bima yang makannya banyak mendapatkan berasnya dari petak-petak sawahnya sendiri. Arjuna yang disadap lagi negosiasi triliunan adalah makelar saham. Nakula dan Sadewa yang terjerat kasus buku pelajaran fikif juga lolos. Sebab, berdasar hasil penyelidakan ternyata mereka pemulung buku bekas.

Karna deleg-deleg di warung kopi tepat di depan kantor pengadilan, mikirkan apa yang barusan dialaminya. ”Heh…mertuamu, Salya, koruptor. Kalau berani tangkap,” ujar Kresna menyadarkan Karna dari lamunan. Sayup-sayup, telinga Karna mendengar dendang pengamen yang mendendangkan lagu, jangan tebang pilih, besan, mertua, anak, putu bisa korupsi, siapa takuuuut.

Sekarang Karna Penuh Keprihatinan (KPK lagi) belum berani nangkap mertuanya. (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: