Limbuk Manuhara


MATAHARI baru separo mentingis. Tapi, kegemparan sudah terjadi. Puluhan SMS memberondong ponsel Narada. Isinya sama. Mereka komplain atas getaran tari Cangik dalam bertapanya. Seluruh jagat kena demam menari.

”Maya, ini tak bisa didiamkan,” ujar Narada via ponsel. Tanggap, Manikmaya segera menuju garasi. Si driver yang agak liyep-liyep di-jendul-nya. ”Asyik, bos… Mau triping lagi ya?” kata si driver sedikit slebor. Mobil berjalan ajrut-ajrutan ke pondok Narada. Dalam pertemuan singkat, Narada diminta menemui Cangik.

Eh, saat ditemui, Cangik kipat-kipat. Tangan Narada yang coba menghentikan tapanya segera ditepis. ”Jangan harap gue mo brenti kalau dewa kagak kasih gua keturunan yang kinyis-kinyis sempurna,” teriak Cangik berkali-kali.

Narada sejenak merenung, mencoba menembus prediksi ke depan. Akhirnya, dia sebagai wakil dewata membubuhkan ACC. Seketika itu juga, Cangik berhenti menari. Dia limbung dan pingsan. Lhadalah, ujug-ujug dia jatuh dan ditangkap Parto Gecul, suami tersayang. Yahuuuu, malam ini lembur, dah, batin Parto Gecul.

Singkat kata, Cangik udah hamil bulan ke sembilan. Juru kamera Ngamarta TV, pemadam kebakaran, aparat keamanan, dukun bayi, pawang hujan, hingga pembawa kotak-kotak sumbangan dan penjual kacang rebut menyemut di sekitar kediaman Cangik. Seluruh jagat was-was menanti bayi Cangik yang keelokannya sudah dijanjikan para dewa.

Tengah malam, berbarengan dengan rembulan yang lingsir, mak broll, bayi Cangik lahir. Tak lama, dalam acara Ngamarta Breaking News, wajah Limbuk Manuhara, bayi itu, langsung menghiasi kotak kaca seantero jagat. Dan betul, hari demi hari, aura kecantikan Limbuk Manuhara kian bulat utuh. Rambutnya bergelombang, kulit mulus, bibir tipis dihiasi rambut halus. Nada bicaranya yang mendayu-dayu selalu membuat pria nggayer-nggayer. Bukan hanya fisik, Limbuk Manuhara pun menjadi langganan pemenang ajang putri-putrian. Di sekolah, dia selalu juara kelas. Kesempurnaan itu juga yang membuat Bagong, teman sekelasnya, naksir berat.

Suatu siang, saat Bagong sedang ngisis, dia bayangkan sing ora-ora. Lamun tresna kula, it is a big mistake…Abaikan dan buang di tepian jalan. Agak ndredeg, Bagong tekan tombol send. Ya, begitulah Bagong. Keberaniannya terbatas pada SMS. Bukan harta, bukan wajah, tapi keteguhan hati, modalnya. Begitu SMS Bagong berikutnya.

Tiba-tiba, Bagong merasa ada getaran di dekat pusat celananya. Drett-drett, oalah, handphone-nya. Pada layar yang berkedip-kedip ada nama Limbuk Manuhara. Bagong semringah. ”Sapa neeh?? Oalah, Bagong, ta? Wis, ra sah macem-macem!! Limbuk sudah dijodohkan sama Prince Warrior,” kata suara di seberang sana. Blaik!! Ternyata Cangik! Bagong gemeter. Ternyata, ponsel Limbuk tertinggal di ruang tamu dan dipegang Mamah Cangik.

***

One day, sebuah bus pariwisata memasuki kampung yang dijadikan percontohan internasional. Limbuk Manuhara termasuk salah satu lady escort-nya. Kecantikannya memanah hati Pangeran Kuda Lanang. Sinyal-sinyal itu ditangkap Limbuk. Tanpa pikir panjang, Limbuh yang baru melepaskan masa ABG itu langsung hooh. Disaksikan warga, perkawinan dihelat. Mempelai putri pun diboyong ke ranah Kuda Lanang.

Di tanah yang baru, lenggak-lenggok di catwalk semakin menjadi-jadi. Bahkan Limbuk Manuhara menjadi top model. Lalu malam itu, saat ada di peraduan sendiri, Sang Pangeran menonton televisi. Ndilalah, ada gosip syur tentang Limbuk Manuhara. Sang Pangeran emosi sak dada. Baru saja Limbuk masuk kamar, plakk!!, tamparan tepat mendarat di pipi halusnya.

”Diamput!! Diomongi ngeyel! Di mana martabatmu? Peraturan di sini lain. Ketat. Tinggalkan semuanya sekarang,” teriak Sang Pangeran. Dengan cepat, diiringi sesenggukan yang tiada habis, Limbuk packing dan go home.

Sehari, seminggu, Sang Pangeran mulai kesepian. ”Teklek kecemplung kalen, Bos. Daripada kedinginan,” seloroh jubir kerajaan. Gayung bersambut. Welcome party pun diadakan di istana Kuda Lanang. Sebagai seorang yang biasa beraktivitas, Limbuk Manuhara sekarang seperti burung dalam sangkar emas. Hanya jendela internet tempat dia mengekspresikan diri.

Seperti waktu itu, saat Limbuk online facebook, Bagong juga online. Sesekali, dia menyunggingkan senyum membaca celoteh Bagong. Balas-balasan kalimat jenaka terjadi di antara dua insan itu melalui jendela monitor komputer. Jari-jari Limbuk kian lincah menari pada keyboard. Eh, di belakangnya berdiri Sang Pangeran yang membaca semua yang sudah dia tulis. Tangan kokoh Pangeran merebut laptop itu. Brakk, barang itu hancur berbarengan dengan pecahnya hati Limbuk. Tak berhenti sampai di situ, Sang Pangeran tega menyayat-nyayat tubuh Limbuk Manuhara dengan pisau dapur. Air mata Limbuk menetes pedih. Dan lagi-lagi, adegan go home jadi pemungkas.

Memang love is blind alias cinta itu buta (dudu Buta Cakil, lho), Sang Pangeran balik menjemput. Kali ini lengkap dengan janji hitam di atas putih bahwa Limbuk tak bakal lagi disakiti. Setengah dipaksa Cangik, dengan berat hati, Limbuk Manuhara menerima. Perasaannya kian depresi, tertekan. Kecantikannya mulai luntur digerus waktu. Sementara, Sang Pangeran kian awet muda. Dia punya banyak girlfriend di mana-mana.

Kabar itu juga yang akhirnya sampai di telinga Limbuk Manuhara. Diam-diam dan tanpa air mata, Limbuk nylintis pergi tanpa pamit, pulang. Dalam pesawat, matanya tertarik pada sebuah majalah yang menceritakan perjalanan model Miss Manohara yang tersiksa aturan yang ketat. Dia langsung SMS Pangeran, minta untuk break dulu sampai tumbuh kedewasaan dan kemandirian di antara mereka.

Cinta itu ora keliru…Ia menjadi keliru ketika cinta berubah menjadi nafsu ingin menguasai yang mutlak. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: