Maaf Lahir dan Batin

SINAR matahari seketika redup. Angin enggan berembus dan burung-burung mengatupkan paruhnya. Pandawa kalah dadu. ”Pegi..sono Lu! Pegi kagak?? Sana jauh-jauh, buduuuk,” ejek Duryudana sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah pintu.

Yudhistira tertunduk lesu, Arjuna memerah wajahnya. Sementara Werkudara nggerung gemetar mengepalkan tangannya. Lunglai, Pandawa keluar gedung Pasamuan Agung. Ribuan tatapan mata seolah menghakimi kekalahan mereka bermain politik. Ditemani cecerucet Srigunting, Pandawa akhirnya mendirikan gubuk sederhana di tepi telaga hutan Dandaka. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya.

”Bos.. kemenangan kita harus dirayain, nich Boss. Gue have a good idea. Priben?” bisik Sengkuni. Mereka segera masuk ruang pribadi Duryudana, bicara empat mata.

Keesokan harinya, program PNPM (Perkemahanku Nyaman Perkemahanku Meriah) diluncurkan. Dana sak miliar digelontorkan, seratus Kurawa dikerahkan. Cause sarat visi dan misi, lokasi yang dipilih seratus meter dari gubuk derita Pendawa. Di situ, kemah moblong-moblong full AC didirikan. It’s Show Time!! Kambing guling dipesan langsung dari Australia. Bacem paha unta khusus didatangkan dari Iraq.

”Kakang, perutku, lapar. Lapar, Kakang,” desis Werkudara yang ngiler membaui wangi masakan yang terbawa angin dari kemah Kurawa. Puntadewa secara arif menenangkan Werkudara dan menyodorkan rebusan ketela pohon.

Tet jam tujuh tepat, acara dimulai. Duryudana rakus menghabiskan sepotong paha unta. Daging gede itu sekejap ludes. Sisa potongannya dilempar jauh ke arah jam sembilan. Praak, hantaman kaki Werkudara mapak arah jatuhnya tulang. Pletak, wuaduh, sisa tulang paha kambing betotan Dursasana yang dilempar tepat mengenai jidat Nakula. Cekatan, dengan daun jati Arjuna membersihkan bercak minyak di beberapa bagian tubuh Nakula.

Begitulah tata cara makan ala Kurawa malam itu. So, dalam hitungan detik, gubuk Pandawa menjadi hujan tulang. Sraaak, sebilah panah Hardadedali dilepas Arjuna dalam emosi yang memuncak. Panah itu telak menancap di sisa kepala kambing. Kurawa langsung berlompatan siaga. Duryudana melihat ada secuil kertas di ujung panah. Kami tak akan makan dari barang haram. Kami hanya makan apa yang telah di sediakan alam. Bunyi SMS lewat anak panah itu. Tangan Duryudana terkepal. Dia geram pantaran godaan pertamanya gagal.

Party must go on! Di tenda kecil yang terlihat paling luks di antara yang lain, Sengkuni kembali rancang strategi. ”Bos, gak sah mbededeg gitulah. Rasane kita perlu hiburan, biar kendor nich urat,” bisik Sengkuni sambil memijit bagian pundak Duryudana dari belakang. Duryudana dingin tak berkomentar. Kegaduhan hatinya disalurkan lewat tangannya yang terus memindah saluran tivi. Berhenti karena tertarik acara obrolan santai bergaya ke Oprah Winfrey-Winfrey-an.

Akhirnya, tak seberapa lama, perkemahan itu penuh teriakan histeris dan tepuk tangan ala monyet. Saudara kembar mereka, Tukul Arwana, masuk dengan malu-malu. ”Puas..puas? Saya bangga berdiri di sini, paling ngganteng di antara kalian, katro semua!” ejek Tukul. Seratus Kurawa langsung keras terbahak-bahak terdengar sampai radius sak kilo meter. ”Saya juga paling genap otaknya di antara kalian. Daripada yang di sana kurang sak setrip,” tambah Tukul. Semakin malam, tawa mereka semakin keras tur sampai terkencing-kencing. Bukan hanya polusi suara juga polusi udara, bau jengkol lagi.

Dengus napas Werkudara lebih cepat dan terdengar berat. Arjuna berjalan bolak-balik tak jelas. Konsentrasi mereka terganggu kelakar tawa. Sadewa yang sedang research mengubah daun jati jadi rasa daging menghunus anak panah. Dengan berlari keluar gubuk, anak panah itu dia lepaskan. Tuing! Anak panah bersarang tepat dua mili di bawah bagian vital Dursasana yang menggigil dan berkeringat dingin ketakutan. Sekejap semuanya menahan napas. Duryudana sigap meloncat keatas, diraihnya secarik kertas di ujung panah. Tahukah kalian, hiburan kami hanya bermunajat kepada-Nya, bunyi tulisan dalam tinta emas. Duryudana emosinya sak gulu karena godaan kedua untuk Pandawa sia-sia.

”Ini tak bisa didiamkan. Persiapkan diri kalian semua. Kita sikat Pandawa dan tunggu komando!” teriak Duryudana. Para Kurawa bubar. Baju zirah segera mereka kenakan dan dikamuflasekan dengan men-cantel-kan dedaunan. Senjata tajam mereka hunus. Untuk memata-matai pergerakan musuh, radio komunikasi tergendong di punggung. Durmogati diturunkan awal membuka jalan.

Di pihak lain, Pandawa masih asyik menikmati buah pisang yang mereka petik di pinggiran hutan. Pelan, Kurawa merayap mendekati sasaran. ”Serang!” teriak Duryudana. Njenggirat, Pandawa pasang kuda-kuda. Dari sisi kanan, dengan tombak tajam, Durmogati merangsek. Gedabrug, Durmogati jatuh gulung-gulung menginjak kulit pisang. Dari radio komunikasinya terdengar suara takbir yang membahana.

Puntadewa ambil inisiatif salami Kurawa satu per satu diikuti Arjuna, Werkudara, Nakula, dan Sadewa. Mereka minta maaf lahir batin. ”Oalah,.. bagaimana menyerang lawan yang dingin dan memaafkan gini? Yo ayo mulih saja,” ujar Dursasana. Sembilan puluh sembilan Kurawa tak jadi menyerang dan pulang, kecuali Duryudana yang berkacak dengan congkaknya. Werkudara dekati Duryudana dan menegur dengan gaya santri. ”Jangan buat kekerasan di hari kemenangan. Hari raya, Bro,” ucap Werkudara. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: