La Voyage Si Anjing

HARI belum begitu gelap. Seekor anjing Kikik warna putih bersih berjalan menyusuri Ngalengka City. Pikiran Si Kikik frustrasi pada apa yang barusan dia lihat. Dia risau, status sosial anjing kini hanya sebagai penjaga dan dikonsumsi wayang-wayang rakus.

Setelah melewati pasar, langkah empat kakinya terhenti di depan rumah Joni Tutul, suami ke-123 Sarpakenaka. Hilir mudik, Si Kikik mencari celah untuk masuk. Dia ingin melepaskan Si Pudel, yang sedang disiapkan untuk santapan Rahwana.”Guk, guk, kaing (baca: Kanda datang, diajeng Pudel),” Si Kikik melolong panjang di bawah temaram lampu lima watt. Dengan jurus anjing mencakar, dia Terobos celah pagar. Kuat-kuat, dikoyaknya slot kayu pengunci. Sejenak, Si Kikik berpelukan dengan Si Pudel lalu melesat pergi.

Namun, gangguan tiba-tiba datang. Brakk..! Batu sak genggaman dilempar Joni Tutul. ”Anjing buduk sialan, nyusahin orang saja, suuu!” seru Joni Tutul.Sepasang anjing yang sedang berkasih-kasihan itu terus berlari. Tujuan mereka hanya satu, Hutan Dandaka yang aman. Tiba-tiba, ”Kaing, kaing, guk, guk (baca: kunyuk, ekorku keinjak, Kanda),” teriak Si Pudel. Si Kikik hentikan larinya dan siap menyerang si penginjak. ”Guk, guk, haung, guk,” kata Togog yang ternyata menginjak ekor Si Pudel. Dalam bahasa anjing, Togog bilang, Sorry gak sengaja, ngantuk berat, ada apa nich?

Si Kikik menceritakan kegalauan hatinya. Dia risau pada apa yang menimpa pasangannya, pada penurunan strata sosial anjing. Togog sarankan mereka untuk melanglang buana. Lalu, punakawan itu minta Si Kikik dan Si Pudel kenakan helm, kacamata, dan parasut. Soalnya, Togog sedang ngantuk dan daya angop-nya alias daya yang keluar dari menguapnya bisa lontarkan benda ribuan mil.Benar juga, aaauufff hoahmm, Togog angop.

Si Kikik dan Si Pudel langsung terlempar jauh, dengan parasut, pelan, mereka melayang turun. Namun, belum sempat mereka berbenah, parasut itu terinjak serombongan orang yang berlari-larian di tengah-tengah perempatan New York.Belum sampai menghela napas, lampu berubah hijau, giliran puluhan mobil berseliweran di sekeliling mereka. Dalam keadaan panik, zap, tubuh mereka disambar Super Dog Girl. Detik berikutnya, Si Kikik terpana dengan kegesitan Super Dog Girl. ”Nguk..nguk..gug…hauuung,” celoteh Si Pudel berjalan menjauh. Yang artinya, gitu yah sekarang, udah sana jangan deket-deket lagi. Si Kikik sekarang sering melamun, kalau ada Super Dog Girl, pasti ada Super Dog Man.

Si Pudel pun uring-uringan melihat tingkah Si Kikik sekarang yang suka keluar masuk pet shop untuk mengubah penampilannya menjadi super hero. Suatu kali, setelah tanya sana-sini sesama anjing, diperoleh info kediaman Super Dog Girl. Diam-diam Si Kikik mencari alamat tersebut, diam-diam juga Si Pudel ngikuti dari belakang. Dari celah pintu mata Si Kikik melotot, menangkap sesuatu yang menakjubkan.

Tubuh Super Dog Girl diponteng-ponteng dialiri listrik tegangan tinggi dan mulutnya tak henti mengkremus lembaran baja. ”Krrr..gug haung, tuh kan gua bilang juga apa, Super Dog hanya anjing robot.” Kaget Si Kikik dengar suara Si Pudel. Si Kikik ajak damai lalu mereka siap-siap meletuskan plastik kresek berisi angop-nya Togog. Plazz, keduanya melayang turun di tengah Kurawa Square Garden Stadium. Giliran Si Pudel terpana melihat lincahnya kaki Dur Bull Dog (anjing Dursasana) dalam men-dribble bola.
Bulu-bulu Si Pudel lalu di-rebounding dan dua pita merah disematkan di masing-masing telinga. Setiap Dur Bull Dog bertanding, Si Pudel rela ngantre karcis. ”Gug..gug haap jozz..horeee,” Si Pudel jingkrak-jingkrak melihat Dur Bull Dog melakukan aksi slam dunk.Si Kikik mencibir sambil menjulurkan lidahnya. Tapi sepertinya Si Pudel harus rela bertepuk tangan. Bukannya apa-apa, untuk sekadar mendekati Dur Bull Dog susahnya minta ampun.

Pernah suatu ketika, dengan setengah memaksa dia minta diantarkan ke kediaman Dur Bull Dog. Tapi apa yang didapat, baru di depan gerbang saja mereka sudah terusir raungan herder-herder penjaga. Sampai-sampai demi mewujudkan rasa cinta Si Kikik ngotot menerobos. Tapi akibatnya luka-luka di bagian kaki tergigit salah satu herder. ”Anjing yang sudah jadi bintang terkenal tak bisa dibanggakan,” ujar Kikik.

Dengan putus asa keduanya meletuskan plastik kresek yang terakhir. Aoobb puff, kembali mereka melayang. Dari ketinggian seratus kaki, mata tajam Si Kikik melihat sesosok tubuh yang semampir di dahan di tengah jurang Himalaya. ”Gug..gug hey, bukankah kau Bimasena yang biasa aku liat di wayang?” teriak Si Kikik dari parasitnya. Bimasena hanya lemah menganggukkan kepala.Susah payah, Si Kikik dan Si Pudel mengerahkan tenaga dengan gigitannya menarik tubuh Bimasena ke tepian jurang. Dengan susah payah, Bimasena menceritakan kesusahannya mengikuti perjalanan Puntadewa yang akan muksa. ”Bajijug, sialan, malah anjing kurapannya katut terus,” ujarnya.Mak tratap, Si Kikik dan Si Pudel langsung tancap gas menuju puncak.

Sampai di puncak dilihatnya si anjing keturunan Dewa Dharma duduk tepekur di samping Puntadewa yang bangkit mengetahui ada yang datang. ”Anjingku ini paling setia dan tidak makan apa saja alias tidak rakus,” Puntadewa menjelaskan kenapa muksa membawa anjing.”Krrr..Gug..gug..kaing” ujar si anjing jelmaan Dewa Dharma, maksudnya siapa saja yang rakus itu ya seperti anjing. Kikik dan Pudel bahagia, tahu Puntadewa membanggakan anjing. Namun mereka tak tahu, nun jauh di Pulau Dewata, ratusan anjing yang terkena rabies sedang dimusnahkan. Makhluk anjing terancam punah. (*)

Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: