Lakone Hanuman Ambassador


Di wayang kulit zaman dahulu, ada lakon terkenal Hanuman Duta. Lakon itu kita pinjam sekarang. Judulnya saja kita sesuaikan menjadi Hanuman Ambassador.

Siang itu Hanuman tidak turut diangkat sebagai menteri suatu kabinet jilid II. Putra Dewi Anjani tersebut bukannya tidak kebagian apa-apa. Ramandayapati, nama lain Hanuman, ternyata didapuk sebagai duta besar.

Hanuman Duta bercerita tentang Raden Senggono, nama lain Hanuman, yang diangkat rajanya, Prabu Rama, sebagai duta. Tugasnya menyelenggarakan operasi intelijen. Operasi itu berkaitan dengan urusan tentang apa dan bagaimana kondisi Dewi Sinta, istri Rama, ketika diculik raja diraja raksasa si Rahwana.

Sedikit berbeda dengan Hanuman Duta, Hanuman Ambassador bercerita tentang kera putih putra Batara Guru, yaitu Hanuman, yang bertugas memata-matai segala sesuatu milik negeri yang diculik atau diambil bangsa lain. Misalnya air, tanah, mas-masan, minyak, gas, batu bara, timah, duit sekitar Rp 600 triliun hasil korupsi bank kasus BLBI yang konon berhamburan ke mancanegara. Termasuk para manusia berjenis kelamin Sinta, yakni kaum perempuan, yang diperah tenaganya menjadi TKI di negeri asing.

Dalam Hanuman Duta, ketika capek-capek berjalan dari Ayodya, kerajaan Rama, ke Alengka, kerajaan penculik si Rahwana, Hanuman berteduh di mulut sebuah gua dan dijebak intelijen Rahwana, Dewi Sayempraba. Sang Dewi semula tampak cantik. Hanuman yang sedang kehausan kepincut. Dia mau saja diajak mampir. Ndak tahunya, setelah masuk ke gua, Dewi Sayempraba berubah jadi Sarpakenaka, adik Rahwana, perempuan raksasa yang kukunya panjang-panjang.

Dalam Hanuman Ambassador, kera putih itu justru mengikhlaskan dirinya untuk mampir ke tempat Cangik dan Limbuk. Dua panakawan tersebut sehari-hari bekerja pada Kurawa.

Lho, Kurawa itu kan babak Mahabarata, sedangkan Dewi Sinta, Hanuman Ambassador, dan sejenisnya berupa babak Ramayana. Yang ngarang saja juga beda. Mahabarata dikarang Resi Wiyasa, Ramayana oleh Resi Walmiki. Apakah boleh dalam Hanuman Ambassador itu Hanuman ketemu Limbuk dan Cangik di tempat Kurawa?

Ya boleh-boleh saja. Masak Wayang Durangpo kalah kreatif dengan masyarakat Cirebon zaman dulu? Dalam wayang kulit Cirebon itu, saya malah menonton Hanuman dari Ramayana tidak saja pencilakan di Mahabarata. Bahkan, Hanuman bisa meloncat-loncat, garuk-garuk dan mere-mere, serta ikut berpendapat dalam suatu rembuk antar-Wali Sanga. Jadi, kalau adegan itu dilihat dari kejauhan, kostumnya seperti Pangeran Diponegoro dan tandak bedes.

Sekarang, dalam Hanuman Ambassador, sang Anjani Putra itu ujuk-ujuk sudah leyeh-leyeh dan sudah ketiduran di dipan, di beranda padepokan Limbuk dan Cangik.

Cangik: Anakku, Diajeng Nini Dewi Siti Miyabi alias Mar-Limbuk…

Limbuk: Opo Maaaaak….

Cangik: Bekas pacarmu yang dulu sering pakai duitmu, sering memindahkan baju-bajumu ke pegadaian, dan ndak pernah bisa menebus, sekarang sudah jadi menteri. Kok kamu nggak ada reaksi sama sekali? Susah ya ndak. Senang ya ndak. Eh mbok senang gitu lho… Senang siapa tahu sekarang pas sudah jadi menteri dia bisa menebus barang-barangmu yang di pegadaian sejak dulu kala, termasuk dua rantang makmu ini, dan satu gelang…

Limbuk, ah, Limbuk. Subur badannya seolah menjadi lambang dari perempuan yang tak mau ikut-ikutan mode dengan menguruskan badan. Limbuk tak merasa perlu diet sampai kerempeng seperti maknya, Cangik. Tokoh berperawakan makmur seperti itulah yang kini masih tak pejam-pejam memandangi Hanuman, kera putih yang ketiduran di karang kitri, tempat Limbuk-Cangik tinggal.

Limbuk memainkan logika sederhananya. Kalau ada monyet, ternyata hatinya tak ubahnya dengan hati manusia, berarti kemanusiaan itu tidak tergantung wujud. Kemanusiaan tergantung esensi. Sesuatu yang wujudnya bukan manusia bisa saja sebenarnya sudah manusia karena esensinya adalah manusia. Contohnya ya Hanuman itu.

Cangik: Ya ampyuuuun…Mbuuuuuk…mikirmu kok aneh-aneh dan jauh banget…Mikir itu yang biasa-biasa saja, tetapi langsung ada gunanya. Umpamanya, sekarang kamu bikin beras kencur, cabe puyang, sinom… supaya nanti kalau Mas Hanuman bangun, sudah banyak minuman yang segar-segar buat melaksanakan tugasnya sebagai ambassador.

Bagi Limbuk, apa yang sedang dipikirkannya justru hal yang biasa-biasa dan wajar-wajar saja. Limbuk jadi cepet-capet ingat gurunya dulu menerangkan teori Darwin. Menurut kaweruh itu, manusia berasal dari monyet. Setelah mengalami proses yang panjang, barulah monyet-monyet yang berkembang itu menjadi sosok seperti manusia hari ini.

Limbuk yakin betul pada teori itu, sampai akhirnya Hanuman mampir langsung ke padepokannya. Biasanya, selama ini Limbuk hanya melihat Hanuman di televisi dan koran-koran. Ternyata, ya itu tadi, kesimpulannya, teori Darwin perlu dikoreksi. Sesuatu tak selalu butuh proses waktu dari bentuk monyet ke bentuk seperti kita agar sesuatu itu bisa disebut manusia. Hanuman, biarpun wujud luarnya masih monyet, esensinya sudah manusia.

Hanuman masih pulas dan mulai ngorok.

Cangik tak mau kelihatan ketinggalan dari anaknya. Perempuan tua kerempeng berleher panjang (cangik) itu ternyata mempunyai jangkauan pemikiran yang lebih canggih ketimbang Limbuk. Maka, seketika menangislah Cangik.

Limbuk bingung.

“Kamu ndak usah bingung,” kata Cangik makin meledak tangisnya. “Mak jadi menangis begini karena terinspirasi oleh pikiranmu, Mbuk. Lho, kalau semuanya tergantung esensi, tergantung hakikat, tidak tergantung wujud, berarti makhluk-makhluk yang wujudnya sudah manusia belum tentu esensinya atau pada hakikatnya mereka sudah manusia…”

Limbuk penasaran. “Lha terus kenapa Mak ujuk-ujuk nangis?”

“Oalah Mbuuuuk, bagaimana tidak nangis, kalau nanti ternyata menteri-menteri yang diangkat oleh raja itu… ternyata… Wujudnya saja yang manusia, tapi esensinya belum menjadi manusia…”

Belum selesai Cangik menumpahkan unek-uneknya, Limbuk terhenyak, tersadar, lalu ikut-ikutan menangis. Ia takut betul jika memang menteri-menteri angkatan terbaru ini nanti ternyata kebalikan Hanuman. Yaitu, sosoknya saja yang tampak sudah kayak manusia, tetapi esensinya belum bisa disebut manusia.

Kaget oleh gabungan tangis Cangik-Limbuk, terbangunlah si Kera Putih dalam Hanuman Ambassador.

“Sori, saya ketiduran. Ketiduran. Daripada kurang tidur. Karena kalau kurang tidur sedikit saja, saya tidak bisa mikir. Tidak bisa mikir karena kurang tidur. Sekarang saya sudah cukup tidur. Sekali lagi terima kasih. Sekarang saya sudah bisa mikir dengan jernih bagaimana langkah selanjutnya saya selaku ambasa… Kok kalian menangis?”

Limbuk dan Cangik saling melirik. Hanuman keburu gede rasa. Dikiranya, Limbuk dan Cangik menangis karena tak kuasa menghadapi perpisahan. Maklum, Hanuman terpaksa harus melanjutkan perjalanan, menjalankan misinya sebagai ambassador. Ia harus mengembalikan seluruh aset negara yang hengkang ke luar negeri pada saat para menteri dijabat oleh makhluk-makhluk yang sosoknya saja mirip manusia, tapi kelakuannya bukan manusia. Misalnya kelakuan main obral aset negaranya untuk keperluan pribadi.

Limbuk dan Cangik memburu Hanuman yang sudah menyandang ranselnya dan jalan sampai ke gapura dusun… “Kalau wujud-wujud manusia yang sekarang diangkat jadi menteri… Mereka esensinya sudah manusia?”

Hanuman menghentikan langkah kakinya. Meletakkan ranselnya di jalan tanah. Membuat bentuk corong dengan kedua tangannya dan membisikkan sesuatu pada Limbuk dan Cangik.

Bagaimana reaksi Limbuk-Cangik? Para pembaca pasti sudah tahu jawabannya. (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: