Lakon Kursi Presiden

DETAK jam tipis terdengar. Kadang, ada dengung mesin pendingin ruangan yang menyembul. Di ruang kerja yang serba luks, Puntadewa terlihat hilir mudik. Sesekali dilihatnya layar monitor komputer yang terus menampilkan upgrade perubahan angka-angka perolehan suara pemilu.

”Mbuh lah! Multipartai! Bener-bener bikin pusing. Mau dikemanakan suara partai gurem? Dua puluh persen aja kagak nyenggol. Perlu strategi khusus,” pikir Puntadewa sebagai ketua Komisi Pemungutan Suara (KPU).

Sembari leyehan di kursi malas, otak Puntadewa mbruwet. Masak, kalau dilihat dari persentase, yang bisa nyalon capres hanya satu. Kagak rame, cing. Dan jika dilihat dari grafik, calon satu-satunya itu bisa menang mutlak lagi. Harus ada wacana yang digulirkan sekadar sebagai pembelajaran.

Sementara pikiran bekerja, Puntadewa tepat memandang barisan buku yang berjajar rapi di rak. Sebuah ensiklopedia bencana alam menarik tangannya. Matanya langsung menangkap bencana-bencana alam lima tahun terakhir. ”Nah, ini dia. Yang mau nyapres kudu baca Aji Gajah Sewu,” celetuk Puntadewa. Itu adalah ajian yang isinya membaca kembali fenomena alam.

Segera dia menyebar SMS. Pingin nyapres gampang. Masukin aja sewu gajah dalam satu kandang, ketik Puntadewa.

Tattittut…tattittitut, ponsel Arjuna berdering. Arjuna yang lagi asyik rapat konsolidasi Poros Alternatif segera njenggirat. ”Kang, inyong to be number one, nich. Tak terima tantanganmu,” telepon Arjuna. Dia segera mengasah Pasopati. Dia lantas menuju padang sabana di tepi utara Kurusetra. Kilatan Arjuna menyapu seluruh daratan di bawahnya. Plazz, Pasopati dilepas dari busurnya diawali suara mirip ribuan tawon mendengung di udara. Tiba-tiba, gumpalan debu membumbung di angkasa bersatu dengan langkah gajah.

Dengan binocular. Arjuna terus mengikuti liukan Pasopati. Sesungging senyum nyelempit di bibirnya. Aura optimistis jelas terpancar dari wajahnya. Gajah ke-999 sudah masuk kerangkeng.

Seolah tak percaya, kembali disebar pandangannya ke seantero hutan. Jalan gajah keseribu berhenti tepat di depan mulut kandang. Pasopati kedua dilepas Arjuna. Tak seperti biasanya, bidikannya meleset. Pasopati ketiga dilepas, sak kilan dari tubuh si gajah, Pasopati rontok. Arjuna kebingungan bukan kepalang. Bisik punya bisik, ternyata gajah itu adalah gajah broken heart. Cintanya ditolak mentah-mentah Arjuna dulu saat remaja. Sekarang giliran Arjuna yang kisinan abiss.

***

Tar tor tir kentir, giliran ponsel Nakula yang bergetar. ”Para simpatisan, langkah kita ke kursi presiden tampaknya terbuka lebar. Satu langkah lagi,” kata Nakula optimistis setelah membaca SMS. Hysteria simpatisan Nawa Win (Nakula Sadewa – Win) semakin menjadi-jadi. Kembar yang satu mengumpulkan kembar yang lain dari seantero jagat wayang.

Mereka mengutamakan ahli per-gajah-an. Dan dalam waktu singkat terkumpul 999 gajah. Kurang satu. Nah, giliran gajah kembar yang keseribu yang menolak masuk kandang. Yah, begitulah, kursi presiden lari dari genggaman Nakula-Sadewa.

Sementara itu, membaca SMS Puntadewa, Bima malah bertambah waswas dan gundah. Bima adalah salah satu orang jujur yang bersahabat dengan alam. Coz, ketiga bininya bukan keturunan manusia. So, Bima mengumpulkan ketiganya dalam suasana hangat di ruang keluarga. ”Diajeng sekalian, Kanda minta restu nanggapi SMS kang Punta. Nich baca,” ujar Bima.

Ketiganya bergantian saling membaca. ”Apa sih yang tidak untuk Kakang,”ujar Arimbi. Urang Ayu dan Nagagini kompak menganggukkan kepala. Mereka saling pandang diakhiri dengan tawa menggoda Bima.

Bima tetap diam sedingin es batu. Dari alas Dandaka, Alas Tuwo, Alas Roban, dan alas-alas lainnya, berempat kompak nggosek bareng. Arimbi memanfaatkan jaringan raksasa untuk dimintai bantuan untuk menggiring setiap gajah. Nagagini mengerahkan semua daya linuwihnya untuk memprovokasi dan memancing para gajah keluar dari sarangnya. Pasukan perintis pembuka jalan dikomando Urang Ayu.

Tak dapat dimungkiri, mereka adalah tim unggulan. Tapi kerja keras mereka hanya menghasilkan 999 gajah. Tidak lebih atau kurang. ”Blaik.., kiye tah gagal, nggolet neng endi maning,” celetuk Arimbi pasrah.

Bima mencoba mendekati dan kembali menghitung ulang. Astaganaga, di dalam kadang sudah berbaur dengan mereka. ”Piye Bim, gak sah stress, aku di belakangmu. Tapi aja klalen bagi-bagi,” ujar Gajah Sena, salah satu saudara manunggal Bima. Dan Bima tersenyum lebar. Simpatisan partai, detik itu juga, melakukan selebrasi keliling kota. Mereka meraung-raungkan motor tanpa knalpot sehingga memekakkan telinga.

Namun, ”Punta ente gimana? Bukan hanya itu tok syarat jadi presiden. Tapi cari juga dong Banyu Purwita Sari,” sembur Kunti lewat telepon.

Puntadewa mak gragap, kaget. Banyu Purwita Sari, air bersih untuk menyucikan diri. So dalam Pilpres nanti setiap pasangan legawa untuk kalah dan menang. (*)

Oleh Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: