Luna Sembadra

DERU musim hujan bercampur badai. Suaranya menggetarkan pohon dan dedaunan. Di antara suara itu, terselip dengus napas Burisrawa yang tersengal-sengal. Terlihat, ia sedang ndekem di kamarnya. Dia asyik dengan laptop-nya yang sedang online.

Lagu wajib gandrung ia senandungkan. Mbok Bodrooo, oh my love…. Dia lantas login dan klik, ada yang menyapanya di jalur chatting. Nick-nya Wulan Beauty. Buris membaca sekilas, sreett, lalu, percakapan hangat yang ”menjurus-jurus” terjadi di antara mereka.

Burisrawa begitu penasaran pada sosok Wulan Beauty yang begitu kenes dan ngeres itu. Dia lalu tulis namanya di google. Akhirnya, keluarlah sebuah situs yang menawarkan gadis-gadis ciamik soro. ”Jabang bayik, asyik betul,” seru Buris dalam hati. Ini web online yang menawarkan artis-artis yang bisa ditiduri dengan membayar jutaan.

”Ini seleraku!” ujar Burisrawa. Namun, seruan itu tertahan saat melihat foto yang begitu dikenalnya. Luna Mbodro!!! Ya, betul. Luna Sembadra, putri negeri Dwarawati, gadis yang begitu diidolakan. ”Kurang ajar betul celeng yang membuat situs ini. Mosok mbok mBodro-ku bisa ditiduri hanya dengan membayar Rp 100 juta,” gerutunya.

Hati Burisrawa jadi panas. Tidak mungkin Luna Mbodro tidur di pelukan laki-laki lain demi duit dan ketenaran. Dalam sekejap, tutup laptop ditutup. Burisrawa langsung berangkat menemui Prabu Kresna memakai GL-Max setianya.

Bayangkan, tubuh berbobot 2 kuintal naik GL-Max. Sepeda motor gagah itu pun terasa mini ketika dikempit dua paha yang lebih besar daripada jok motor itu (bukan, ini bukan tentang dalang Wayang Lindur. Ini tentang Burisrawa, hehe).

Suara mesin itu rasanya kalah keras dibanding gemeretak gigi Burisrawa yang membayangkan Luna sudah dalam pelukan laki-laki lain.

Saat berhenti, Burisrawa agak grogi. Dia mau ngerem, motornya terus melaju. Maklum, Burisrawa berbobot dua kuintal. Jebruk!! Akhirnya Burisrawa berhenti setelah masuk pasir bekas bangunan di jalan. Memasuki gerbang Dwarawati, Burisrawa dihadang Setyaki, satria Swalabumi, yang brengosnya sak kepel.

”Hari ini Dwarawati tertutup bagi siapa pun. Jangankan manusia, semut pun tak boleh masuk,” tegas Setyaki sambil menenteng Gada Wesi Kuning, setengah mengancam. ”Idiih, sapa takut? Emang lu aja yang bisa berkoar?” sahut Burisrawa. Setyaki pun kebingungan. Ada wayang gede-sangar kok ngomongnya pakai idiih. ”Saya cuma pengen tahu, apakah betul Sembadra itu cewek pangg..,” ujar Burisrawa. Belum rampung kalimat itu, Setyaki langsung menyerang.

Memang, pihak Dwarawati sudah mendengar gosip miring di internet tentang Luna Mbodro. Karena itu, keamanan kerajaan pun ditingkatkan. Meski begitu, Burisrawa tak ciut nyali. Dia langsung ladeni perkelahian itu. Perang dua musuh bebuyutan itu tak terhindarkan.

Burisrawa terlihat menutup kepalanya dengan helm dari hujan serangan gada. Melihat ada celah, giliran Burisrawa menghujani Setyaki dengan pedang beracun. Bau upas yang kuat membuat Setyaki batuk-batuk. Paru-parunya mulai tercemar. Mendadak Setyaki melesat jauh ke udara dan tiba-tiba meluncur ke bawah. Dia mengincar pusat leher Burisrawa. Tak ingin menjadi sasaran empuk, Burisrawa langsung lari terbirit karena ia tahu cekikan Setyaki berbahaya. Sambil lari, Burisrawa memaki-maki. ”Setyaki kunyuk! Cuma cari info saja diserang,” ujarnya sambil nyengklak motornya.

Meski terlihat mundur, Burisrawa tak patah semangat. Dia terus cari jalan menuju Dwarawati. Tekadnya sudah bulat. Ia harus ketemu Sri Kresna, kakak Luna Mbodro. Secepat kilat ia buka PDA dan segera buka Google map. Sekarang ia bisa tahu detail rumah Kresna. Setelah yakin, ia beli semua peralatan yang dibutuhkan, termasuk payung ajaib.

Burisrawa lantas berkeliling di benteng keraton. Ia putuskan memanjat pohon untuk bisa sampai tempat Sri Kresna. Tubuh Burisrawa bermandi peluh saat naik pohon. Dua kakinya agak sakit terkena guratan pohon dan kulit di bagian pundak agak perih tergores ranting. Namun semua tak ia rasakan. Tubuh gemuknya tak jadi penghalang hingga sampai ke pucuk pepohonan..

Payung ajaib terbuka. Burisrawa jejakkan kaki ke batang pohon swiiiuut, dengan payung ajaib ia terbang memasuki rumah Kresna. Saat Burisrawa mendarat, ia telah dikepung pasukan Dwarawati. Kresna muncul dan menyapa sambil tersenyum mendekati Burisrawa yang cuma bisa bengong.

”Burisrawa, ketahuilah, Luna Bodro bukan cewek panggilan. Gosip internet hanya sensasi murahan, Percayalah padaku,” ucap Kresna mantap.

Burisrawa sangat lega. Wanita pujaannya tetap wanita yang baik. ”Oohh Mbok Boodroo, ” senandungnya. Ia pegang tangan Kresna. Tangan itu dicium sekalian minta pamit.

Seperginya Burisrawa, Kresna berbalik badan dan menatap tajam mata Setyaki dan Raden Samba, putranya, yang sedang minta kejujuran. Kresna berusaha tenang. ”Aku sendiri belum tahu pasti apakah berita di internet benar atau fitnah. Tapi itulah risiko Luna Mbodro jadi artis top,” ujar Kresna. Setyaki dan Samba hanya tundukkan kepala. Mereka sadar, nama Luna Mbodro sudah menjadi ikon di dunia bisnis yang kadang kotor. (*)

Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: